Now Loading

Bab 4

Raja bermimpi.  Dia merasa memasuki sebuah dunia yang berbeda.  Dirinya berada di sebuah jalanan yang sibuk dengan lalu lalang orang.  Tapi orang-orang ini berpakaian aneh.  Tidak seperti orang-orang jaman sekarang.  Para wanitanya menggunakan kain dan kemben.  Lelakinya memakai celana selutut dengan baju atas tidak berkancing.  Bahkan sebagian bertelanjang dada tidak memakai baju atas.

Raja tidak melihat mobil, becak atau sepeda.  Jalanan ramai oleh kuda dan kereta.  Ini sebuah tempat yang bisa disebut kota.  Namun tanpa McD, KFC, Starbucks dan brand-brand ternama lainnya. 

Matanya celingukan kemana-mana.  Mencari-cari sesuatu yang bisa dikenalinya.  Raja yakin dia sedang berada di dunia mimpi.  Tapi suasana benar-benar seolah nyata.  Raja bahkan mencubit lengan sekuatnya untuk memastikan tidak terasa apa-apa.  Pemuda ini terlonjak kaget! Lengannya memerah hitam dan dia kesakitan!

Pemuda ini berjalan mengendap-endap di sela-sela bangunan bata.  Dia melirik pakaiannya yang masih melekat.  Celana jeans dan kaos oblong berwarna hitam dengan gambar mawar dan pistol, Guns n’ Roses.  Dia akan menjadi perhatian jika muncul di keramaian.  Kebetulan saja tadi tidak ada yang memperhatikan karena kemunculannya dalam mimpi persis di belakang gerobak yang penuh dengan sayuran dan buah-buahan.

-----

Pandangan Raja tersangkut di beberapa lembar baju dan celana yang tergantung di pinggir sebuah toko kecil.  Pemuda ini kembali mengendap-endap seperti maling.  Dirogohnya saku celana, ada dompet tapi masa sih dia bisa membeli barang dengan uang kertas masa kini, eh masa depan tentu saja kalau saat ini.  Biarlah dia pinjam tanpa bilang.  Raja nyengir kecil-kecilan.  Tetap saja mencuri namanya.  Biarlah, nanti dia kembalikan atau digantinya dengan bekerja.

Raja keluar dari gang kecil itu dengan pakaian yang sesuai dengan sekitarnya.  Kali ini dia tidak mengendap-endap lagi.  Astaga! Kenapa pula perutnya merasa sangat lapar.  Seandainya ini benar-benar mimpi tak mungkin lapar ini terjadi.  Usaha terakhir, Raja memejamkan mata sekuatnya lalu membukanya tiba-tiba.  Berharap dia terbangun dari tidur sehingga bisa ongkang-ongkang kaki di dapur sambil menikmati sekeping coklat atau bolu buatan ibunya.

Tidak ada yang terjadi.  Bahkan beberapa orang mengumpat ke arahnya yang berjalan di tengah jalan seenaknya sehingga hampir saja tertabrak oleh kuda yang dikendarai seorang gagah bertampang keras dengan baju prajurit kerajaan.

Raja buru-buru melompat ke pinggir.  Mengangkat tangan depan dada pertanda minta maaf.  Penunggang kuda itu tidak memperdulikannya. 

Rupanya laki-laki berkuda itu adalah pembuka jalan bagi iring-iringan.  Karena di belakangnya lewat juga beberapa penunggang kuda dengan pakaian yang sama.  Prajurit kerajaan.  Beberapa kereta yang terlihat mewah berada di tengah-tengah rombongan.  Kereta kencana yang sangat indah.

Raja berdiri di pinggir bersama orang-orang yang sekarang berjajar di pinggir jalan mengelu-elukan rombongan tersebut.  Kereta-kereta kencana itu berjalan perlahan dengan jendela terbuka.  Menunjukkan wajah-wajah yang bersih rupawan melambaikan tangan. 

