Now Loading

Bab 5

Raja memacu motornya sedikit kencang.  Entah mengapa perasaannya mengatakan dia harus buru-buru menemui Citra.  Jalanan kota Bandung yang lumayan padat cukup menghambat.  Namun Raja sepertinya tidak begitu peduli dengan keselamatan diri.  Dia harus segera sampai di toko buku Jalan BKR.

Kawasaki Ninja berwarna hijau itu meliuk-liuk menerobos kepadatan dan kemacetan.  Jarak dari rumahnya ke jalan BKR sebetulnya hanya sekitar 7 km.  Namun kepungan kendaraan membuat perjalanan Raja hampir 1 jam lamanya.

Memasuki jalan BKR, Raja memelankan laju motornya.  Matanya mencari-cari di mana gerangan letak toko buku yang dimaksud oleh Citra.

Ketemu! Sebuah toko buku kecil yang terjepit di antara jajaran toko-toko besar.  “Toko Buku Babah Liong”  papan nama kecil tergantung di depan toko.  Berayun-ayun diterjang angin pagi kota Bandung.

Raja memarkir kendaraannya.  Ragu-ragu untuk langsung masuk karena tanda di pintu masih bertuliskan closed

Pemuda ini mengintip dari kaca yang sebagian sudah kusam karena usia.  Nampak jajaran rak-rak buku kecil yang tersusun tak beraturan.  Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia.  Saat Raja masih mencoba menelisik apa isi toko buku itu melalui kaca, mendadak pintu terbuka dari dalam.  Sebuah lengan halus menariknya dengan cepat.  Raja hampir terjungkal jika tidak segera mengatur keseimbangan.

------

Mada menjalankan mobilnya di jalanan kecil berliku daerah Puncak dengan hati-hati.  Di sebelahnya duduk terpekur Direktur Museum.  Sejak perjalanan dimulai dari Bandung tadi sebelum subuh, keduanya banyak berdiam diri.

Misi menemukan dan mendatangi tempat rahasia perkumpulan Trah Pakuan memang tidak bisa ditunda lagi.  Putri sudah bereinkarnasi.  Ramalan manuskrip kuno mulai mendekati kebenaran.  Namun mencegahnya masih belum terlambat.  Salah satunya tentu saja adalah menemukan tempat rahasia ini.

Tidak ada petunjuk yang pasti dimana sebenarnya letak rumah rahasia yang mereka cari.  Meskipun sudah mengerahkan segala upaya agar informasi bisa didapatkan dari orang dalam, tetaplah gagal.  Orang-orang yang masuk dalam lingkaran Trah Pakuan adalah orang-orang dengan loyalitas luar biasa.  Tidak ada suap yang mempan.  Tidak ada metode pemaksaan yang berguna.  Mereka bahkan bersedia mati agar tetap bisa memegang teguh rahasia.

Mada berhenti di sebuah jalan kecil di belakang bukit sebuah perkebunan teh lama.  Satu-satunya petunjuk yang mereka pegang dan itupun masih berupa rumor adalah rumah itu menyendiri di tengah-tengah perkebunan teh.  Mada memutar bola matanya saat Direktur Museum menyebutkan petunjuk tersebut.

Perkebunan teh di Puncak ini begitu luas.  Ini seperti mencari jarum yang jatuh di tumpukan jerami. Paling tidak membutuhkan berminggu-minggu untuk menelusuri setiap jalan.  Itupun kalau beruntung.   

Mada menghela nafas panjang.  Tugasnya menjaga sejarah ternyata sama sekali tidak ringan.  Namun ini sudah garis yang harus dijalaninya.  Termasuk jika dia harus mengorbankan dirinya untuk ini.  Mada melirik ke arah mobilnya yang diparkir di pinggir tebing.  Direktur Museum adalah oportunis sejati.  Bukan pengabdi seperti dirinya.  Selalu meminta lebih dan lebih setiap bulannya hanya supaya tidak membocorkan rahasianya sebagai penjaga sejarah Majapahit. 

Direktur museum orang yang berbahaya.  Suatu saat dia harus disingkirkan.  Mada menuju mobilnya.

--------

Untuk kedua kalinya Raja menjatuhi Citra.  Kali ini karena Citra menariknya begitu kuat masuk ke dalam toko buku sementara dia sedang asyik mengintip sehingga tak waspada.  Alhasil, keduanya jatuh berpelukan.

Raja buru-buru bangun sambil mengangkat Citra.  Khawatir gadis itu kesakitan atau terluka, sekaligus juga khawatir ada tamparan mampir di pipinya.  Citra tersenyum.  Kali ini tidak menampar namun memegang tangan Raja dengan mesra.

