Now Loading

Mencari Informasi

Part 17 -  

Setelah Arya meninggalkan ruangan, suasana pun hening ... kedua dokter muda itu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Dokter Felix masih membaca hasil observasi sambil sesekali membubuhkan tanda pada kertas yang di pegangnya. Mata tajamnya menelisik satu demi satu setiap huruf yang tertera, berharap menemukan jawab dari masalah yang sedang dihadapi pasiennya.

"Jadi, Dok, mengenai kasus pasien Aaron tadi,  gejala awalnya sulit dikatakan bahwa  pasien mengalami amnesia." Dokter Farsha memecah kesunyian, dengan mengajukan tanya.

"Benar, Dok. Karena tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi penderita, kita harus tahu pasti penyebabnya," jawab dokter Felix. Ia menutup lembaran kertasnya, mengambil kursi dan duduk menghadap dokter Farsha.

"Ingatan manusia umumnya melibatkan beberapa bagian pada otak. Apabila terdapat penyakit atau cedera yang memengaruhi otak, hal tersebut berpotensi berdampak pada ingatan pula. Kehilangan ingatan dapat terjadi akibat adanya kerusakan struktur otak yang membentuk sistem limbik. Sistem yang  berfungsi mengontrol emosi dan ingatan seseorang."

"Bukankah struktur-struktur yang membentuk sistem limbik meliputi thalamus dan formasi hippocampus?" Dokter Farsha menyanggah untuk meyakinkan.

"Benar. Thalamus terletak di bagian tengah dan terdalam otak manusia,  sementara hippocampus berada di lobus temporal pada otak," jawab dokter Felix.

"Kita tahu bahwa ada beberapa kondisi kesehatan yang dapat memicu terjadinya kerusakan pada fungsi ingatan otak, diantaranya demensia yaitu penurunan fungsi secara menyeluruh seperti yang terjadi  karena Alzheimer."

"Saya juga pernah menemukan penderita yang mengalami anoksia, saat  tubuh kekurangan  cairan juga dapat memengaruhi  dan memicu terjadinya hilang ingatan." Dokter Farsha mengingat sesuatu.

"Benar, tapi apabila anoksia tidak terlalu parah,  tidak berpotensi merusak otak, hilang ingatan pun mungkin akan bersifat sementara."

"Bagaimana dengan hippocampus? Bukankah Hippocampus adalah bagian otak dan sistem limbik yang bertugas mengatur memori dan ingatan manusia?" tanya dokter Farsha.

"Sel-sel otak yang berperan mengatur ingatan ini bersifat lebih rapuh dan memakan banyak energi. Sel-sel ini mudah rusak oleh anoksia dan ancaman lainnya, seperti zat-zat beracun.

"Ketika hippocampus seseorang mengalami kerusakan, maka akan kesulitan membentuk ingatan baru. Jika hippocampus pada kedua sisi otak seseorang terganggu, ada kemungkinan akan mengalami anterograde amnesia total.

"Pada kasus pasien Aaron, saya cenderung amnesianya disebablan oleh cedera kepala. Mengingat  pasien baru mengalami kecelakaan," tukas dokter Farsha.

"Memang benar cedera kepala yang traumatik, termasuk stroke, tumor, dan infeksi, dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan pada otak. Kerusakan juga meliputi kondisi hilang ingatan permanen. Selain itu, kondisi gegar otak juga dapat mengganggu ingatan seseorang selama beberapa jam, hari, atau minggu sebelum dan sesudah seseorang mengalami kecelakaan." Dokter Felix menjelaskan analisanya.

"Namun, dari hasil observasi dan beberapa tes yang dilakukan, ada indikasi bahwa pasien juga sering mengonsumsi alkohol. Sebagaimana kita ketahui bahwa minum alkohol berlebihan dalam jangka waktu singkat dapat menyebabkan pingsan atau blackout. Kondisi ini biasanya termasuk dalam hilang ingatan jenis anterograde.
Sementara itu, konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan munculnya sindrom Wernicke-Korsakoff."

"Jadi sebenarnya apa penyebab pasien mengalami antetograde amnesia, Dok?" cecar dokter Farsha ingin tahu

"Kasus yang cukup komplek ... pasien adalah mengonsumsi alkohol jangka panjang yang mengalami cedera kepala.
Selain itu, dari hasil tes juga ditemukan adanya Ensephalitis, atau peradangan otak yang disebabkan oleh infeksi seperti herpes simplex virus."

"Bukankah Ensephalitis juga akibat penggunaan obat seperti Benzodiazepines ... yang biasa dipakai untuk  menangani kegelisahan dan gangguan tidur?" Dokter Farsha mengerutkan alis, berusaha menyimpulkan sesuatu.

"Dari semua indikasi penyebabnya, kita hanya bisa mengecilkan faktor resiko. Karena amnesia adalah kondisi yang dapat menimpa siapa saja dari berbagai golongan usia dan ras. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi ini."

"Artinya memiliki satu atau semua faktor risiko bukan berarti seseorang dipastikan mengalami kondisi ini. Ada kemungkinan pula seseorang dapat mengalami, meskipun tidak memiliki faktor risiko satu pun." 

Suara pintu diketuk, kedua dokter muda itu saling brrpandangan, menanti siapa yang akan muncul dari balik pintu. 

"Silakan masuk!" ujar dokter Farsha.

Suara gagang ditekan dan pintu terbuka, seorang perempuan menyembulkan kepala, menyapukan pandangan ke seluruh ruangan.

"Suster Natcha, ada yang bisa dibantu?" tanya dokter Farsha.

"Maaf, Dok, Apakah saya menganggu?" Ragu Natcha bertanya.

