Now Loading

Buah Tangan Dari Laila

Sebenarnya saya tidak terlalu bersemangat untuk ikut ke Muzium Brunei ini. Tapi demi menjaga kekompakan Empat Sekawan, maka saya pun ikut saja ajakan Azwar untuk bersama-sama naik bus 39 ke Kota Batu.

Sesampainya di Museum, kami turun dari bus dan langsung menuju ke beranda. Namun saya sempat mengintip kondisi museum dari luar . Bangunannya cukup megah dan tampak sedikit angker. Maklum lokasinya sedikit di luar kota.

Saya ikut saja ketika Azwar menulis di buku tamu dan kemudian kami berempat memasuki ruang demi ruang di dalam museum. Namun tidak lama kemudian, saya memisahkan diri dan balik kembali ke beranda dan sejenak menghirup udara di luar museum.

Suasana sepi. Maklum di Brunei, dimana-mana kebanyakan sepi. Di halaman belakang saya berjalan santai sambil mengisap rokok kretek terakhir yang saya bawa dari Jakarta.

“Lagi ngelamun nih Bang”, suara merdu seorang perempuan menegur dan membuat saya terkejut karena tidak menyangka ada orang lain disini.

“Ya, ya”, jawab saya singkat sambil mencoba mengingat-ingat siapa perempuan muda ini. Wajahnya lumayan cantik dan sebagian anak rambutnya tertiup angin walau ditutup jilbab kembang-kembang warna pink. Baju kurungnya warna biru muda yang tampak serasi dengan tubuhnya yang semampai.

“Saya Lalila”, katanya memperkenalkan diri, kita sudah beberapa kali berjumpa. Pertama kali di perahu di laguna Masjid di Bandar, lalu pernah juga Abang dan teman-teman naik kereta saya dari Jerudong”, katanya lagi membuka jati diri.

“Alamak, maaf Saya baru ingat”, jawab saya sambil berteriak kegirangan dalam hati. Ini dia perempuan misterius yang saya cari-cari selama ini. Ini dia gadis yang telah mencuri hati saya sejak pertemuan pertama di Masjid Perahu. Pucuk dicinta Ulam Tiba. Demikian lah kondisi saya siang itu. Tidak bersemangat ikut ke Museum malah dapat durian runtuh ketemu Laila, gadis idaman yang selama ini didambakan.

Saking gembiranya, saya tidak tahu mau berbicara apa kepada Laila. Hingga dia yang lebih agresif bertanya.

“Koq sendirian saja, kemana teman-temannya?”

“Mereka lagi melihat-lihat museum” jawab saya tersipu.

‘Nama Saya Asep”, kata saya baru memperkenalkan diri.

“Wah, nama yang bagus dan gagah, segagah dan ganteng orangnya”

“Eh Bisa saja, Laila juga nama yang cantik, secantik yang punya nama”

Tidak terasa kami mengobrol terus sambil berjalan menuju ke Muzium Teknologi Melayu. Jalannya menurun dan kemudian kita sampai di tepi Sungai Brunei.

Baru sekitar 5 menit berkenalan , kita berdua bagaikan teman lama atau bahkan sepasang kekasih walau saya belum berani memegang tangan Laila. Takut dia marah.

“Yuk kita naik perahu, Saya akan ajak Abang ke suatu tempat yang asyik”

Saya pun hanya mengangguk saja ketika Laily memanggil tukang perahu yang kebetulan lewat.

Kita berdua segera naik ke perahu dan perahu kemudian melaju di Sungai Brunei yang agak sepi di siang itu. Perahu melaju menuju arah Bandar dan langsung ke arah Kampong Ayer.

“Disini dulu, Saya pernah melihat Laila”,

“Ya, tapi saya waktu itu sedang buru-buru, jadi tidak sempat menyapa”

“Kita tidak usah berhenti disini. Kita balik saja arah Kota Batu dan berhenti di Pusat Kesenian dan Pertukangan Tangan Brunei di dekat Jalan Residency”, kata Laila kepada tukang perahu.

Perahu segera balik arah dan kemudian meluncur menuju ke Brunei Arts and Handicraft Centre.

Kami segera turun dan Laila meminta tukang perahu menunggu di dermaga.

“Saya akan membelikan buah tangan buat abang, Besok kan Abang balik ke Indonesia” kata Laila lagi.

