Now Loading

Marini dan Marina

Selesai makan malam bersama Haji Bad dan keluarga, Saya segera kembali ke kamar, salat Isya dan besantai sejenak sambil nonton RTB (Radio Televisyen Brunei) I.

Tidak terasa karena lelah saya pun jatuh tertidur.

“Bang Zai. Bang Zai”, suara merdu seorang perempuan membangunkan diriku. Sambil mengusap muka , saya duduk terbangun. Ternyata Saya sedang tertidur di perahu mahligai di pusat Bandar.

“Bang Zai , bangun!”. Kali ini suara itu makin jelas dan sepasang tangan mulus menepuk bahu ku. Saya merasa kaget sekali dan bertanya :

“Siapa kamu”

“Saya Laila, jangan lupa hadir di pernikahan putri ku nanti malam!”,

Sekelibat saya ingat kembali akan Laila, perempuan yang pernah hadir dalam kehidupan Empat Sekawan sekitar 22 tahun lalu. Wajahnya tidak terlalu jelas, dan tidak lama kemudian Laila berjalan menjauhi perahu. Tiba-tiba saja saya melihat Laila sudah bergandengan tangan dengan sosok pemuda yang saya kenal yaitu Asep. Keduanya tampak masih sangat muda usia. Seakan-akan waktu diputar kembali ke masa akhir tahun 1997 ketika kami pertama kali datang ke Brunei.

“Laila, tunggu saya!”, Saya bangun dan mengejar mereka. Namun mereke berdua berlari dan kemudian menghilang begitu cepat. Saya tetap mencoba mengejar dan saya terjatuh.

Ketika mencoba bangkit dari jatuh, ternyata saya terduduk di kasur di dalam kamar. Saya mencubit tangan untuk meyakinkan bahwa saya tidak bermimpi. Ternyata saya baru saja terbangun dari mimpi. TV masih menyala. RTB 1 sedang menyiarkan acara siraman rohani selepas azan Subuh. Lampu-lampu di kamar masih menyala, Saya segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sekitar jam 7 pagi, Saya beolahraga pagi di kawasan hotel. Karena merupakan resor, hotel ini sangat luas dan memiliki jogging track yang lumayan panjang dengan pemandangan yang indah. Selain itu juga ada bioskop dan bahkan lapangan golfnya.

Saya berlari-lari kecil sambil menikmati udara pagi di pulau Borneo yang segar. Suasana sangat sepi, jarang saya bertemu tamu lain kecuali sesekali berjumpa dengan karyawan hotel.

Lumayan lelah, saya sekedar melakukan peregangan sambil berolahraga dan melakukan gerakan-gerakan senam ketika seorang perempuan muda berlari-lari kecil dari kejauhan. Dia memakai kostum training , sepatu kets, namun tetap memakai jilbab motif kembang-kembang warna ungu.

“Marini”, panggil saya tiba-tiba karena saya mengenalinya sebagai calon menantu Haji Bad yang dikenalkan pada acara makan di Pantai Restaurant tadi malam.

“Mana Zul, Mengapa Marini seorang aja?”, tanya saya lagi sambil berlari setengah mengejar perempuan itu.

Perempuan itu berhenti, sejenak bingung dan menjawab:

“Maaf, Saya bukan Marini”, perempuan itu tersenyum sambil menghapus keringatnya dengan handuk kecil warna putih yang melingkar di leher.

“Maaf, Saya salah orang, tetapi adik mirip sekali dengan Marini”

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya gadis itu lagi.

“Oh ya, Om yang duduk di samping saya di pesawat Royal Brunei dari Jakarta kemarin, Saya ingat sekarang”.

Dan saya pun ingat. Gadis inilah yang duduk di samping saya di Business Class dalam perjalanan dua jam dari Jakarata ke Bandar Seri Begawan. Dalam pesawat memang kita belum sempat bercakap-cakap. Bukankah wajah gadis ini yang mengingatkan saya akan Laila yang sekarang terus menerus mengejar saya dalam mimpi.

“Baiklah, Sampai jumpa lagi. By the way, nama saya Marina”

Gadis itu segera mulai melanjutkan joggingnya dengan cepat dan meninggalkan saya seorang diri dalam kebingungan.

Marini dan Marina?

Bersambung