Now Loading

Misteri dua toples kecil Kue Cincin

Sesampainya di Muzium dan mendaftar di resepsionis kami berempat masuk ke berbagai ruangan di lantai dasar. 

 

Namun tidak sampai 10 menit kemudian, satu demi satu teman saya menghilang dan saya tertinggal sendirian  di lantai dasar tepatnya di bagian “Natural History”. 

 

Disini kita dapat melihat beberapa diorama yang cukup menarik mengenai beberapa jenis fauna yang ada di Brunei.

 

Selain itu ada juga pameran foto-foto tentang Hari Kemerdekaan Brunei dan perayaan ulang tahun kemerdekaan setiap Februari yang diadakan di Taman Sir Muda Haji Omar Ali Syaifuddin.

 

Saya terus berjalan sambil melihat-lihat kalau-kalau ada Asep, Eko, maupun Azwar.   Tetapi walau saya sudah mengelilingi museum beberapa kali hingga ke lantai atas saya tidak juga menemukan mereka.

 

Bahkan ketika lewat beranda beberapa kali  dan menanyakan ke resepsionis museum pun mereka tidak juga melihat teman-teman saya.  Singkatnya mereka bertiga bagaikan hilang di telan bumi .

 

“Ataukah mereka bertemu Irma dan diajak jalan jalan keluar museum?” Tanya saya kepada diri sendiri.   

 

“Tidak mungkin, kalau meninggalkan museum, saya pasti diajak”, kata saya lagi dalam monolog yang sepi.

 

Akhirnya karena bosan di dalam museum saya keluar dan sempat melihat lihat halaman yang cukup luas.

 

Di bagian belakang museum , ada petunjuk arah menuju "Muzium  Teknologi Melayu" atau "Malay Technology Museum".  

 

Saya berjalan santai sesuai arah petunjuk dan betapa senangnya hari saya ketika melihat Asep berjalan dari arah berlawanan menuju ke saya.

 

Kami pun bertemu dan saya segera memeluknya bagai menemukan anak yang hilang.

 

“Asep kamu kemana saja? Dimana Eko dan Azwar?

 

“Saya tadi pergi naik perahu , Tapi tidak bersama Eko dan Azwar”, jawab Asep sambil tersenyum dan kemudian bersiul ruang . Tampaknya dia sedang gembira sehingga luput memperhatikan kecemasan saya.

 

“Nanti saya ceritakan, yuk kembali ke museum, siapa tahu Azwar dan Eko sudah disana”, tambah  Asep lagi.

 

Kami berdua segera kembali Ke museum, namun Azwar dan Eko tetap belum ada. Demikian juga ketika saya bertanya kepada resepsionis yang tidak juga melihat dua teman kami itu.

 

Untungnya, sekitar 5 menit kemudian, kami melihat Eko berjalan dari luar menuju beranda museum.

 

Dia membawa sebuah toples berisi kue khas Brunei yang namanya kue cincin.

 

“Dari mana saja kamu ? Tanya saya kepada Eko.

“Panjang ceritanya , Nanti saya ceritakan di hotel saja”. 

 

Tidak lama kemudian, Azwar pun muncul dari arah yang sama. 

 

“Darimana saja engkau wahai Azwar” kami bertiga serentak bertanya.

 

“Nanti saja ceritanya , lebih baik kita segera ke jalan dan menunggu bus balik ke bandar”. Kata Azwar lagi .

 

Ada suatu kebetulan yang cukup aneh. Azwar juga ternyata membawa toples kecil yang sama seperti yang dibawa Eko. Isinya juga kue cincin.

 

Dalam bus menuju Bandar, saya cuma belum bisa mencerna apa yang sudah terjadi kepada kepada tiga teman saya. Apa misteri yang ada dibalik dua toples kue cincin yang dibawa Eko dan Azwar? Mengapa Asep terlihat gembira namun tidak membawa kue cincin?

 

Kebetulan tiga-tiga nya masih bujangan dan sudah matang, alias  sudah waktunya buat mereka untuk menikah.

 

Bersambung