Now Loading

Rumah Misterius di Kotabatu

 

Pukul 12 siang, kami berempat sudah siap di lobby dengan koper dan barang bawaan.  Cek out juga sudah selesai dan tinggal menunggu mobil jemputan untuk pindah ke Brunei Hotel di Jalan Pemancha.

 

Menunggu tidak sampai 10 menit, sebuah mobil tiba di lobby hotel dan siap membawa kami berempat ke Brunei Hotel yang jaraknya lumayan dekat. Lokasi hotel ini tepat satu blok dari Jalan Cator dimana terdapat terminal bus. Juga sangat dekat dengan Tamu Kianggeh .   Singkatnya benar-benar di jantung kota Bandar Seri Begawan.

 

Proses cek in berjalan lancar, seperti biasa , Saya sekamar dengan Asep , sementara Eko dengan Zainuddin . Kami hanya tinggal semalam lagi di Brunei karena besok malam akan pulang ke Jakarta .

 

“Amboi alangkah senang hati Bang Azwar, ada janjian sama cewek Brunei di Muzium, mau pergi sendiri atau diantar ni?” Ujar Asep ketika kami berdua baru saja santai sebentar setelah merapikan barang2 di kamar.

 

“Yuk kita kesana sehabis makan siang, kita makan siang nasi katok saja” jawab saya.  

 

“ Tadi saya sudah tanya ke resepsionis lokasi Muzium Brunei di Kota Batu dan cara naik bus kesana. Kita bisa naik bus no.39.” 

 

“Siap bos” kata Asep lagi. “Kita ajak Eko dan Bang Zainuddin?” 

 

“Ajak dong, kita khan empat sekawan”.  

 

Saya dan Asep segera siap-siap. Ke kamar Eko dan Zainuddin serta lalu mengajak mereka makan siang.

 

Letak restoran Nasi Katok dekat saja . Tinggal jalan kaki sebentar. Lumayan enak loh.  Tadinya saya penasaran apa itu nasi katok , ternyata mirip ayam goreng Kentucky versi Brunei .

 

Sehabis makan, empat sekawan jalan kaki ke terminal . Sekalian jalan-jalan mengucapkan selamat tinggal kepada Bandar Seri Begawan karena ini hari terakhir di Brunei sebelum besok pulang ke Jakarta. 

 

“Sekalian mampir ke Muzium dan siapa tahu dapat cewek baru”, pikir saya dalam hati.

 

Siang terik yang panas di akhir bulan Desember di Bandar Seri Begawan.  Langit dihiasi awan tipis berarak-arak seakan mengawal bus No. 39 yang mengantar kami menuju Kota Batu.

 

Setelah lewat jalan Residency, jalan mulai agak menanjak dan rumah-rumah mulai jarang seakan sudah di luar kota . Sungai Brunei tampak mengular di sebelah kanan, jalan agak sedikit berkelok kelok dan kira-kira setelah 15 menit meninggalkan terminal, kondektur menunjukkan letak museum di sebelah kanan.

 

Kami berempat turun sambil mengucapkan terima kasih. 

 

Muzium Brunei tampak sepi siang itu. Hanya ada seorang resepsionis dimana kami diminta mencatat nama dan asal negara dan jumlah pengunjung . Tidak usah beli tiket alias gratis. 

 

Museum ini lumayan cantik, terdiri dari dua lantai dan menurut saya tetap membosankan. Kalau saja tidak diundang Irma, saya mungkin lebih suka jalan-jalan di Yayasan atau waterfront saja. 

 

Kami berempat menyusuri lorong demi lorong . Mula -mula bersama-sama namun, tanpa terasa kami mulai berpisah dan tiba -tiba saja saya ada di lantai dua, di bagian “Islamic Art Gallery” tempat dipamerkan benda-benda seni Islam yang merupakan koleksi pribadi Sultan Bolkiah.  Saya sedang asyik memperhatikan deretan Al-Quran dari berbagai zaman ketika sebuah lengan menepuk bahu kiri saya dari  belakang . 

