Now Loading

Ritual Gila 2

Prabandaru dan Mbah Sambung akhirnya sampai rumah. Setelah istirahat cukup lama. Mereka kemudian bersih – bersih diri. Duduk di pelataran dan menikmati sajian kopi yang diambil dari kebun setempat. Mbah Sambung kemudian mencoba mendekat ke Esti Pinilih yang sudah mendingan. Ingatannya mulai pulih dan traumanya mulai hilang. Wajah dan tubuhnya yang terluka mulai pulih.

Mbah Sambung dengan telaten mengobati luka – luka yang ada di tangan Esti dan ia dengan sabar membersihkan kulit – kulit menghitam akibat luka sayatan dan robekan yang disebabkan oleh duri – duri dan ranting – ranting. Yang masih membingungkan bagi Mbah Sambung bagaimana bisa lolos cucunya itu. Melihat penjagaan yang ketat rasanya tidak mungkin ia bisa selamat keluar dari tempat itu.

Mbah Sambung menatap cucunya dengan iba,namun ia bersyukur cucunya selamat, sebuah anugerah yang tak terhingga. Ia bisa membayangkan mereka yang menjadi korban dari ritual gila itu. Susah lolos dan kalaupun bisa pulang mungkin tinggal jasadnya saja yang tampak sudah begitu rusak dipermainkan oleh para penganut ritual gila yang tega mengorbankan anak perawan demi ambisi para manusia laknat tersebut.

Pelahan lahan Esti Pinilih menghela nafas. Tampak masih ada sisa trauma yang tampak dari sorot mara itu, namun jauh berkurang. Berbeda ketika baru saja ditemukan. Ternyata mental Esti Pinilih cukup mumpuni sehingga ia bisa melewati berbagai ujian sesudah ia diculik pada pengabdi setan tersebut.

Mbah Sambung berkata lirih

“Apa sebetulnya yang terjadi Nok.”

Esti seperti sedang mengingat apa yang terjadi.

***

Malam Jumat Kliwon di Sambungsari dikagetkan oleh suara teriakan melengking. Suara dari seorang gadis yang tengah beranjak remaja. Seorang pria bertopeng bercadar sarung masuk ke kamar seorang gadis yang tengah tertidur. Sebetulnya gadis itu baru bisa tidur. Hampir semua gadis Sambungsari terjaga karena teror dari isu yang terdengar bahwa tiap malam Jumat Kliwon akan ada penculikan dari gadis- gadis perawan yang beranjak remaja. Perawan – perawan itu akan dijadikan tumbal untuk upacara yang bertujuan untuk pesugihan, membuat awet muda dan bagian dari tumbal orang – orang yang berambisi kekuasaan.

Jeritan itu ternyata berasal dari rumah seorang gadis bernama Esti Pinilih. Kebetulan kakeknya sedang keluar malam itu dan tidak menyangka culiknya akan menyasar rumahnya. Ia hanya sendirian bersama kakeknya karena kebetulan Ayah ibunya tidak tinggal di situ. Esti dimomong kakek neneknya sejak kecil dan beberap tahun lalu neneknya meninggal karena penyakit langka. Akhirnya ia tinggal sendirian bersama Kakeknya bernama yang biasa disebut Mbah Sambung. Mbah Sambung sendiri cukup disegani di desanya karena selain bisa silat, bisa meracik obat dan juga bisa melihat melihat makhluk halus alias hantu gentayangan.

Perlawanan Esti Pinilih sia – sia. Dengan sigap laki – laki itu menotoknya segera Esti lunglai dan seluruh bajunya dilucuti hingga tidak memakai baju selembarpun. Kemudian laki – laki itu membebat tubuh Esti Pinilih dengan kain yang digunakan untuk menutup kamar.

Dari luar laki – laki itu sudah ditunggu beberapa kawannya. Mereka kemudian masuk lewat gerumbulan pepohonan di belakang rumah, menyelusup lewat jalan kecil yang sudah dipelajari mereka sejak dalam pengintaian mencari mangsa. Mereka bergantian menggendong gadis perawan yang hanya berbebat kain. Kadang kainnya tersingkap dan tampak tubuhnya yang kuning langsat, tidak berdaya kena totokan lelaki yang menculiknya.

