Now Loading

Menghitung Nasib

Trimo meradang ketika melihat kedatangan Ijal dan Jarwo. Ia berdiri dan langsung menyosong sebelum keduanya masuk. 

“Semua gara-gara kalian!” teriaknya sambil menangis. 

“Tenang, Mo, jangan marah-marah begitu.”

“Aku juga bingung mengapa jadi begini,” timpal Ijal. 

“Kalian pura-pura saja!” sentak Trimo. “Sekarang kalian senang bapakku sudah mati!”

“Tenang… tenang,” bujuk Ijal sambil membawa Trimo ke samping rumah. Jarwo dan Ijal takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. “Aku berjanji akan menemukan Kang Parman!”

“Iya, Mo, saya akan cari Parman dan membunuhnya,” timpal Jarwo. Namun setelah itu membuang muka. Kalimatnya spontan terucap dan belakangan Jarwo ragu apakah berani melawan Parman. 

Bukan saja usianya terpaut jauh, namun badannya juga kalah kekar. Sebagai tukang becak, tubuh Parman sangat berotot. Kakinya yang hitam legam seperti galih kayu. Mungkin tidak mempan kalau ditebas pakai arit, keluh Jarwo dalam hati. Namun ucapan itu sudah terlanjur dilontarkan sehingga malu untuk menariknya kembali. Apalagi kemudian Trimo seperti bisa menerima janjinya sehingga tangisnya reda. 

“Iya, Mo, kita harus mencari dan membunuhnya seperti dia membunuh bapakmu,” kata Ijal ketika dilihatnya Jarwo begitu tertekan dengan ucapannya.

Trimo mengangguk.  Ia kemudian mengajak mereka ke belakang rumah untuk mengambil dua sabit dan satu parang yang sudah berkarat lalu memberikan kepada temannya sambil berkata, “Ayo kita cari Kang Parman!”

Bergegas ketiganya pergi di tengah kegelapan malam. Sesekali mereka masih mendengar tangisan emak Trimo. Setelah agak jauh, suara tangisan terdengar dari tempat berbeda. Kali ini dari rumah Diman.

“Mengapa rumah Pak Diman juga ramai?” tanya Trimo.

“Pak Diman juga mati.”

“Mati?”

“Iya, dibunuh Parman juga,” terang Jarwo.

“Tunggu!” bisik Trimo dengan penuh tekanan. Suaranya masih sengau dan sesekali tersengal. “Dari mana Parman mendapatkan senjata …”

“Golok,” lanjut Ijal.

“Kamu tahu dari mana Kang Parman membawa golok?” tanya Trimo. Tiba-tiba nadanya berubah.

“Tadi sewaktu kamu pulang, kami ke rumah Pakde Karjo. Ada yang melihat Parman bawa golok. Kenapa?” kata Ijal balik bertanya.

“Dari mana Kang Parman mendapatkan golok itu?”

Seperti tersadar, Jarwo dan Ijal saling berpandangan dalam gelap. Ya, dari mana Parman mendapatkan golok? Apa mungkin Parman mengambil golok dari rumahnya? Rasanya tidak mungkin karena rumah Parman cukup jauh dari sini. Meski sudah punya anak satu, tapi Parman masih tinggal bersama orang tuanya. Istrinya yang kurus dan pucat sedang hamil. Trimo mengenalnya karena istri Parman sering ke sawah mencari gendot untuk disayur. 

“Waktu kamu minta mantra jelangkung, apa kata Mbah Rono, Jal?” tanya Trimo. 

“Memangnya kenapa?” Jarwo  bertanya sebelum Ijal menjawab. Sorot matanya mencoba mencari bola mata Trimo namun tidak berhasil. Malam terlalu pekat. Angin utara berhembus membawa gumpalan awan hitam. 

“Apa kata Mbah Rono?” desak Trimo. Meski bukan siswa terpandai di kelas, namun nilai rapor Trimo masih lebih bagus dibanding kedua temannya. Trimo menutupi otaknya yang pas-pasan dengan rajin belajar. Mungkin juga karena pengaruh bapaknya yang tangannya gampang melayang ketika Trimo malas-malasan belajar. 

“Dia tidak bilang apa-apa,” jawab Ijal, akhirnya.

“Mustahil,” bantah Trimo. “Masa kamu tidak ditanya-tanya.”

“Maksud kamu?”

“Ya harusnya Mbah Rono tanya untuk apa minta mantra jelangkung, siapa yang menyuruh dan …”

“Panjang amat pertanyaanmu,” potong Jarwo, kesal. “Sudahlah, tadi Ijal sudah bilang Mbah Rono tidak bilang apa-apa, ya sudah!”

“Soalnya aku penasaran dari mana Parman mendapat golok yang dipakai untuk membunuh bapakku!” tandas Trimo seolah meminta pengertian karena hal itu menyangkut kematian bapaknya. 

