Now Loading

Pohon Tua

Pukul 00.35

Manto dengan ditemani lima warga menuju ke pohon asam tua di ujung jalan desa, dekat pemakaman. Masing-masing membawa golok di tangan kanan dan senter di tangan kiri. Hanya ada dua kemungkinannya: membunuh atau dibunuh oleh Parman. 

Tekad itu membuncah dalam dada. Namun selepas jembatan bambu, tekad itu mulai mengendur dan ketika tiba di jalan menuju ke pohon tua, sudah tidak bersisa lagi.

“Hati-hati, To,” bisik Sujiono sambil mencolek pundak Manto.

“Pohonnya masih jauh, belum kelihatan. Ayo jalan saja,” balas Manto tanpa menoleh. Namun tak urung langkahnya ikut melambat. 

“Apakah kamu yakin Parman ada di pohon itu?” tanya lainnya. 

Manto menggeleng, pelan. Orang yang tadi bertanya tidak melihatnya, namun juga tidak mempersoalkan. Pertanyaan itu hanya lontaran rasa takut tanpa ada keinginan untuk mendapat jawaban.

“Jangan asal sorot!” bentak Manto ketika salah satu dari mereka menyorotkan sinar senternya ke arah pohon. “Nanti saja kalau sudah dekat. Jangan sampai Parman mengetahui kedatangan kita.”

Kini jarak mereka dengan pohon tua yang dituju sudah dekat. Pohon itu berukuran lumayan besar. Batang pohonnya hampir dua kali badan laki-laki dewasa. Meski tidak banyak memiliki dahan dan ranting- hanya di bagian atas, namun pohon setinggi 15 meter lebih itu tetap menyeramkan. Terlebih jika dilihat dalam gelap seperti sekarang ini. Sudah banyak warga yang bersaksi pernah melihat berbagai macam makhluk aneh bergentayangan di sekitar pohon. Bahkan jika diminta, rasanya seluruh warga desa siap untuk memberikan kesaksian terkait keangkerannya.

“Ucapkan sentat-sentut-sentit tiga kali, niscaya akan keluar makhluk bertubuh cebol dengan kepala segede tempayan,” ujar salah seorang warga.

“Itu namanya hantu glundung,” terang lainnya.

“Aku juga pernah mencobanya. Tapi yang muncul medi klaras.”

“Yang paling menyeramkan hantu cekik. Rupanya sangat buruk, tubuhnya keriput dengan bola mata nyaris jatuh. Tapi tangannya sangat panjang, meski cuma tulang-belulang. Dia bisa mencekik kita sampai mati!” sambung yang lain tak mau kalah. 

Bayang-bayang itu juga yang kini menghantui Manto, Sujiono dan teman-temannya. Semakin dekat, langkah mereka semakin pelan. Terlebih ketika aroma kuburan mulai tercium. Bau bunga kamboja di waktu malam lebih semerbak. Wanginya sangat mistis; wangi yang sangat disukai bangsa lelembut. Manto pernah mendapat cerita penghuni kuburan yang dirawat dengan baik dan dinaungi pohon kamboja, tidak suka keluyuran.  

“Sepertinya tidak ada siapa-siapa, Kang,” bisik orang yang berjalan di belakang Manto. “Bulu kudukku malah merinding.” 

“Mari kita sorot ramai-ramai pakai senter,” perintah Manto tanpa menghiraukan kecemasan temannya. 

Belum juga Manto memberi aba-aba, satu dua senter sudah tersorot ke pohon asam itu. Tidak perlu waktu lama, enam orang itu spontan lari tunggang-langgang. Namun setelah lumayan jauh mereka seperti baru tersadar. Mereka pun berhenti dengan nafas terengah-engah. 

“Mengapa kita lari?” tanya Manto.

“Tidak tahu,” jawab Sujiono diikuti gelengan kepala yang lainnya.

“Bodoh,” dengus Manto kesal. “Ayo kita kembali ke sana!”