Esti Pinilih sebenarnya sadar namun ia tidak bisa berbuat apa - apa. Ia mencoba mengingat jalanan yang dilaluinya. Sesekali ia menandai setiap kelokan yang ia lewati meskipun gelap ia berusaha mengingat ciri – ciri pepohonan yang bisa ia ingat sehingga jika ia kabur nanti ia akan ingat jalan – jalan yang pernah ia lalui. Esti Pinilah adalah gadis cerdas yang bisa mengingat apa yang dilihatnya. Meskipun tidak berdaya bukan berarti ia menyerah menyaksikan kekejian yang dipertunjukkan gerombolan pemuja berhala.

Ternyata mereka membawa mereka melewati jalanan kecil, jalan setapak, jalan memotong yang harus ditempuh melewati jalan yang cukup terjal, naik turun tebing, melewati sebentar kebun tembakau, menyisir lembah dengan gerumbulan pisang di sana – sini, melewati tegalan yang tengah tidak ditanami. Bau kotoran binatang menyengat diantara segarnya dedaunan. Lalu pria yang di belakang berhenti dan ia mengeluarkan talinya yang terbuat dari sabut kelapa, ia lemparkan ke atas ke sebuah tebing yang dikelilingi oleh pohon pisang. Ternyata dari siulan tertentu temannya sudah siap untuk menangkap talinya.

Esti pinilih dalam bebatanya kemudian di angkat setelah diikat cukup kencang. Setelah sampai di atas, terus talinya dilepaskan dan kemudia laki – laki itu menggendong melewati jalanan sempit dari gerumbul pohon pisang yang benar – benar rapat. Kalau tidak tertotok Esti pasti akan merasakan perih ketika tersayat oleh dedaunan, ranting – ranting kecil yang ada diantara pohon pisang tersebut. Karena tubuhnya tidak bisa digerakkan Esti susah menandai jalannya. Ia hanya berusaha mengingat sebuah tempat dengan ingatannya yang tajam, mengingat pohon dan sejumlah perbedaan dari jalan yang ia lalui. Setelah menembus kebun pisang ternyata laki – laki yang menggendongnya langsung menyisir jalan yang terhambat oleh pagar bambu yang tinggi dan rapat, dilapisi oleh pelepah pisang kering ia menuju sebuah tempat.

Ada jalan masuk yang bisa dilewati dengan membuka tumpukan pelepah pisang, dibawah tumpukan pelepah pisang itu ada pintu yang terbuat dari anyaman bambu, Lelaki itu membukanya dan ternyata ada lorong yang menghubungkan tempat itu menuju sebuah tempat. Ketika pria itu mencoba mengecek apakah Esti sadar atau tidak ia pura – pura memejamkan mata. Setelah kecurigaan hilang maka laki – laki itu melanjutkan perjalanan dengan hanya bertemankan oncor kecil, melewati lorong, lalu setelah beberapa waktu kurang lebih 200 langkah, ia ketemu dengan pintu yang mirip seperti sebelumnya. Ia membukanya dan kemudian keluar dengan sedikit melompat. Lelaki itu membawa Esti Pinilih ke sebuah tempat.

Rumah kecil dengan satu tempat tidur. Ia dibaringkan di tempat tidur itu. Sebelumnya ia diikat dengan tali kuat - kuat sehingga setelah totokannya dibuka ia tidak bisa kabur. Keringat membanjir di sekujur tubuh Esti Pinilih. Antara ketakutan, kecemasan dan geram campur menjadi satu. Badannya terasa sakit setelah dibawa melalui perjalanan cukup melewati, tebing, ladang dan jurang yang cukup dalam. Itu jalan memotong.

Jarit yang membebat tubuhnya hanya tipis, kadang kain itu melorot dan Esti Pinilih melihat tubuhnya yang setengah telanjang, bagian dadanya terbuka sehingga lelaki yang menunggunya sepertinya sangat ingin melihat bagian yang paling menarik dari seorang perempuan. Daging yang tersembul begitu indah dari perempuan yang tengah mekar – mekarnya.

