Now Loading

Ketiadaan Pemimpin

Wajah Parman mengeras. Giginya saling beradu, menimbulkan bunyi seperti tulang yang sedang dihancurkan. Matanya melotot, sementara tubuhnya menggigil menahan amarah.  

Beberapa orang yang berada di dekat Parman, langsung menjauh sambil berteriak-teriak. Kepanikan datang lebih cepat, menyebar ke segala penjuru. Pak Kyai yang datang tergopoh-gopoh tidak mampu mengejar Parman. Tukang becak itu sudah berlari ke tengah kebun kacang panjang. Tubuhnya hilang di antara tanaman yang merambat pada cagak- kayu penopang yang disediakan di sisi tanaman supaya tidak menjalar  di tanah.

“Ada apa ini?” tanya Pak Kyai. 

“Tadi ada anak-anak bermain jelangkung, Pak Kyai. Ketika diteriaki oleh Lik Mus, mereka kabur ke sawah. ”

Trimo, Ijal dan Jarwo saling pandang dalam gelap. Ternyata mereka salah duga. 

“Lalu siapa yang lari ke kebun kacang?”

“Parman!”

“Parman?”

“Iya, Parman tiba-tiba kesurupan saat kami membakar jelangkung.”

Dahi Pak Kyai berkerut.  

“Jadi bagaimana ini, Pak Kyai?” tanya salah seorang warga.

“Parman harus kita tangkap untuk disadarkan,” jawab Pak Kyai.

“Tapi tidak ada yang berani.”

”Kenapa tidak berani?” tanya Pak Kyai.

“Takut dia ngamuk! Sepertinya Parman kesurupan arwah penasaran,” seseorang bersuara dalam gelap. 

“Arwah dari jelangkung!” tambah lainnya.

“Masa manusia yang masih hidup kalah sama orang mati,” sentak Pak Kyai dengan nada tidak senang. “Tempat arwah bukan di dunia fana, tapi di dalam alam barzah, alam kematian. Jadi kita tidak boleh takut …”

“Justru itu, Pak Kyai,” seseorang memotong. “Arwah penasaran itu pernah hidup di dunia fana, sementara kita belum pernah hidup di alam barzah. Jadi kita tidak bisa mengenalinya sementara si arwah mengenal kita.”

“Hush, ngomong opo kowe!” bentak Pak Kyai. “Ayo sekarang kejar Parman!”

Meski tampak ragu-ragu, sejumlah orang tetap mengikuti Pak Kyai masuk ke kebun kacang. Mereka mengendap-endap, menelisik setiap sudut untuk mencari Parman. Mereka juga membuka gerumbul tanaman kacang panjang yang lebat dengan harapan Parman bersembunyi di situ. Namun sampai beberapa saat, tidak ditemukan jejak Parman. 

“Parman sudah kabur ke tempat lain,” ujar salah seorang warga.

“Ke mana?”

“Kalau tahu, sudah aku kejar!” 

Warga kembali menyebar mencari Parman.  Mereka bergerombol memeriksa setiap tempat, termasuk pinggiran sawah.

“Aneh, orang kesurupan kok bisa lari.”

“Ya tidak aneh, To. Seperti pemain kuda lumping itu. Meski kesurupan tapi tetap bisa joget bahkan mengejar-ngejar orang,” sahut Diman. 

Namun hal itu tidak membuat Manto puas. Ia tetap heran karena Parman berlari seperti orang normal. “Kalau benar-benar kesurupan , masa bisa sembunyi segala!”

“Mungkin tidak sembunyi, tapi sedang berada di suatu tempat, pulang ke rumah ...”

“Kuburan?” sahut Manto tanpa sadar. 

Gantian Diman yang kebingungan. “Maksudku pulang ke rumahnya, bukan kuburan,” kata Diman akhirnya.

“Aneh! Bukannya Parman  sedang kesurupan setan, arwah gentayangan?”

Diman mengangguk dalam gelap, meski dia tahu Manto tidak bisa melihatnya.

“Nah, rumahnya arwah itu di kuburan!”

“Bisa juga di pohon tua,” celetuk orang seseorang dari belakang mereka. Rupanya sejak tadi menguping pembicaraan Manto dan Diman.  

“Kalau begitu  kenapa tidak kita cari ke sana?” kata Manto.

“Kamu berani?” tanya Diman.

“Berani ,” jawab Manto, mantap. “Bukankah kita ramai-ramai,” lanjutnya. 

Usulan itu segera disampaikan kepada yang lain. Rupanya hanya sebagian yang setuju. 

“Mana Pak  Kyai?” tanya Manto setelah mengedarkan pandangan ke kerumunan orang namun tidak menemukan sosok dimaksud. 

“Beliau pulang . Katanya asmanya kambuh,” sahut seseorang.

“Jadi siapa yang akan memimpin kita ke pohon tua?”

Tidak ada yang menjawab. Keheningan sangat mencekam. Bayangan pohon asam tua di ujung jalan ke kuburan  kini menghantui mereka.  

Meski tadi sempat yakin, namun sekarang Manto mulai ragu-ragu. Bukan tidak yakin Parman berada di pohon yang menjadi penanda arah ke kuburan, namun ketiadaan Pak Kyai telah menyurutkan nyalinya. Selain Pak Kyai, siapa lagi yang bisa mengusir setan? 

“Ayo kita berangkat, To!” ajak Diman.

“Tunggu... tunggu dulu.” 

“Kenapa? Tadi katanya kamu berani?”

“Siapa yang akan memimpin doa?”

“Doa? Doa apaan?”

“Untuk membebaskan Parman dari pengaruh arwah, harus dengan doa-doa suci,” elak Manto. Ia tampak bangga karena menemukan alasan yang tepat untuk melepas tanggung jawab memimpin warga ke pohon tua. 

“Jadi bagaimana sekarang? Apakah kita urungkan ke pohon besar karena tidak ada Pak Kyai?” tanya salah seorang warga.

“Ya, kita tunggu sampai besok!” usul yang lainnya.  Manto sangat setuju dengan usulan itu, namun hanya memendam dalam hati. Ia tidak ingin terlihat seperti penakut. 

“Kalau begitu kita bubar,” kata Diman setelah lama tidak ada yang mengambil inisiatif. 

“Baik, sekarang kita bubar!” sambung Manto, mantap.

Namun belum sempat semua warga membubarkan diri, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat menyayat. Datangnya dari arah rumah Pakde Karjo. Tanpa dikomando, mereka berlari ke sana.