"Tidak, silakan masuk!" Dokter Farsha beranjak dari tempat duduk menuju  sebuah sofa panjang di sudut ruang. Natcha mengambil tempat duduk berhadapan dengan dokter Felix yang sudah lebih dulu menyandarkan punggung di sofa.

"Apakah ada sesuatu yang penting sampai Suster mencari saya?" Dokter  Farsha menatap penasaran, tak biasa perawat yang terkenal pendiam itu menemui dokter  di luar jam kerja.

"Eh ... iya, Dok. Ini tentang pasien Aaron."

"Ada apa dengan Aaron?" Dokter Felix menegakkan punggungnya ketika mendengar nama pasien yang sedang diobservasinya di sebut.

"Saya beberapa kali menemukan hal ganjil pada pasien tersebut." ucap Natcha. 

"Maksudnya?" tanya dokter Felix.

"Ehmmm, saya ...." Natcha berujar ragu.

"Katakan, Suster!" tegas dokter Felix.

"Beberapa kali saya sering mendapati pasien mengigau dalam keadaan tidak sadar."

"Bukankan hal yang biasa pasien yang mengalami psiko traumatic mengigau?" sanggah dokter Felix.

"Tapi ini beda, Dok. Pasien dalam keadaan koma, tapi mengigau ketakutan. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali."

"Apakah sampai sekarang pasien masih sering mengigau?" selidik dokter Felix. Natcha mengangguk, menatap dokter berlesung pipi. 

"Tadi Suster mengatakan pasien mengigau ketakutan, apa Suster bisa menangkap igauannya?" tanya dokter Felix mencecar.

"Saya hanya bisa menangkap, pasien ketakutan, seperti sedang dihantui sesuatu dari masa lalunya. Entah apa, tapi pasien sering berteriak minta tolong." Natcha memaparlan.

"Apakah kondisi tersebut masih berlangsung hingga sekarang?" 

"Masih, Dok. Meski pasien mengalami amnesia, tapi sepertinya penggalan memori masa lalunya masih menghantui." Natcha mengurai pemikirannya.

"Aneh," ujar dokter Felix. 

"Harusnya dalam kondisi amnesia, seluruh memori akan terhapus, apalagi jika itu kejadian yang baru dialami sebelum  pasien kehilangan ingatannya," tukas dokter Felix.

"Apakah mungkin ada kekuatan lain yang menawan alam bawah sadarnya?" 
"Maksud Dokter?" Natcha tak mengerti.

"Iya, semacam entitas atau  makhluk kasat mata  yang menjajah pikiran dan menawan kesadarnnya." Dokter Felix menjelaskan.

'Maaf, apakah Dokter mempercayai adanya makhluk tak  kasat mata?" Natcha  bertanya hati-hati.

"Huum ... bukankah makhluk itu memang ada?" tukas dokter Felix.

"Benar, Dok. Tapi tidak semua orang mempercayai hal demikian, apalagi  seorang dokter yang memiliki ilmu dan intelektual tinggi, rasanya tidak percaya kalau seorang dokter percaya  hal seperti itu." sanggah Natcha.

"Saya percaya adanya makhluk astral atau semacam entitas dan sebagainya. Meski saya tidak bisa melihatnya," tukas dokter Felix.

"Oh ya, mengapa suster tanya saya percaya dengan  makhluk ghaib?"

"Hmmm ... anu, sebenarnya ... ehmm, saya sendiri nggak tahu, Dok, sejak padien Aaron itu dirawat, banyak kejadian aneh di sini." papar Natcha.

"Aneh maksudnya?" Dokter Farsha menyela penasaran. "Apakah semacam penampakan makhluk ghaib?"

"Benar, Dok.  Setiap kali pasien Aaron mengigau, saya bisa melihat kemunculan sosok-sosok yang menganggu, intuisi saya mengatakan ada kekuatan ghaib yang menjajah pikiran bawah sadarnya."

Dokter Felix,  mengerutkan kening hingga kedua  alis tebalnya bertaut, jarinya mengetuk-ngetuk meja tanda sedang berpikir.

"Bahkan setelah pasien tersadar dari koma, saya melihat sendiri hal-hal ganjil di rumah sakit ini," lanjut Natcha.

"Sayang pasien mengalami amnesia hingga kita tak bisa menanyakan apa yang terjadi sebelum mengalami kecelakaan. Saya berkesimpulan, kunci dari semua masalah adalah masa lalu pasien."

"Saya lihat Suster  Natcha cukup dekat dengan  pasien, mungkin Suster bisa membantu memulihkan ingatan pasien dengan stimulan dari masa kecilnya, keluarganya. Jika benar pasien mengalami Retrograde Amnesia, lebih mudah untuk memulihkan ingatan pasien dengan kejadian-kejadian jangka panjangnya." Dokter Farsha menyarankan. 

"Benar, saya rasa itu ide yang bagus, Suster bisa bertanya pada orang tuanya, sahabatnya, atau siapa saja yang pernah terhubung dengan masa lalunya," timpal dokter Felix. 

"Kita tidak bisa menyembuhkan pasien jika kita tidak mengetahui  akar penyebabnya. Kecuali kita membiarkan pasien dalam keadaan seperti ini."

Natcha bergeming, bukan hal yang mudah memenuhi titah yang disematkan di pundaknya, tapi rasa cinta yang diam-diam merampas  hatinya telah mengalahkan ego. Mungkin ia bisa mencari tahu dari orang tua Aaron, atau dari kakaknya -- Bikkhu Ethan, bukankah selama ini keluarga Aaron adalah penyumbang dana terbesar untuk kegiatan ibadah kuil ....