Now Loading

Menguak Tabir

Part 18 - 

Pagi telah sempurna menyapa, tapi hujan deras belum juga berhenti  mengguyur kota, seolah ingin menuntaskan dahaga semesta setelah kemarau  melampaui masanya. Buliran air berlomba mencapai bumi, menimbulkan genangan tanpa  menghiraukan mereka yang  kebingungan untuk melangkah,  takut bukan cuma air,  tapi cipratan tanah basah akan mengotori baju-baju resik mereka yang akan berangkat menjemput rezeki. 

Natcha melangkah setengah berjinjit menghindari genangan-genangan kecil yang tak memberi pilihan. Mengembuskan napas lega ketika kaki menapak di halaman kuil. Namun, gurat senyum mendadak lesap saat melihat sosok tinggi kekar menaiki mobil yang segera meluncur membelah larik-larik jalan raya.
 
Kepalang tanggung, perempuan bergaun tanpa  lengan itu melangkah masuk, suasana kuil yang sepi membuatnya leluasa berlama-lama di depan  patung Sang Budha. 

Ada sejuk menyelinap, saat bibirnya merapal doa  yang entah  sudah berapa  lama tak  terucap. Harusnya malu  memiliki kakak seorang bikkhu, sedang ia memutuskan untuk tidak menginjakkan kaki lagi di tempat suci ini setelah hati terpatahkan oleh cinta. 

Bukan karena sebuah pengkhianatan cinta, tapi karena cinta itu sendiri  terlalu suci untuk dinafikkan sebatas cinta dua lawan jenis. Ada panggilan  cinta  yang lebih tinggi, Thien -- laki-laki yang dicintainya melepaskan semua atribut dunia demi melakoni pilihan takdir sebagai seorang  Bikkhu.

Natcha menyusut kasar air mata  yang luruh tanpa  permisi. Merasa sia-sia meneteskan air mata untuk kisah kelam yang telah dikuburnya. Tunas cinta baru telah tumbuh, meski ia tidak tahu apakah perasaannya dapat berlabuh. Namun, perempuan berhati lembut itu yakin, satu saat hatinya akan bersatu dengan sang pemiliknya.

Seseorang  memasuki ruangan, dari aroma tubuhnya yang khas, Natcha tahu yang datang seorang laki-laki. Ia tak ingin peduli, tapi entah tiba-tiba seperti ada yang mendorongnya untuk menyapa laki-laki itu.

Natcha bergeming sesaat, ragunya mendominasi, tak  punya alasan untuk melempar sapa, rasanya tak etis jika harus berujar lebih dulu pada laki-laki yang tidak dikenalnya. Tapi dorongan itu begitu kuat, membisikkan bahwa jawaban dari teka-teki yang dihadapi ada pada laki-laki itu. 

"Apakah Anda melihat Bikkhu Ethan?" tanya laki-laki itu tiba-tiba. Natcha menoleh kaget, pucuk dicita ... laki-laki itu menyapa.

"Ehmmm, Bikkhu tadi  keluar dengan tamu, sepertinya dijemput," jawab Natcha gugup. 

"Apakah sangat penting untuk bertemu dengan Bikkhu?"

"Bisa dibilang  begitu," ujar laki-laki itu, tampak kecewa dan putus asa tergambar di rautnya. 

"Saya Natcha, adik Bikkhu Ethan." Entah keberanian dari mana, perempuan itu mengasongkan tangannya.

"Oh, saya Jovan." Laki-laki menyambut tangan Natcha dan menjabatnya. 

"Sebenarnya tidak terlalu penting, saya hanya ingin bicara masalah Aaron," ujar laki-laki itu setengah  bergumam.

"Ah, biarlah ... biar besok saya ke sini lagi," sambungnya sambil berdiri, hendak beranjak.

"Tunggu!" cegah Natcha. "Bisakah kita bicara?" 

Laki-laki itu menghentikan langkah, menoleh dan menatap Natcha dengan mimik heran.

