Now Loading

Jari-jari


Part 19 -

Hawa dingin mulai merasuki kulit.  Namun,  hujan tampaknya masih enggan menyentuh tanah. Mendung tetap menggantung seolah menunggu kepastian kapan hujan bersedia menyambangi tanah. Semula Natcha  berharap hujan menunda pertemuannya dengan tanah, tapi melihat mendung yang terus bergantung dan penuh bimbang, Natcha  justru menginginkan hujan turun lebih cepat dengan deras maksimal agar cepat pula mereda. 

Tak menunggu lama, hujanpun menderas menebarkan aroma tanah yang bahagia karena dahaga telah tuntas. Udara di rumah sakit makin terasa dingin menebarkan suasana yang mencekam.  Natcha berjalan menyusuri selasar  rumah sakit,, dingin menembus kulitnya yang terbungkus jaket tipis. Perempuan  muda itu berjalan  dengan sedikit was-was, matanya menyapu setiap sudut mewaspadai kemungkinan munculnya hal-hal aneh seperti yang pernah terjadi. 

Langkahnya mendadak terhenti, . Matanya tertumbuk pada sebuah ayunan dari besi  di tengah taman. Tergantung pada dahan pohon yang kokoh menjulang. Biasanya Natcha tak pernah  memperhatikan, tapi malam ini seperti ada yang mengarahkan pandangannya ke arah benda serupa  kursi  yang tergantung pada dahan pohon.

Perlahan Natcha melangkah ke sana., mendekati ayunan, ada rasa dingin menyergap tengkuk. Semilir angin membawa aroma bunga kamboja yang begitu tajam  menyentuh penciuman. 

Diedarkannya pandangan ke sekelling. Di pojok depan dekat dinding ruang ICU ada pohon mangga cukup besar. Sebersit perasaan aneh menyeruak saat menatap ke arah sana. Padahal biasanya tak ada yang mengusik setiap hari melewati tempat itu. 

Tiba-tiba  besi ayunan terdengar berderit. Natcha tersentak,  jantungnya serasa loncat dari tempatnya.  Ayunan itu mulai  bergerak sendiri seakan ada yang memainkannya. Bergegas perempuan itu meninggalkan tempat  dengan lutut gemetar. 

Namun, baru dua langkah sebuah tangan mencengkeram bahunya. Perempuan itu mengejang,  menghimpun seluruh keberanian untuk mengetahui apa yang menahan langkahnya. Perlahan ia menoleh, sebentuk tangan dengan jari-jari lentik menekan bahunya. 

Rasa penasaran mendorong Natcha untuk menyingkirkan tangan itu ... dingin dan beku menyentuh kulitnya, lalu mengarahkan pandangan ke atas ...  seketika lututnya melemas, tangan yang mencengkeram itu melayang di udara, tanpa badan, bergerak mendekati Natcha yang makin gemetar, sisa  nyalinya tak lagi sanggup menyangga tubuh. Perempuan itu jatuh terduduk dengan muka seputih kapas. 

"Pergi ... pergi!" usir Natcha dengan suara parau. Tangan itu  makin mendekat, mengusap wajah pias Natcha yang makin histeris. Jari-jarinya  menari liar menyusuri setiap lekuk wajah cantik Natcha yang hanya bisa mematung sambil menahan napas. 

"Tolong pergi  ... jangan menggangguku!" isak Natcha mengiba dalam ketakutan. Tangan itu menempelkan telunjuk di bibir Natcha, mengisyaratkan untuk tenang. Peremppuan itu tergugu, tapi lambat laun bisa menguasai diri, jari-jari yang menari di wajahnya seakan mengisyartakan tak akan melukainya. 

"Apa mau kalian?" bisik Natcha lirih, 

Papan abjad yang selalu dibawa Natcha sebagai alat komunikasi dengan Aaron tiba-tiba terlepas dari tangannya, seakan ada yang menyentak paksa. Natcha menarik napas berat dengan tatap nanar ketika jari-jari itu bergerak lincah menuliskan kata demi kata di bagian belakang papan yang kosong.  

"Kami adalah korban pembunuhan, kami tersesat tidak tahu jalan pulang, tolong sempurnakan jasad kami, agar kami bisa reinkarnasi."

"Kalian ... siapa yang membunuh kalian?" Tergagap Natcha mulai membaca arah yang diinginkan pemilik tangan yang tengah gentayangan itu.

"Aaron." 

"Jadi, kalian korban pembunuhan itu?" Natcha memastikan, perlahan nyalinya mulai pulih, matanya membulat takjub  setiap kali jari-jari itu bergerak  menuliskan kalimat di papan.

"Aaron membunuh kami dan bayi kami,"

"Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian," tanya Natcha bingung,, tiba -tiba teringat cerita Jovan saat bertemu di kuil beberapa waktu lalu.

