Now Loading

Sujiono Makin Berani

Rombongan kembali bergerak mengikuti Sarjum ke ladang kosong di belakang desa. Sepanjang perjalanan nyaris tidak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. 

“Tunggu di sini!” perintah Sarjum ketika mereka tiba di ladang kacang. Di seberang ladang itu terdapat ladang kosong. Bahkan rimbunnya pohon randu sudah terlihat dari tempat mereka, meski samar-samar.

“Kita langsung ke sana saja,” ujar seseorang menolak perintah Sarjum. Rupanya dia curiga Sarjum tengah menyusun rencana lain. Kecurigaannya semakin menjadi-jadi ketika dilihatnya Sarjum seperti tengah memberi isyarat kepada seseorang di bawah pohon randu.

“Bukankah itu Mbah Rono?!” seru Sujiono.

“Pantesan Sarjum melarang kita langsung ke sana. Rupanya dia bersekongkol dengan Mbah Rono!” tuding lainnya. Serentak warga mengacungkan goloknya ke arah Sarjum. Karuan saja Sarjum panik dan langsung mengambil langkah seribu. 

Sujiono dan teman-temannya berusaha mengejar. Namun langkahnya mereka kalah cepat. Tubuh Sarjum hilang bak ditelan bumi. 

“Mungkin Sarjum pulang. Ayo kita kejar ke rumahnya!”

“Jangan!” cegah Sujiono. Matanya kita tertuju pada pohon randu. Laki-laki tua yang tadi sempat dilihatnya sudah tidak ada lagi di sekitar pohon itu. “Lebih baik sekalian saja kita tangkap Mbah Rono!”

“Hush, saya tidak ikut,” sergah salah seorang dari mereka. Nada suaranya begitu ketakutan.

“Iya, saya juga tidak ikut!”

“Bisa-bisa kita disantet!” 

“Kalau tidak mau ikut, ya sudah, pulang sana!” bentak Sujiono kesal. Dia langsung melompat dan setengah berlari menuju pohon randu. Terpaksa yang lain mengikuti meski sambil ngedumel. Mereka tahu siapa Mbah Rono dan resiko apa yang bakal dihadapi jika sampai melawannya. Banyak kematian di desa yang masih misterius dan semua meyakini itu ulah Mbah Rono. Minimal ada yang mengorder pada Mbah Rono untuk membunuhnya. 

‘Mbah Rono tidak ada,” seru seseorang tanpa bisa menyembunyikan kegirangannya. Seruan itu langsung bersambut dengan kegembiraan. Rasa lega karena tidak harus berhadapan dengan dukun santet membuat mereka lupa pada tujuannya.

“Kita mau menangkap Mbah Rono, bukan mau mengusirnya,” bentak Sujiono kesal.

“Tidak usah nyari penyakit!” sahut seseorang. “Kita cari Parman saja.”

“Tapi pasti ini ada hubungannya. Mbah Rono tahu arwah siapa yang merasuk dalam diri Parman.”

“Arwah Bawor!”

Sujiono dan teman-temannya spontan menoleh pada asal suara itu. Mata mereka langsung tertumbur pada sosok anak kecil di sampingnya. 

“Siapa kalian?"

“Saya Trimo. Itu Ijal dan Jarwo.”  

“Sedang apa di sini?”

“Menunggu Lik Parman,” sahut Trimo.

Kening Sujiono berkerut. Mereka merapat dengan antusias. Namun ditunggu hinngga beberapa saat, ketiga bocah itu tidak melanjutkjan penjelasan soal Parman. 

“Dari mana kalian tahu arwah Bawor yang merasuk ke dalam tubuh Parman?” tanya Sujiono. 

“Tadi kami yang main jelangkung. Tapi…aduh!” Trimo memikik karena kakinya diijak oleh Jarwo. 

“Ada apa ini?” seru Sujiono. 

“Jarwo yang mendalangi semua ini,” seru Trimo sambil meringis kesakitan.

“Bohong!” bantah Jarwo.

“Nah… nah. Siapa yang bohong ini? Ayo, kalian harus jujur!” seseorang berseru sambil menyorotkan lampu senter ke wajah ketiga anak itu secara bergantian.

“Benar, Jarwo yang menyuruh kita main jelangkung,” kata Trimo. Ijal mendukungnya dengan anggukkan kepala. Otomatis seluruh mata kini tertuju pada Jarwo. 

 “Siapa yang menyuruhmu?” sergah Sujiono tak sabar.

“Mbah Rono, kan?” tuding lainnya.

“Benar, Jarwo anak buah Mbah Rono,” timpal Trimo. Ia sudah bergeser posisi, bergabung dengan Sujiono dan teman-temannya, menghadap ke Ijal dan Jarwo. Trimo kini merasa berada di posisi yang tepat untuk membalas kematian bapak. 

“Sekarang bagaimana caranya memanggil Parman?” desak Sujiono pada Jarwo. 

Jarwo tidak menjawab. Kakinya gemetar.

“Kamu harus bertanggung jawab!” desak lainnya.

“Kamu harus panggil Parman!”

“Saya tidak tahu caranya,” kata Jarwo.

“Suruh Mbah Rono yang memanggil”

“Mbah Rono sudah pulang,” jawab Jarwo.

Hening