"Jika itu tentang Aaron, tolong, bisakah kita bicara?" 

"Apakah kamu mengenal Aaron?" selidik Jovan.

"Saya adalah perawat. Saya yang merawat dan menjaganya selama di rumah sakit," tegas Natcha

"Benarkah?" tanya Jovan, perlahan sikapnya mencair.

"Bagaimana  kondisi Aaron saat ini?"

"Aaron sudah sadar dari koma, dan sudah melewati masa kritis," ujar Natcha menjelaskan. 

"Syukurlah," jawab Jovan.

"Setidaknya setelah apa yang dia lakukan, Sang Adi Buddha masih memberikan kesempatan  kedua untuk memperbaiki kammanya."

"Sepertinya kamu tahu banyak tentang Aaron?" selidik Natcha. Laki-laki bertubuh kecil itu mengedikkan bahu, lalu menghela napas panjang.

"Panjang ceritanya dan tidak elok menceritakan aib orang lain," kilah Jovan.

"Aku tak memaksa, tapi aku butuh informasi tentang masa lalu Aaron," ujar Natcha setengah mendesak.

"Untuk apa?" sela Jovan.

"Banyak kejadian aneh di rumah sakit sejak Aaron dirawat."

"Maksudmu hantu?"

'Benar, kamu tahu?" selidik Natcha. Laki-laki menggeleng.

"Akhir-akhir ini banyak penampakan hantu di rumah sakit sejak Aaron dirawat. Hal yang jarang terjadi sebelumnya."

"Apakah hantu perempuan?"

"Kamu mengetahui sesuatu?" Lagi-lagi Natcha bertanya penuh selidik, ia makin penasaran, dan intuisinya mengatakan  laki-laki yang bersamanya saat ini menyembunyikan sesuatu tentang Aaron.

"Entah, apakah ini ada hubungannya atau tidak. Sejak Aaron mengalami kecelakaan, seringkali terjadi kemunculan sosok hantu-hantu perempuan, bahkan di kuil ini."  Jovan menghela napas berat, matanya menatap kosong.

"Saya tidak tahu apakah hal itu saling berkaitan dengan kamma yang dilakukan Aaron semasa hidup."

Keduanya terdiam, sibuk bermain dengan pikiran masing-masing. Jovan tak berani bicara terlalu  banyak, bagaimanapun tak layak membicarakan keburukan orang lain. Apalagi mengaitkan kemunculan hantu-hantu itu dengan Aaron, bagaimana cara membuktikannya?  Namun, jika benar hantu-hantu itu adalah jelmaan dari perempuan korban pembunuhan yang dilakukan Aaron .... 

"Tunggu! Katamu ada kemungkinan hantu itu adalah kamma yang dilakukan Aaron semasa hidup. Apakah Aaron telah melakukan kejahatan?" desak Natcha tiba-tiba. Jovan bergeming, tak menyangka perempuan itu bertanya  demikian. 

"Tolong katakan dengan jujur, apa sebenarnya yang dilakukan Aaron?"

"Saya tidak tahu," elak Jovan.

"Bohong ... tolong jujur padaku, ini penting." Natcha terus  mendesak.

"Sejak koma, Aaron sering mengigau, bahkan tiba-tiba sering terbangun dalam keadaan tidak sadar, seperti dihantui sesuatu. Bahkan hingga sekarang Aaron masih sering mengalami hal seperti itu. Di rumah sakit sering ada penampakan  hantu perempuan, mungkin itu hantu yang sama yang menjajah alam pikiran bawah sadar Aaron," papar Natcha panjang lebar. Jovan menghela  napas panjang, ia ingin jujur agar beban yang selama ini menyesak tak dipikulnya sendiri, tapi ia tidak tahu  apakah perempuan  yang baru dikenalnya ini bisa dipercaya.

"Tolong, kamu bisa mempercayaiku, saat ini Aaron mengalami amnesia, salah satu terapi adalah dengan mengingatkan kejadian sebelum ia kecelakaan."