"Kami bukan cuma dibunuh dengan keji, tapi juga dibakar. Sebagian jasad kami dibawa ke rumah sakit ini, tapi sebagian lagi telah menjadi abu bersama reruntuhan gudang tua itu."

"Jadi jasad kalian yang dibawa kemari waktu itu?" tandas Natcha, ingatannya melayang pada peristiwa malam itu saat ia tersesat di  bangsal kosong,  Bukankah satpam yang ditemui juga mengatakan hal yang sama? Tapi siapa satpam itu sebenarnya? Natcha tak pernah melihatnya lagi. 

"Satukan semua milik kami, agar kami bisa reinkarnasi dan menemukan jalan pulang."

"Baiklah, aku akan membantu kalian, tapi tolong jangan menhantui orang-orang yang tidak bersalah," pinta Natcha tegas.

"Kami tidak akan menggnggu jika kami sudah menemukan jalan pulang." 

"Setelah ini kalian akan bisa tenang, setiap manusia akan menemui kammanya masing-masing. Maafkan Aaron, maafkan keluarganya. Aaron juga sudah mendapatkan kamma dari dosa yang telah dilakukan. Biarlah semua ia jalani sesuai kammanya. Hanya Sang Adi Buddha yang berhak menentukan tempat kalian sesuai kamma masing-masing?" pungkas Natcha akhirnya. 

Bersamaan dengan itu, papan abjad roboh kembali, dan tangan-tangan itu lenyap, seakan menguap tanpa bekas. 
Natcha menghela napas panjang, tak percaya  apa yang baru saja tetjadi, seluruh tubuhnya terasa lemas, seakan tenaganya tersedot keluar hingga bergeser pun ia tak sanggup.

Sebuah tepukan lembut, menyadarkan Natcha, petempuan itu membuka mata perlahan, seketika jantungnya melompat hingga ke tenggorokan  ketika matanya menemukan sebuah tangan di bahunya.

"Suster Natcha," Sapaan itu mengembalikan nyawanya yang hampir melompat keluar dari raga.

"Dokter Felix," pekik Natcha tak percaya, mengucak matanya untuk meyakinkan bahwa benar dokter Felix yang berdiri di hadapannya.

"Sustet kenapa tertidur di sini?" Pertanyaan dokter  tampan itu membuatnya bingung,  tak tahu harus menjawab apa. Natcha bergeming, menatap dengan pandangan yang sulit dimengerti.

"Suster?" Dokter Felix mulai panik melihat Natcha yang hanya mematung. "apa yang terjadi?"  Diguncangnya bahu Natcha sedikit keras hingga perempuan itu tetkejut.

"Eh ... ada apa, Dok?" Natcha kebingungan.

"Harusnya saya yang bertanya, kenapa Suster tertidur di sini?" 

"Sa ... saya," Natcha mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sesaat baru menyadari dirinya berbaring di lantai, di hadapannya sebuah taman dengan ayunan tergantung pada dahan pohon besar yang menjulang kokoh. Ayunan itu ... tangan-tangan itu ... dan percakapannya dengan makhluk tak kasat mata melalui papan abjad ... 

"Sebaiknya Suster  ikut ke ruangan saya untuk menenangkan pikiran." Doktet Felix menggamit lengan Natcha dan membimbingnya menuju ruangannya. Perempuan  itu hanya menurut tanpa perlawanan.

Sesampai di ruangan prakteknya, dokter bertubuh atletis itu membuka nakas dan menyerahkan sebotol air mineral pada Natcha. Perempuan yang masih belum sinkron pikirannya itu menerima botol air mineral dan meneguknya hingga separuh. Air yang melewati tenggorokkanya terasa   segar dan mengembalikan kesadarannya. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. 

"Bagaimana, agak enakan?" tanya dokter Felix yang menatapnya sejak tadi. Menyadari hal itu Natcha merasa jengah.

"Lumayan, terima  kasih, Dok," ucap Natcha tetsipu.

"Ada apa sebenarnya?" Doktet Felix masih menyimpan rasa ingin tahu. 

"Entahlah," Natcha mengangkat bahu sambil mengembuskan napas berat. "saya sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi."

"Suster tadi tertidur di lantai di depan taman," ujar dokter Felix mengulang kalimatnya. "apa yang sebenarnya terjadi?" 

"Entahlah," elak Natcha, bukan tidak ingin cerita, tapi ragu apakah laki-laki bergelar dokter  spesialis itu mau mempercayai ceritanya.

"Yakin tidak mau cerita?" Dokter Felix setengah mendesak. Natcha hanya mengedikkan bahu.

"Baiklah kalau tidak mau cerita, tapi tolong tenangkan diri, dan istirahatlah! Jika nanti berubah pikiran, saya siap mendengar cerita anda, Sus," ujar dokter Felix mengalah. Natcha mengangguk, bersyukur  dokter itu tidak mendesaknya, setidaknya ia belum ingin betcerita apapun, entah nanti jika ia sudah lebih tenang.

**