Now Loading

Surprise di The Empire Hotel

Pesawatku mendarat mulus di Lapangan Terbang Antar Bangsa Brunei di Berakas. Walau tampak lebih besar dan megah dibandingkan kedatangan saya pertama kali di tahun 1997, nuansa pulang kampung selalu ada di bandara ini. Seperti biasa, saya juga tidak usah menukar wang setiap kali ke Brunei, karena saya selalu sedia Ringgit Brunei dan juga Dollar Singapura yang berlaku di negara ini.

Setelah melewati imigrasi, dan kemudian pemeriksaan bea cukai, saya tiba di bangsal kedatangan. Teman lama saya, Haji Bad sudah menunggu dan siap mengantar saya ke hotel.

“Kali ini Kamu menginap di ‘The Empire’, hotel paling mewah di Brunei”, kata Haji Bad sambil berjalan menuju ke tempat parkiran. Dia memang biasa memanggil kamu ke saya sejak masih muda dulu.

“Pesta pernikahan juga akan diselenggarakan di hotel ini besok malam dan pengantin serta keluarga juga sudah menginap di hotel sejak malam ini”. Kata Haji Bad lagi.

Walaupun mewah dan bagus, saya sebenarnya lebih suka menginap di Bandar atau di Gadong. Namun karena kali ini tujuan saya datang ke Brunei adalah untuk menghadiri pesta perkawinan putra Haji Bad yang kebetulan bertempat di The Empire, tentu lebih baik menginap di sini. Apalagi semuanya gratis karena sudah disediakan oleh tuan rumah.

“Apa Kamu sudah punya cucu”, tanya Haji Bad membuka percakapan ketika mobil Mercedez Benz yang dikemudikannya melaju cepat sore itu di Lebuh Raya Muara Tutong, jalan raya menuju kawasan Jerudong.

“Putri saya baru menikah beberapa bulan lalu, belum ada cucunya” jawab saya sambil mengingatkan bahwa Haji Bad tidak sempat datang ke pernikahan yang diadakan di kawasan BSD itu. “Sekarang di tinggal di BSD City”, tambah saya lagi.

Perjalanan ke The Empire dari bandara hanya sekitar 25 menit saja, maklum walau letaknya lumayan jauh di luar kota, perjalanan sangat lancar tanpa ada hambatan. Saya segera cek-in dan Haji Bad berjanji akan bertemu waktu makan malam nanti sambil memperkenalkan putra dan calon menantunya. Zul, putra Haji Bad yang akan menikah ini adalah putra ke 4 alias anak bungsu Haji Bad dan Anissah, istrinya yang juga sudah saya kenal sejak lama.

“Nomor Brunei Progressive kamu masih aktif ya?”, Tanya Haji Bad ke saya. Saya ingat sejak 2012 lalu saya memang punya nomor telpon bimbit Brunei dan selalu aktif hingga saat ini. Waktu itu Progressive masih bernama B-Mobile. Sebelumnya saya lebih suka pakai DST.

“Ya, saya selalu menambah saldonya melalui web”, Saya memang selalu membawa hape kedua yang bisa berubah nomer dan SIM Card sesuai dengan negara yang saya kunjungi.

Sambil beristirahat di kamar hotel, saya menghubungi beberapa teman lama di Brunei, mengabarkan kedatangan saya di sini dan juga mengirim pesan whatsapps ke kelompok ‘Empat Sekawan’ yang lain yaitu Azwar, Eko dan Asep. Mereka bertiga tidak bisa datang ke Brunei.

Sekitar pukul 4 sore , saya bersantai di kolam renang hotel yang berada di tepi pantai Laut Cina Selatan ini. The Empire memang merupakan sebuah hotel mewah yang bagaikan sebuah istana di tengah hutan Borneo.

Sambil duduk santai di tepi kolam renang dan menikmati es kelapa muda, pandangan mata menatap jauh ke horizon, kaki langit lazuardi dengan warna lembayung senja yang memesona, fikiran saya melayang jauh, mengingat wajah gadis yang tadi duduk di sebelah saya di pesawat menuju Brunei.

“Bang Zai, Bang Zai, Bangun”, tiba-tiba sebuah suara merdu membangunkan saya. Ah rupa nya saya tertidur di kursi di tepi kolam renang.

“Siapa kamu” tanya saya sambil mengingat-ingat wajah perempuan itu.

“Saya Laila”, Ah mendengar nama itu, saya langsung teringat deretan kejadian yang berawal dari kedatangan Empat Sekawan di Brunei, lebih 22 tahun lalu. Anehnya wajah Laila ini masih tetap sama dengan wajahnya 22 tahun lau dan bahkan mirip dengan gadis di pesawat tadi.

“Putri saya akan menikah besok, Bang Zai jangan sampai tidak datang”, teriak Laila lagi sambil kemudian wajah dan tubuhnya menghilang.

“Allahu Akbar-Allahu Akbar”, Suara pengingat azan magrib menggema dari hape saya. Dan saya pun terbangun untuk kedua kalinya. Rupanya saya tadi bermimpi bertemu dengan Laila, perempuan muda yang sangat dekat dengan Asep dan mencuri hati Asep dahulu.

Saya segera kembali ke kamar, mandi dan kemudian salat Maghrib. Setelah itu saya bersiap-siap menunggu telepon dari Haji Bad untuk bertemu dan makan malam di salah satu restoran di hotel ini.

Tak lama kemudian telpon genggam no Brunei saya berbunyi. Haji Bad yang menelpon dari kamarnya.

“Zai, 15 menit lagi kami tunggu di Pantai Restaurant”,

“Baik, Saya segera kesana”. Saya kemudian bersiap-siap dan mengenakan pakaian terbaik malam itu. Maklum akan diperkenalkan dengan putra dan calon menantu Haji Bad.

Saya segera berjalan menuju Pantai Restaurant yang teletak di tepi pantai. Lumayan jauh dari kamar. Dan ketika sampai di restaurant Haji Bad bersama isrinya Hamidah sudah siap menyambut dan mempersilahkan duduk.

“Zul dan calon istrinya sedang menuju kesini” Kata Haji Bad, ayo ambil saja makanannya. Kita makan buffet dan kamu bisa makan apa saja”, kata Haji Bad sambil tertawa lebar. Wajahnya tampak awet muda walau usianya mendekati 60 tahunan.

Kami segera mengambil berbagai jenis makanan dan menikmatinya sambil bercakap-cakap mengenang masa lalu. Haji Bad sendiri sejak lama sudah menjadi seorang pengusaha yang lumayan sukses di Brunei.

Sekitar 15 menit kemudian, sepasang anak muda masuk ke restoran dan langsung menuju meja kami.

“Assalamulaikum” Demikian mereka berdua mengucapkan salam. Zul, putra bungsu kawan saya ini terlihat sangat tampan malam itu.

Mereka berdua kemudian dikenalkan dengan “Paman Zai”, dari Jakarta.

“Panggil saja saya ‘Om Zai’, Saya kawan lama Haji Bad”, kata saya kepada Zul dan calon istrinya.

“Nama saya Marini”, kata gadis cantik calon menantu Haji Bad itu.

Saya sangat terkejut karena melihat wajah gadis ini sangat mirip dengan gadis yang saya temui dan duduk di samping saya dalam pesawat menuju Brunei tadi.

Bersambung