"Tapi bagaimana jika itu adalah hal buruk? Suatu tindak kejahatan misalnya?" 

"Ceritakan saja, ibarat puzzle, tidak semua kepingnya membantu, nanti aku akan memilah kepingan mana  yang dibutuhkan untuk membentuk satu gambar."

"Tapi berjanjilah kamu akan menjaga rahasia ini!" tandas Jovan.

"Jika itu maumu, lagipula aku mencintai Aaron, aku ingin dia sembuh."

"Kamu benar mencintai Aaron?" 

"Mungkin ... mungkin juga sekedar empati atas apa yang menimpanya. Tidak penting bagimu, bagiku yang terpenting  adalah membuatnya sembuh."

Jovan  mengisap udara kuat-kuat, memenuhi rongga dadanya dengan oksigen sebanyak-banyaknya, perlahan diembuskannya seolah dengan cara itu bebannya terlepas satu persatu. Terbata ia mulai menyusun kata, bercerita  dari awal kisah cintanya dengan May, yang ternyata lebih memilih Aaron, lalu pembunuhan itu, hingga kesaksiannya saat dengan penuh angkara Aaron membakar gudang yang didalamnya terdapat  mayat-mayat korban pembunuhannya. 

Angkara telah menguasai pikirannya, hingga tidak lagi bisa mendengar  nuraninya berkata, dalam benak cuma ada satu tekad, melenyapkan semua penghalang agar sepak jahatnya tak  terendus,  tapi takdir tak pernah salah, siapa  yang menabur dia akan menuai. Aaron telah nenuai kamma dari perbuatannya sendiri. Kecelakaan itu adalah hukuman dari Sang Pemilik Kehidupan  yang tidak rela ketika ada yang mempermainkan nyawa manusia.

Jovan mengakhiri kisahnya, suaranya bergetar, matanya menatap nanar pada Natcha. 

Perempuan itu mendengarkan kisah yang dituturkan Jovan  dengan  perasaan bergemuruh. Tak menyangka tabir  kehidupan Aaron begitu gelap, jejak masa silamnyap terlalu kelam. Air matanya deras mengalir, entah  untuk sesal atas  rasa yang terlanjur singgah, atau gundah yang membuncah kehilangan arah. Tak tahu harus bagaimana ...  tabir masa lalu memang telah lewat, tapi  jalan di depanpun terlalu berat. 

"Saya tidak bermaksud ...." Jovan  merasakan  tenggorokannya tercekat, tak mampu sekedar menyemat kata maaf. Natcha mengangkat  tangan, mengisyaratkan agar laki-laki itu tidak bicara  lagi.

"Kamu tidak salah, tabir memang harus diungkap." ucap Natcha lirih.

"Tapi ...."

"Sttt ...." Natcha memotong kalimat Jovan. "Kamu sudah melakukan tugasmu. Sudah seharusnya Aaron menerima ganjar dari setiap kesalahannya. Aku hanya ingin membantunya untuk sembuh, jika nanti harus berakhir di pengadilan, memang sudah selayaknya ia mendapatkan hukuman atas perbuatannya."

"Maafkan saya!" bisik Jovan lirih.

"Sekarang tolong tinggalkan saya sendiri, saya ingin berdua dalam audiensi dengan  Sang Adi Buddha," pungkas Natcha akhirnya.

"Kamu nggak apa-apa?" cemas Jovan.

"Aku akan baik-baik saja. Tolong tinggalkan saya sekarang!"

Jovan melangkah keluar, langit mendung bergeser menjauhi kuil, sebongkah batu seakan terangkat, membuat hatinya sedikit lega. Laki-laki itu menoleh ke belakang, perempuan itu tampak tengah khusuk dalam dialog pribadinya dengan Sang Pemilik Jagad Semesta. Hatinya berdesir seakan ikut merasakan sakit dan kecewa yang menghujam tiba-tiba pada diri perempuan baik itu.

**


l