Saya dan Laila masuk ke pusat seni dan pertukangan itu. Sebuah bangunan yang lumayan megah namun juga tetap sepi. Disini dipamerkan dan dijual berbagai hasil kerajinan tangan dan seni seperti barang-barang dari perak, perunggu, dan juga berbagai jenis kain dan bahkan batik.

Namun Laila memilih sebuah keris kecil dan dibelikan untuk saya.

“Ini Keris Brunei, harap disimpan dan semoga abang tidak melupakan Laila”

Wah , sungguh baik nian gadis ini. Baru saja kenal sudah membelikan saya cendera mata buat kenang-kenagan.

“Terimakasih, nanti kalau saya ke Brunei lagi, akan saya bawakan buah tangan juga buat Laila”, jawab saya.

“Oh Ya, apa Abang sudah makan? Di sini ada Ambuyat yang enak”

“Apa itu Ambuyat?, Tapi saya dan teman-teman sudah makan Nasi Katok”

“Ambuyat itu makanan khas Brunei, belum sah kunjungan Abang ke Brunei kalau tidak cuba Ambuyat”

“Bolehlah kita coba sedikit saja”, jawab saya.

Kami memesan Ambuyat di restoran yang ada di Art Center itu. Makanan Brunei yang unik karena terbuat dari sejenis sagu yang membuat makanan ini sangat lengket.

‘Ambuyat ini lengket untuk melambangkan rapatnya persaudaraan dan persahabat kita yang makan”, kata Laila lagi.

Untuk makan Ambuyat yang hambar itu kita menggunakan semacam sumpit yang disebut candas dan ada berbagai macam jenis bumbu yang disebut cacah.

“Wah lezat sekali”, kata saya kepada Laila walau sebenatnya rasa Ambuyat agak aneh di lidah saya.

Kami berdua makan sambil bercakap-cakap panjang lebar dan tidak terasa waktu sudah menunjukan lebih pukul 4.

“Laila, Saya harus balik ke museum, Takut kawan-kawan saya mencari dan kita harus balik ke Bandar”

“Baiklah, Yuk kita naik perahu lagi ke Kota Batu”

Kami segera ke dermaga dan tukang perahu siap mengantar kembali ke dermaga di Kota Batu. Di perahu itu saya mulai berani menggenggam tangan Laila. Dan Laila juga mendiamkan saja. Tidak marah atau canggung.

Sesampainya di Kota Batu, Laila mengatakan bahwa dia harus kembali ke rumahnya takut ayahnya sudah pulang. Dia tidak ikut turun dan hanya berkata:

“Salam buat teman-teman abang dan selamat pulang ke Indonesia, Kalau nanti ke Brunei lagi, kita pasti jumpa lagi”

Saya melambaikan tangan ke perahu yang menjauh. Setelah perahu lenyap dari pandangan mata, saya simpan buah tangan dari Laila baik-baik dan kemudian kembali berjalan mendaki menuju ke museum.

Di tengah jalan, saya bejumpa dengan Zainuddin yang ternyata sedang mencari-cari bukan saja saya melainkan Azwar dan Eko. Dia bahkan langsung memeluk saya seakan-akan sudah lama tidak berjumpa.

‘Asep, darimana saja kamu? Kata Bang Zai.

“Nanti Saya ceritakan. Yuk kembali ke museum siapa tahu Azwar dan Eko sudah disana”

Kami berdua segera kembali ke beranda museum. Azwar dan Eko belum tampak batang hidungnya. Zainuddin sempat bertanya kepada resepsionis, namun dia juga tidak melihat mereka berdua.

Setelah menunggu dalam cemas sekitar 5 menit, baru terlihat Eko muncul berjalan santai dari depan jalan dan masuk ke beranda. Tidak lama kemudian Azwar juga menyusul kembali ke museum denga cara yang mirip.

“Wah rupanya kita semua punya acara masing-masing di luar museum” kata saya.

“Kecuali Saya yang jadi setan museum”, Kata Zainuddin sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Kami berempat segera berjalan menuju ke halte dan menanti bus 39 yang akan membawa empat sekawan kembali ke Bandar.

Di dalam bus menuju Bandar, Saya terus memegang Keris buah tangan Laila sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

Bersambung