 

Sebelum saya sempat berpaling, tiba-tiba mata saya ditutup oleh kedua telapak tangan yang halus mulus.

 

Harum semerbak aroma parfum yang wangi membuat saya setengah mabuk kepayang.

 

“Bang Azwar, koq lama baru datang, Irma sudah tunggu lama”, alunan suara yang merdu dengan nada sedikit merajuk seakan-akan kita berdua sudah kenal lama membuat saya kian nyaman.

 

“Kami berempat makan siang dulu, makan nasi katok”, tukas saya sambil mulai berjalan menuju sudut museum yang agak gelap. 

 

Saya berdiri menjauh dan memperhatikan penampilan gadis Brunei ini.  Memakai baju kurung dengan jilbab kembang -kembang warna merah kuning.  Dandanan nya sederhana namun cukup manis.

 

Walau ada sedikit perasaan aneh dengan kemisteriusan gadis ini, saya memutuskan untuk mengikuti saja kata hati. Kan tidak ada ruginya sedikit berpetualang, demikian saya bercakap-cakap dengan hati dan fikiran sendiri. 

 

“Bang Azwar dan kawan-kawan balik ke Jakarta besok?”, pertanyaan yang mirip pernyataan ini memecah kebisuan.

 

Lagi-lagi saya heran mengapa Irma seakan-akan sudah mengetahui semuanya. Tampaknya dia sudah tahu semua mengenai saya tanpa perlu bertanya.

 

“Maaf, apa abang sudah punya pacar di Indonesia?”, sebuah pertanyaan yang membuat saya terdiam seribu bahasa.

 

“Belum , saya masih belum punya pacar”, jawab saya sambil mencoba tersenyum manis . 

 

Tanpa terasa, semua bagian museum sudah kami lewati. lucunya saya tidak melihat keberadaan tiga teman saya . 

 

Namun daya tarik asyiknya berdua saja bersama Irma membuat saya lupa segalanya.

“Ayo mampir ke rumahku”, dekat saja sekitar 5 menit jalan kali.

 

Bagaikan kerbau dicucuk hidung , saya ikut saja kemauan Irma. Lagi pula aroma parfum gadis itu begitu menggoda. Saya benar-benar lupa daratan dan ikut saja ke rumahnya.

 

Kami berdua keluar museum dan belok ke kiri lalu menuruni jalan setapak . Sepintas suasana sangat sepi, setelah berjalan tiga empat menit, ternyata ada sebuah perkampungan dengan rumah-rumah panggung  yang tampak teratur rapi.

 

Saya akhirnya diajak mampir ke rumah Irma. Anehnya di dalam rumah tidak ada siapa-siapa. Dia bilang ibunya sedang pulang ke Indonesia dan ayahnya sedang kerja di office .

 

Saya sempat disuguhi kue khas Brunei.

“Kue ini namanya kue cincin. Rasanya manis dan renyah” kata Irma lagi. namun saya sendiri bagaikan setengah mimpi. Hanya bisa bilang ya dan makan kue tersebut tanpa merasakan apa-apa.

 

Setelah cukup lama bercakap-cakap. Saya minta diantar pulang ke museum karena takut Asep, Eko dan Zainuddin lama menunggu. Sebagai oleh-oleh, Irma  juga memberikan sebuah toples kecil berisi kueh cincin.

"ini untuk dimakan di hotel sama teman-teman Abang, tapi jangan dibawa pulang ke Indonesia", Lanjut Irma sambil merapikan dandanannya.

Irma mengantar saya sampai di depan Museum dan cepat-cepat pamit pulang karena takut ayahnya sudah pulang kantor. Maklum waktu sudah mendekati pukul 5 . 

 

Museum sendiri sudah mau tutup ketika saya menjumpai Asep , Eko dan Zainuddin yang sudah lama menunggu .

 

Mereka sempat bertanya kemana saya selama ini. 

“Nanti saja ceritanya, lebih baik kita segera ke jalan dan menunggu bus balik ke bandar “.

 

Bersambung