Now Loading

Bab 2

Perairan Arctic, 64° 57′ 0″ N, 19° 0′ 0″ W
Kapal Hantaa 01


"Jangan bongkar bongkah es ini! Kita masih sempat membawanya ke sebuah tempat yang aman. Es ini akan mencair dalam tempo paling cepat 3 hari. Kita masih bisa berlayar selama waktu itu dan mencari galangan kapal untuk memperbaiki lambung Hantaa 01.”

"Yoshido! Cari tempat terdekat yang bisa kita capai dan mempunyai galangan perbaikan kapal.”

Perintah beruntun itu disambut para awak kapal sambil membungkukkan badan. Kapten Shinji lalu memerintahkan jaga bergiliran di lambung kapal yang bersebelahan dengan ruang mesin utama. Mereka bertugas mengamati proses pencairan dan selalu melapor kepadanya di anjungan. Dan tentu saja, juga untuk mengawasi siluet tubuh manusia di dalam es yang misterius itu.

Semua menjalankan perintah Kapten Shinji dengan patuh. Awak kapal beraktifitas lagi seperti biasa. Yoshido sebagai Mualim I membuka peta dan informasi internet melalui satelit untuk mencari kota-kota terdekat yang mempunyai fasilitas pelabuhan dan galangan kapal.

Tentu yang dimaksud kota terdekat adalah yang berjarak tidak lebih dari 3 hari perjalanan. Mereka berada di bagian bumi yang paling terpencil sehingga tidak mempunyai banyak pilihan. Bahkan Reykjavik adalah pilihan satu-satunya. Ke kota di Islandia itulah Hantaa 01 akan berlayar.

Hantaa 01 berlayar dengan kecepatan sedang. Kapten Shinji Akira tidak mau beresiko memacu kapal dalam kecepatan tinggi. Kapal tidak dalam kondisi terbaik karena di lambungnya membawa potongan besar es yang membuat keseimbangan kapal terganggu, termasuk juga rusaknya pendingin mesin kapal akibat benturan pada saat kejadian. Selain itu laut rupanya sedang tidak bersahabat. Mendung hitam di kejauhan menandakan tak lama lagi badai yang berarti gelombang tinggi dan angin kencang akan datang.

Jauh di lubuk hatinya, Kapten Shinji sesungguhnya cemas dengan kondisi kapal. Bukan hanya karena kerusakan di lambung. Namun juga benda misterius di bongkahan es itu sangat mengganggu pikirannya.

Siluet yang samar itu mirip sekali dengan tubuh manusia dewasa dalam posisi meringkuk. Kapten Shinji menduga-duga dalam hati. Apakah itu fosil manusia purba? Manusia asli penghuni kutub yang terperangkap di dalam es? Atau apa?

Paling penting mereka harus segera tiba di galangan kapal terdekat. Melepas bongkah es yang menyumbat, dan melanjutkan pelayaran berburu Ikan Paus. Sudah terlalu jauh mereka tertinggal dari jadwal perburuan.

Pikiran Kapten Shinji Akira yang melayang-layang dihentikan oleh situasi pelayaran yang berubah secara drastis. Hantaa 01 diayun kesana kemari dengan dahsyat. Mereka sudah mulai masuk di pusaran badai. Kapten Shinji memusatkan konsentrasinya. Membunyikan alarm peringatan agar semua awak kapal waspada.

Di lambung kapal Hantaa 01, Chief Engineer Takada Iyoshu memandang cemas ke arah 2 mesin besar Mitsubihi yang merupakan jantung kapal. Ternyata kejadian tabrakan dengan bongkahan es tadi merusak komponen pendingin mesin kapal. Bersama para masinis dan juru elektrik kapal tadi Takada sempat berusaha memperbaiki kerusakan. Berhasil tapi hanya untuk sementara. Oleh karena itulah Takada memberikan saran kepada Kapten Shinji Akira agar tidak menjalankan mesin secara maksimal.

Tapi dengan kondisi badai seperti ini?

Meskipun ruang mesin itu berpendingin udara tingkat tinggi, namun nampak sekali betapa Takada dan 4 anak buahnya kegerahan. Semua membuka baju dan hanya mengenakan kaos dalam. Ruang mesin itu seperti sauna. Panas luar biasa.

2 orang awak kapal yang sedang mendapatkan giliran jaga juga merasakan hal yang sama. Ruang mesin berada persis di sebelah ruangan lambung kapal. Hawa panas mesin yang menguar tidak bisa dicegah karena sekat kapal semuanya terbuat dari besi baja. Mereka basah kuyup dengan keringat.

2 orang ini berusaha keras mengipasi dirinya dengan apa saja karena gerah yang nyaris tak tertahankan. Sebuah deruman kuat dari ruang mesin mengiringi guncangan keras pada badan kapal. Rupanya Kapten Shinji Akira menaikkan kecepatan kapal secara maksimal karena berusaha keras menyeimbangkan kapal yang sedang dihantam gelombang besar.

Berkali-kali mesin kapal meraung-raung dengan suara kencang karena Kapten menaikkan dan menurunkan kecepatan kapal secara ekstrim supaya bisa bertahan dari gempuran gelombang dahsyat.

Takada dan anak buahnya di ruang mesin tidak bisa berbuat apa-apa ketika terdengar ledakan keras dari pendingin mesin kapal yang hancur berkeping-keping. Tinggal satu mesin lagi yang masih berfungsi dengan pendingin yang juga tidak normal. Buru-buru Takada meminta salah satu anak buahnya menyalakan mesin cadangan. Kapal itu tidak akan bisa bertahan di cuaca seperti ini dengan hanya mempergunakan satu mesin.