Itukah yang diinginkan para bangsat laknat yang mempermainkan perempuan hanya sebagai tumbal. Mereka akan menghancurkan masa depan dengan merusak keperawanan, mengambil darah sucinya dan menjadikannya sebagai korban dari ritual gila. Esti Pinilih berpikir keras. Sebelum menjadi korban ia akan harus kabur. Ia masih ingat jalan yang dilalui oleh penculik, sehingga ketika mereka lengah karena kelelahan ia akan kabur.

Sayup – sayup ia mendengar jeritan dan lolongan kesakitan. Hampir setiap saat ia mendengar perempuan yang kesakitan. Saat ini ia juga terluka oleh goresan ranting – ranting, cukup perih tapi ia tidak akan membiarkan menjadi korban ritual gila orang – orang yang bersekutu dengan iblis. Pasti ia akan digilir dan menjadi korban. Sebelum terkerangkeng dan tidak berdaya oleh kebringasan mereka mending berupaya kabur. Sebuah upaya yang sebetulnya sia - sia sebab pengawasan di tempat itu ternyata ketat sekali.

Ikatan di tangan Esti Pinilih kuat sekali. Bagaimana ia bisa mengurai talinya. Dengan penerangan teplok Esti sempat melihat potongan bambu yang ujungnya cukup tajam. Ia berusaha mendekat dengan kakinya ia menginjakkan kakinya ke potongan bambu itu ia geser- geserkan sehingga akhirnya potongan itu bisa mendekat ke tubuhnya. Dengan jari jari kakinya ia kemudian angkat potongan bambu itu, lalu ia membungkuk dan menggigit potongan bambu. Ketika sudah dalam gigitannya ia dekatkan ke tangan yang diikat. Pelan- pelan akhirnya potongan bambu itu sudah bisa ia pegang.Ia berusaha menggesek – gesek tali itu dengan pinggir potongan bambu. Cukup lama berusaha memotong sedikit dari sedikit tali itu. Keringat mengucur dan ia sebetulnya kehausan. Kilatan keringatnya tampak jelas. Bebatan kainnya yang mengendor, membuat siapapun lelaki yang ada di dekat situ tidak beranjak. Tapi mungkin karena kelelahan lelaki yang menculik itu tertidur pulas.

Akhirnya tali yang mengikat tubuh Esti Pinilah terurai. Lelaki penculik itu mulai bergerak, ia tampaknya mulai bangun. Sebelum bangun Esti harus bergerak cepat. Ia mengambil benda tumpul yang ada di dekat tempat tidur. Setelah pelan - pelan bangun dengan cepat Esti Pinilih menghantamkan benda tumpul itu ke tengkuk orang itu. Segera jatuh lunglai. Ia lalu mengambil kain putih yang ada di dekat tempat tidur, lalu membebatkan ke tubuhnya untuk menutup auratnya yang cukup terbuka.

Setelah itu ia mengambil kain sarung laki - laki itu dan ia menutup tubuhnya dengan kain sarung itu untuk keluar sarang. Tanpa rasa beberapa orang sempat berpapasan, dikiranya adalah temannya melihat sarung yang dikenakan.

Esti segera menyisir jalan yang sempat diingatnya. Ia menuju tempat rahasia, tempat para penculik itu keluar masuk. Ia buka gerbang dan kemudian masuk ke lorong itu.

“Berhenti!!”

Jantung Esti serasa copot mendengar bentakan yang ada di belakang, namun ia tidak mempedulikan ia harus segera kabur. Tidak peduli akan bentakan yang keras di belakang, terus berlari dan berlari sampai menemukan jalan yang menjadi tempat rahasia para penculiknya. Dari belakang suara orang berlarian terus mendekat, menggeruduk dan membuat jantung hampir copot saking takutnya. Tapi demi menyelamatkan diri Esti akan terus berlari dan berlari.