Now Loading

Nama Saya Noor

 

Setelah sampai di Muzium Brunei, Azwar melapor ke resepsionis dan kami berempat pun mulai menjelajah isi museum yang berlantai dua itu.

Mula-mulai kami selalu bersama-sama . Namun tidak perlu waktu terlalu lama akhirnya kami berpencar tanpa disadari. 

Tanpa saya sadari saya sudah sendirian ketika menjelajah di lantai dua dimana terdapat bagian bertema “ Kebudayaan Tradisional Brunei”.

Disini, dipamerkan seluk beluk kehidupan rakyat yang meliputi kebiasaan dan kebudayaan tradisional  penduduk Brunei di masa lalu.

Selain itu juga dapat dilihat koleksi kuningan termasuk sebuah meriam. Konon, Brunei menjadi terkenal karena meriam dari kuningan ini.

Ketika sedang melihat-lihat meriam ini, tiba-tiba ada langkah-langkah kecil yang menemani saya. Saya tidak lagi sendiri. 

Seorang gadis berpakaian perempuan Brunei sehari- hari berjalan dan melihat-lihat museum bersama saya.

“Cantik yah meriamnya”, gadis itu tiba-tiba berkomentar entah kepada siapa . 

Namun karena tidak ada siapa-siapa lagi, secara tidak sadar , saya mengiyakan saja.

“Ya cantik”, kata saya sambil terpesona dengan aroma wangi yang disebarkan tubuh sang gadis.

“Nama Saya Noor”, kata gadis itu memperkenalkan diri sambil menangkupkan kedua tangannya mirip pramugari Garuda.  

“Saya Eko”, saya kesini bersama teman-teman saya.  

Secara alamiah saja kami berdua berkenalan dan dalam waktu sekejap sudah akrab dalam wisata sejenak keliling museum. 

Anehnya walau museum tidak terlalu besar, kami berdua tidak bertemu dengan siapa pun selama mengembara di kedua lantai museum. Kami bagaikan berada di sebuah dunia paralel .  Namun pesona gadis itu membuat saya lupa.

“Ayo mampir ke rumah saya. Dekat saja dari sini”,

Kembali saya hanya menurut dan mengiyakan saja ajakan gadis yang baru saya kenal di lorong lantai dua museum ini.

Kami berdua keluar museum dan belok ke kiri.  Lalu berjalan sedikit menurun dan kemudian sampai ke sebuah perkampungan . Anehnya tampak sepi. Hanya deretan rumah panggung uang tampak tertata rapi dan cantik.

Di rumah Noor juga tidak ada siapa-siapa . Dia bilang ayahnya sedang bekerja di istana Sultan dan ibunya sedang bertandang ke tetangga.

Sambil ngobrol panjang lebar saya juga disuguhi kueh khas Brunei. 

“Ini namanya kue cincin.  Ayo coba, kue ini manis dan dibuat dari tepung beras”,  Noor membawa sebuah toples berisi kue yang bentuknya mirip Kembang Goyang di Betawi.

Segelas sirop Bandung juga menemani kue cincin itu.  

“Bang Eko sudah punya pacar di Indonesia”, tiba-tiba Noor membelokkan pertanyaan yang membuat saya sedikit kaget.

“Belum” jawab saya singkat sambil terbayang wajah Tini, pacar yang telah lebih 3 tahun saya kencani tanpa kejelasan hubungan karena tidak disetujui keluarga.

Percakapan terus berlanjut dan kami berdua kian akrab sampai akhirnya saya ingat harus kembali ke museum takut ditunggu oleh teman-teman saya.

"Noor, abang pamit dulu, tapi lupa jalan balik ke Muzium"

"Tak payah, nanti saya antarkan", Noor masuk ke dapur dan kembali dengan sebuah toples kecil berisi kue cincin.

"Ini buat dinikmati bersama kawan-kawan abang di hotel , tetapi jangan dibawa pulang ke Indonesia"

Noor menemani saya sampai di pintu museum dan dia langsung pulang dengan alasan takut ayah nya sudah kembali.

Di beranda museum saya bertemu dengan Asep dan Zainuddin yang katanya sudah menunggu saya cukup lama.

“Kemana saja kamu ? Kata Zainuddin 

“Panjang ceritanya, nanti saya ceritakan di hotel saja”

“Mana Azwar? “ tambah Asep lagi

Tidak perlu lama mencari, Azwar tiba-tiba muncul dan kami berempat pun sudah lengkap untuk pulang kembali ke Bandar .

Sepanjang perjalanan ke terminal, saya masih terus terbayang wajah Noor yang manis dan pertemuan singkat siang itu.

 

Bersambung