Jarwo tidak berani buka mulut lagi. Ia takut Trimo kembali meradang. Anak bertubuh besar itu lantas mempercepat langkahnya. Ijal mengikuti. Mau tidak mau Trimo berusaha menyusul. Namun ia tidak tahu ke mana tujuan kedua temannya.

Tiba di bawah pohon randu, di tengah tegalan di belakang desa, mereka berhenti tanpa dikomando. Mereka saling berdiam diri seperti tengah menunggu sesuatu. 

“Mbah Rono bilang semua arwah yang merasuk dalam jelangkung berasal dari sini,” kata Jarwo.

“Kapan kamu ketemu Mbah Rono?” tanya Trimo cepat. Lebih cepat dari seekor curut yang lari meninggalkan batang pohon randu yang sudah lama luruh karena karena kepalanya nyaris terinjak kaki Trimo.

“Saya sudah sering ketemu.” 

“Kalau kamu sudah sering ketemu, mengapa kemarin menyuruh aku?” serang Ijal tak senang. “Katanya kamu takut ke rumah Mbah Rono, tapi sekarang mengaku sering ketemu!”

“Mbah Rono sedang mencari murid baru.”

“Murid?” seru Trimo, takjub. “Murid apa?”

“Yang mau diwarisi ilmunya,” jawab Jarwo serius.

Bola mata Trimo membesar. Namun kedua kawannya tidak melihat. 

“Kamu sudah menjadi muridnya? Sejak kapan?” berondong Trimo.

“Sudah lama. Tapi sudahlah. Jangan bahas itu lagi,” elak Jarwo tak senang.

“Tapi kenapa kamu menyuruh Ijal jadi muridnya?”

“Siapa yang menyuruh?” balas Jarwo.

“Kamu menyuruh dia ke rumah Mbah Rono. Bukankah tujuanmu supaya Ijal jadi muridnya?!” kejar Trimo.

Jarwo menghela nafas pendek. “Itu kalau dia mau!”

Hening. Dua ekor gagak pulang, menyeru kekalahan. 

“Aku baru ingat,” kata Ijal tiba-tba.  “Kemarin Mbah Rono bilang akan ada ramai-ramai di kampung kita.”

 “Maksudnya?” Alis Trimo menyatu meski tidak terlihat oleh lawan bicaranya. 

“Aku tidak tahu apa maksudnya. Mungkin ini ada kaitannya dengan Kang Parman,” guman Ijal.

Trimo mendadak menghadap ke samping kanan, menatap wajah Jarwo. Tubuhnya kembali bergetar. Bukan karena hawa dingin musim kemarau, namun karena emosinya kembali tersulut. Keyakinan Jarwo ada di balik peristiwa ini, dengan cepat memompa aliran darahnya.

“Katakan yang sebenarnya, Wo! Semua sudah diatur oleh Mbah Rono, kan?” kata Trimo dengan suara bergetar.

“Aku tidak tahu!” jawab Jarwo sambil mengalihkan wajahnya dari tatapan Trimo.

“Bapakku dijadikan tumbal oleh Mbah Rono, kan?” desak Trimo.

“Rencananya bukan seperti itu ...”

“Seperti apa?” sambar Trimo dan Ijal serentak.

Jarwo kebingungan. Andai siang hari, Trimo pasti akan lebih meradang karena bisa melihat wajah temannya yang gelisah. Kentara sekali Jarwo menyimpan rahasia dan ia ketakutan akan terbongkar. Jarwo semakin ketakutan karena arwah jelangkung sudah memakan tiga korban. Mbah Rono tidak pernah cerita soal korban. 

“Apa rencana Mbah Rono, Wo?” desak Trimo lagi.

“Aku ... aku… ughh!”

“Kenapa Wo?” tanya Ijal melihat Jarwo gelagapan.

“Aku... aku… Sudahlah, sekarang kita cari Parman saja!” 

“Sebenarnya ada apa, Wo?” desak Trimo.

“Jika Parman sudah ketemu, aku akan ceritakan semuanya,” janji Jarwo. 

Meski rasa penasaran masih mengumpal, Trimo sedikit terhibur mendengar janji Jarwo. Menemukan Parman jauh lebih penting daripada terus mendesak Jarwa,  pikir Trimo. Toh, setelah Parman ketemu, dengan sendirinya semua rahasia akan terungkap.

“Di mana kita mencari Parman?” tanya Trimo setelah berhasil menenangkan diri.

“Dia pasti akan ke sini.”

“Kapan?” 

“Paling lambat menjelang Subuh,” jawab Jarwo, mantap.

“Berarti masih lama,” guman Ijal.

“Paling lama, artinya bisa saja sebentar lagi,” sahut Jarwo tak senang. Ijal pun sekarang berpihak pada Trimo, batinnya. Ia meraba gagang sabit. Jarwo mulai menghitung nasib.