Raja seperti disengat kelabang! Seraut wajah tidak asing melongok keluar jendela kereta dan menatapnya lekat-lekat.  Citra ada dalam mimpinya!  Berpakaian begitu indah dengan wajah sumringah.  Tersenyum kepadanya dengan tatapan yang sulit dicerna.  Senang namun juga sedih.  Bahagia sekaligus pedih.

------

Sampai rombongan itu sudah terlewat jauh, Raja masih terpaku di tempatnya.  Mimpi yang aneh.  Begitu mustahil rasanya.  Pemuda ini menundukkan muka.  Kebingungan.  Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Raja sampai pada sebuah kesimpulan.  Penasaran.  Dia menoleh mencari-cari orang yang bisa ditanyanya.  Dilihatnya ada seorang tua berdiri tak jauh dari tempatnya.

“Ki, maaf boleh saya bertanya?” Raja bertanya pelan agar tak mengagetkan.

Orang tua itu memandangi Raja dari ujung kaki hingga kepala.

“Ada apa, Jang?”

Raja tersenyum,” siapakah rombongan yang lewat tadi Ki? Dan mau kemana mereka? Kelihatannya hendak melakukan perjalanan jauh.”

Orang tua itu membelalakkan matanya, menggeleng-gelengkan kepala lalu menghela nafas,” rupanya anak ini bukan orang kerajaan sini ya?  Itu tadi rombongan Paduka Raja Pakuan dan puterinya Dyah Pitaloka Citraresmi.”

Si Aki berhenti sebentar sebelum melanjutkan,” mereka sedang dalam perjalanan menuju Majapahit untuk merayakan pernikahan sang puteri dengan Maharaja Hayam Wuruk Rajasanagara.”

Raja kembali disengat kelabang.  Sebuah lintasan pikiran menyadarkannya.  Termasuk juga dari tidurnya.

------

Raja berdiri tertatih dari ranjangnya.  Tubuhnya kelelahan.  Seperti habis melakukan sebuah pengembaraan yang tak tuntas.  Pemuda ini berjalan terhuyung-huyung menuju dapur.  Meminum segelas besar air dingin lalu duduk di kursi makan sembari mengusap keringat yang membanjiri lehernya.

Mimpi tadi benar-benar menguras tenaga.  Kepalanya agak pusing.  Pemuda ini masih teringat betul bagaimana cara gadis cantik itu menatapnya tadi dalam mimpi.  Permintaan tolong yang tidak disertai kata.  Hanya tersalurkan lewat tatapan mata.

Raja lalu teringat Citra.  Gadis jelita misterius yang tinggal di jalan BKR.  Sedang apa dia sekarang?  Raja menepis semua pikirannya.  Bodoh! Tentu saja tidur nyenyak.  Ini dinihari.  Saatnya orang tengah asyik bermimpi.

Raja mengerutkan keningnya.  Merangkai-rangkai semua hal dan peristiwa.  Kalau Citra jelmaan dari lukisan Putri Dyah Pitaloka, lantas bagaimana kehidupannya di dunia nyata ini?  Dan kenapa mimpi tadi menghampiri tidurnya?  Raja menggaruk hidungnya yang tidak gatal.

Besok aku harus menemui Citra.  Ini semakin menarik dan sepenuhnya diliputi misteri yang harus dipecahkan.  Tidak mungkin ada reinkarnasi jika memang tidak ada maksudnya. 

Tapi, bagaimana caranya aku bisa menemui Citra?  Raja membatin dengan memelas.

Sepasang mata pemuda yang sebelumnya meredup tiba-tiba bercahaya terang.  Dia teringat ucapan Citra sebelum mereka berpisah di taksi kemarin malam.

“Belum saatnya kau tahu rumahku.  Kelak aku akan memberitahumu, bahkan mengajakmu berkunjung.  Sekarang yang paling penting adalah jika kau ingin bertemu denganku, datanglah ke toko buku di depan itu.  Aku pasti akan menemuimu.”

Hmmm, besok aku akan ke toko buku itu.  Raja memutuskan sebelum melangkah ke kamar melanjutkan tidurnya yang tertunda.  Setengah berharap bermimpi lagi dan bertemu dengan rombongan kereta kencana.

****