Now Loading

Perjalanan Terpaksa

Setelah kepergian Afick, ibu keluar dari kamar. Rupanya beliau mendengar semua pembicaraan kami. Aku masih terduduk di tempat, mencoba berpikir tentang apa yang sudah terjadi. Satu sisi Anisah begitu terluka karena ulah Afick, di sisi lain laki-laki itu justru menunjukan bahwa dia tidak bersalah. Aku bingung! Mana yang harus aku percaya?

 

"Ada masalah apa, Long?" 

 

Ibu mendekat dan duduk di sampingku. Entah apa yang harus dijelaskan kepada beliau, aku memilih membisu. 

 

"Kalian bukan anak kecil atau remaja lagi, setidaknya berpikirlah lebih dewasa!" 

 

Aku menatap wajah ibu, masih tetap tidak paham apa yang hendak aku katakan padanya. 

 

"Kau mencintai Afick?" tanya ibu. 

 

Dadaku sesak! Sejujurnya aku tidak tahu apakah benar memiliki perasaan itu.

 

"Long, ibu tau kau menyimpan perasaanmu rapat-rapat kepadanya. Kau juga kecewa kepada Nak Afick yang …."

 

"Tidak, Bu! Aku cuma tak ingin menyakiti seseorang yang mengharapkan Afick. Hubungan kami belum ada apa-apanya." Potongku cepat. 

 

"Tapi apa yang kau pikirkan tidak sama dengan apa yang dia rasakan!" kata ibu kemudian, "jika nanti Nak Afick ke sini, dan ingin membawamu ke sana. Ibu tidak akan menghalangi."

 

"Aku tidak akan pergi ke sana, Bu! Apa kata orang-orang nanti? Jika aku kesana, itu artinya aku hendak merampas Afick dari seseorang! Tidak, aku tidak akan pergi!" tegasku sambil berlalu. 

 

Ibu mungkin berpikir aku berucap hanya karena emosi, tapi yang jelas aku akan memberitahu Afick untuk tidak melakukan apa pun yang dia inginkan. Pergi ke Sarawak? Buat apa? Toh, jika ingin membuktikan kebenaran, itu bisa dilakukan tanpa harus membawaku ke tempatnya. Tidak mungkin seorang wanita pergi ke kediaman laki-laki, hanya untuk  mencari kebenaran. Tidak ada norma itu dalam keyakinan mana pun. 

 

*****

 

Setelah melewati perdebatan panjang dan melelahkan, aku menyerah! Afick begitu keras kepala, dia bahkan menjadikan ibuku sebagai senjata agar aku mengikuti kemauannya. Tak habis fikir, ibu dan anak-anak juga sepertinya mendukung keinginan Afick. Mereka seolah bersekongkol melawanku, hanya demi memenuhi kepuasan laki-laki arogan itu. Orang yang berkuasa memang tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Sungguh keterlaluan!

 

Saat ini aku sedang berada di dalam mobil Afick, duduk bersisian dengannya tanpa bicara di jok tengah. Sementara seorang bawahan yang sedang mengemudikan mobil, sesekali melirik ke arah kami. Aku tahu karena sempat bersirobok tatap tanpa sengaja lewat pantulan kaca spion. Sementara ibu dan anak-anak tidak ikut, mereka memilih untuk tinggal dengan alasan tidak ingin merepotkan Afick. Aku semakin cemas, selain berangkat ke negeri orang sendiri, aku tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa nantu. Dalam batin berperang, tak sedikitpun dapat kunikmati perjalanan ini.

 

"Dato, sudah masuk waktu makan siang. Kite nak singgah kat mane?" tanya bawahan Afick yang sedang menyetir.

 

Laki-laki di sampingku melirik jam tangan di lengannya. Kami berangkat sekitar pukul 08:00 wib, kira-kira saat ini sudah hampir masuk waktu ashar. Hanya perkiraanku, karena matahari di luar sana sudah mendekati puncak. Itu dapat dilihat dari bayangan pohon-pohon dan tiang listrik di pinggir jalan yang kami lalui.

 

"Tempat biase sajelah!" jawab Afick.

 

"Baik, Dato." 

 

Kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi, jalan perbatasan tidak seperti dulu. Aspal jalanan penuh lobang dan tidak rata, sekarang mulus. Akses ke negara tetangga diperbaharui dengan cepat, semua tampak rapi dan bersih. Setidaknya perjalanan jauh tidak begitu melelahkan akibat jalanan  rusak. Namun, tetap saja membuat pikiranku kacau. Masih menebak-nebak kisah seperti apa yang akan aku temui? 

 

Jalan penghubung antar negara memang lengang, kendaraan belum banyak berlalu lalang. Hanya sesekali melintas atau berpapasan dengan bus angkutan umum, dan mobil pribadi lainnya.  Tidak padat seperti di Pulau Jawa. Tepat di tengah hari, kami pun tiba di kota perbatasan Entikong. Supir Afick berhenti di dekat salah satu rumah makan yang cukup besar. Dengan enggan, aku mengekori jalan laki-laki itu. Sesekali dia memperlambat langkah, seolah memberi kode agar aku berjalan bersisian dengannya. Tidak, itu tidak akan terjadi!

 

Setelah memasuki rumah makan, Afick berjalan ke salah satu meja di dekat sudut ruangan. Sementara mataku menelusuri setiap bagian gedung, lalu melihat sebuah tanda panah bertuliskan kata 'Mushola'. Aku meminta izin kepadanya untuk menunaikan kewajiban, dia mengangguk. Aku segera menuju ke mushola, letaknya berada di bagian belakang rumah makan. Setelah berwudhu, aku melaksanakan shalat wajib empat rakaat. 

 

Kurang lebih 40 menit kami beristirahat makan siang dan shalat, perjalanan diteruskan. Karena masih harus menempuh separo perjalanan, aku sempat tertidur di dalam mobil. Entah berapa lama terlelap. Saat membuka mata, tubuhku ada dalam pelukan Afick. Kepala bersandar di dada bidangnya. Tentu saja aku kaget! Wajah memerah menahan malu. Buru-buru menggeser dudukan, berdoa dalam hati agar kejadian tadi tidak dilihat sopir. Gila! Aku salah tingkah.