“Raja, terimakasih sudah mau datang kesini. Apakah kau baik-baik saja?” Citra bertanya sambil menatap selidik muka Raja yang sedikit berubah.

Raja tersenyum kecil,” aku tentu baik-baik saja Citra.  Aku justru yang seharusnya bertanya, apakah kamu baik-baik saja?” Raja gantian memandang penuh selidik.

“Kenapa?” ujar Citra sambil lalu.  Gadis ini menelusuri rak demi rak untuk kemudian mencabut sebuah buku bersampul coklat yang terlihat sudah sangat berumur.

Raja mengikuti Citra.  Dipegangnya dagu Citra agar dia leluasa menatap mata yang semalam begitu pedih mendatanginya dalam mimpi,” kamu datang dalam mimpiku Citra.  Dalam keadaan sedih.  Kamu bukan seperti ini.  Kamu naik kereta dan berbaju aneh.  Tapi itu kamu.  Aku melihatmu.  Kamu memandangku.  Kamu sedih.  Aku tidak tahan.  Eehh..uuhhh kenapa ceritaku berlepotan begini.”  Raja mengeluh pendek menyadari ceritanya bisa membuat Citra pingsan karena kebingungan.

“Hihihi...Raja,  Rajasanagara.  Aku sudah paham apa yang kau maksud.  Sini, duduklah di sini.  Aku akan sedikit bercerita..” Citra meraih tangan Raja.  Mengajaknya masuk ke ruang dalam toko buku.

-------

Raja terbelalak.  Toko buku kecil dan kumuh itu mempunyai ruang dalam yang begitu luas dan indah!  Bahkan ruangan ini juga mempunyai taman cantik dengan sungai kecil dan air mancur.  Luar biasa!  Ajaib!  Pikir Raja tak habis-habisnya keheranan.

Citra mengajak Raja duduk di bangku kecil depan taman. 

“Kamu mau minum apa Raja?” Citra bertanya lembut. 

“Aku...apa saja boleh, Citra.”

Citra bertepuk tangan dua kali.  Sebuah pintu besar ke arah belakang taman terbuka.  Dua orang wanita cantik muncul sambil membawa nampan keemasan berisi beberapa cangkir porselein yang juga cantik.  Dua wanita itu bersimpuh di depan Citra dan Raja sambil mengangsurkan nampan dengan sopan.

“Silahkan Tuan Puteri...”

Citra tersenyum lalu mengangguk memberi isyarat mereka pergi setelah mengambil dua cangkir untuk dirinya dan Raja.  Diberikannya satu cangkir kepada Raja.  Citra agak terheran Raja tidak menyambutnya namun kemudian tersenyum dikulum setelah melihat keadaan Raja.

Raja duduk seperti patung yang belum selesai dipahat.  Mulutnya melongo dengan tatapan mata takjub.

Citra menyentuh pipi Raja lalu menuangkan minum ke mulut Raja pelan-pelan.  Raja tersadar.  Diambilnya cangkir dari tangan Citra lalu diminumnya minuman itu sekaligus.  Citra tersenyum maklum.

“Ini..Ini sebetulnya toko buku apa Citra? Dan kamu berjanji akan menjelaskan kenapa mendatangiku dalam mimpi?” Raja bertanya sambil merasakan minuman itu terasa hangat memasuki leher dan perutnya.

“Raja, aku yakin kamu sudah menduganya.  Aku adalah titisan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi.  Aku sengaja mengajakmu dalam mimpi.  Hanya kaulah yang bisa menolongku.  Aku ingin memperbaiki sejarah yang berdarah menjadi sejarah yang indah...” Citra berhenti sejenak.  Matanya menerawang entah kemana.  Dua butir mutiara mengalir di pipinya yang halus.

Raja menggunakan ujung jarinya membersihkan tetes airmata di pipi Citra.  Kemudian mengangguk membenarkan dugaan Citra karena dia  memang sudah menduganya sedari awal di museum dulu. 

Sebelum Citra melanjutkan ceritanya, tiba-tiba terdengar ribut-ribut di ruangan depan.  Suara gaduh itu begitu keras hingga terdengar jelas sampai ke ruangan ini.  Raja melihat Citra memicingkan mata untuk fokus mendengar.  Mendadak wajah gadis ini memucat.  Ditariknya tangan Raja dengan tergesa-gesa.  Setengah berlari menuju pintu belakang taman.

“Gawat!..gawat!...” ujar gadis cantik ini sambil terus menyeret tangan Raja.


*****