Suhu ruangan mesin naik secara tajam hingga tak tertahankan lagi. Takada memberi isyarat kepada anak buahnya untuk keluar ruangan. Tapi di lambung kapal juga tidak ada bedanya. Satu-satunya jalan hanya dengan mendekat ke bongkahan besar es yang menembus lambung kapal. Suhu dingin es itu pasti akan membantu mereka dalam suhu sepanas ini sambil terus bisa memonitor kamar mesin.

Terjadilah pemandangan yang cukup menggelikan. 6 orang bertubuh kekar berkumpul di samping bongkahan es sembari berkali-kali memegang permukaan es untuk mendinginkan diri sekaligus juga saling berpegangan karena kapal terguncang dengan hebat tanpa henti-henti.

Suasana yang cukup chaos dengan suhu yang sangat panas membuat keenam orang di ruangan itu sama sekali tidak menyadari bongkah es itu mencair perlahan-lahan. Hal itu tidak disadari karena guncangan tinggi badan kapal akibat badai gelombang memang membuat air merembes masuk ke dalam.

Suhu yang sangat panas dari ruang mesin ternyata membuat sumbat es di lambung kapal itu meleleh tanpa disadari oleh 6 orang yang sedang berkutat dengan guncangan kapal dan hawa panas yang luar biasa menyengat.

Alhasil air masuk melalui lubang yang lama kelamaan membesar karena sumbatnya semakin kecil. Keenam orang itu terlambat menyadari sampai akhirnya air menderas masuk ruangan. Kontan keenam orang itu saling berteriak memberi komando agar segera memompa air keluar.

Tapi apalah daya tenaga manusia dibanding kekuatan alam yang sedang mengamuk. Derasnya air laut yang masuk lambung kapal menyeret bongkah es itu hingga ke tengah ruangan. 2 orang terhantam bongkah besar es dan terkapar tak berdaya ditenggelamkan air yang naik semakin tinggi. 4 orang lainnya berusaha menyelamatkan diri dengan lari ke arah tangga menuju dek atas.

2 orang berhasil namun 2 lainnya terpelanting jatuh ke bawah ketika sekali lagi kapal terguncang keras dihantam gelombang. Mesin kapal pun berhenti seketika karena habis terendam air laut.

Kapten Shinji Akira melotot tak percaya menyaksikan di layar monitor ruang mesin dan lambung kapal dipenuhi air laut. Hantaa 01 sama sekali tak berdaya. Kapten kapal ini segera menyalakan alarm evakuasi. Tanpa mesin, kapal ini tidak lama lagi pasti akan tenggelam.

Tapi mendadak saja cuaca berubah secara drastis. Badai berhenti tiba-tiba. Gelombang pun mengecil. Kapten Shinji yang sedang menunggu proses evakuasi membunyikan alarm pembatalan evakuasi. Meskipun tanpa mesin, Hantaa 01 masih bisa bertahan di lautan walau hanya bisa terombang-ambing menunggu bantuan. Tentu saja dengan syarat ruang mesin dan lambung kapal tersekat total.

Di ruang lambung kapal. Hantaman gelombang besar terakhir membuat bongkah es yang terendam penuh oleh air membuat permukaan es padat itu retak karena beradu dahsyat dengan tiang baja kapal.

Air laut Arctic sangat dingin, namun di ruangan yang berdekatan dengan 3 mesin raksasa yang sebelumnya bekerja luar biasa keras akhirnya menjadikan air dingin tersebut hangat. Bongkah es itu mencair dengan lebih cepat.

Siluet mirip bentuk tubuh manusia yang terperangkap di bongkah es semakin terlihat wujudnya.

Sementara di atas, Kapten Shinji Akira sibuk memberikan perintah. Ini saat-saat survival bagi semua orang. Kapal bocor dan mesin mati. Untunglah navigasi dan listrik masih hidup karena generator cadangan di dek depan masih berfungsi. 

Semua awak kapal dihitung ulang. Dari total 40 orang, 4 tewas, 8 terluka. Sisanya kelelahan luar biasa. Stok logistik juga diinventarisir. Kapten Shinji harus bisa memperkirakan berapa lama mereka bisa bertahan terombang-ambing di tengah lautan yang sangat sepi dari lalu lintas kapal. Kapal sebesar ini tentu tidak bisa didayung. Kalaupun menemukan daratan, Kapten Shinji yakin hanya pulau dan gunung-gunung es saja yang akan mereka temui. Mereka in the middle of nowhere. Hanya Tuhan saja yang bisa menyelamatkan mereka.

Dan tidak ada badai lagi tentunya.

Sementara di bawah. Sosok tubuh itu terlihat melayang di kedalaman air setelah bongkahan es yang memerangkapnya mencair dan pecah.

Tubuh itu sama sekali tidak bergerak namun melayang di air. Arus air yang berputar-putar di ruangan membuat tubuhnya terantuk ke barang-barang di kapal.

Sekilas terlihat mukanya yang tertutupi oleh sebuah masker berbentuk aneh namun terlihat kedap air. Yang paling terlihat tak masuk akal adalah kepalanya berambut panjang namun mempunyai warna yang tidak biasa. Biru pekat seperti warna lautan dalam.

**