Now Loading

BAB III. UJIAN & UANG LOGAM TANDA CINTA (BAGIAN 2)

Hari itu cuaca cerah seperti hari sebelumnya. 3556P berjalan di jalan yang sama, bergandengan tangan dengan Devi, menumpahkan pertanyaan yang ada di benaknya.

Devi menjawab dengan senang hati, karena tahu bahwa dialah satu-satunya penghubung yang dimiliki cucunya ke masa lampau.

“Apa yang dimaksud dengan Indonesia? Asia Tenggara? Amerika?”

 “Indonesia dulu adalah negara tempat sekarang kaki kita berpijak. Asia Tenggara kawasan regional gabungan beberapa negara di wilayah ini. Indonesia salah satu anggotanya. Amerika berada di benua lain.”

"Dan Amerika tempat kelahiran KHAN22?"

"Ya, Sayang."

“Siapakah Sang Pencipta?”

“Apa?”

“Kemarin, kamu bilang orang pergi menemui Penciptanya.”

"Oh itu. Baiklah, Sayang. Nenek berbicara tentang Tuhan."

“Apa itu Tuhan?”

“Kurang lebih, kalau sekarang komputer sialan yang entah di mana letaknya itu. Dan para pengawas bajingan sialan itu adalah malaikat mautnya."

“Apa artinya, Devi?”

Devi menggenggam tangan cucunya lebih erat saat dia mencoba menjelaskan tentang agama. Mereka sudah berjalan cukup jauh ketika Devi menjelaskan apa itu doa.

“Nenek melakukannya setiap hari, nak, dan kamu juga harus melakukannya. Nenek berdoa kepada Tuhan untuk mengakhiri semua omong kosong ini."

“Baiklah. Aku akan berdoa, Devi.”

"Anak yang baik."

Mereka berjalan dalam diam, sampai 3556P melihat sesuatu yang bulat berkilauan di terpa sinar matahari.

"Devi, lihat!"

Dia mengambilnya dan mengangkatnya ke bawah hidung neneknya.

“Wah, kamu mendapat uang logam.”

 “Ruang? Sepertinya itu bukan tempat tinggal.”

“Bukan, Sayang. Bukan ruang seperti kamarmu. Ini uang logam. Sudah bertahun-tahun tapi masih bagus. Kami biasa menukar apa yang yang kami inginkan dengan uang."

"Uang?"

 “Ya, sayang. Sungguh menakjubkan menemukannya di sini. " Devi mengambil uang logam itu dan memeriksanya dengan cermat.

“1999. Itu tahun kelahiran Nenek."

“Kamu tahu tahun lahirmu?”

“Ya, Sayang, dan aku tahu tahun kelahiranmu juga, 2060. Tahun yang sama Gamal-ku terbunuh.”

“Apakah dia dibunuh?”

“Ya, Sayang. Dia dibunuh.” Devi mengembalikan uang logam itu kepada cucunya. “Dia dibunuh karena menjalankan ibadah. Apa yang mereka inginkan darinya? Dia adalah seorang ustaz, demi Tuhan. Dia mengajarkan Al-Qur’an secara rahasia di rumah kami, dan para pengawas masuk dan mulai menembaki semua orang. Setelah kejadian itu, Nenek datang dan tinggal dengan kalian.”

“Kenapa kamu tidak dibunuh?”

"Nenek sedang membuat kopi di dapur."

“Oh.”

“Kamu tahu ... dulu, Gamal dan aku setiap sore berjalan bergandengan menelusuri jalan ini. Mungkin itu uang logam punya dia. Sakunya selalu penuh dengan uang logam kuno dari berbagai negara yang telah dikunjunginya." Devi tertawa, tapi matanya basah.

 “Lapangan ini dulunya hijau. Ada bangku taman di mana-mana dan anak-anak muda memainkan alat musik untuk mendapatkan uang receh. DI bawah pohon itu Gamal melamar Nenek untuk menjadi istrinya."

"Istri?"

 “Betul. Sebelum KHAN22 menjodohkan semua orang dan mengatur kelahiran, kita mengenal apa yang disebut cinta. Tapi jangan khawatir, Nenek yakin jika dunia terus seperti ini, kamu tidak akan pernah mengalaminya. Kamu mungkin tidak mengetahuinya, tapi Nenek mencintaimu."

"Oh, baiklah."

“Oh, Sayang.”

Sebaliknya, Devi tidak mengetahuinya bahwa 3556P mulai merasakan hal-hal yang belum pernah dia rasakan sebelum pembicaraan ini. Keingintahuan, kegembiraan, dan meskipun dia tidak tahu apa arti sebenarnya, perasaan cinta untuk neneknya.

Ketika mereka kembali ke rumah malam itu, 3556P menyimpan uang logam itu di bawah bantalnya dan mencoba berdoa dalam hati. Dia sangat bersemangat untuk memberi tahu neneknya tentang apa yang dia doakan besok sehingga dia hampir tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, setelah sarapan dan pengujian dengan nutrisimeter, 3556P mendapat modul pelajarannya. Hatinya pecah ketika dia membaca undang-undang tambahan,

HUKUM 3901/K : AKTIVITAS LUAR RUANG YANG TIDAK DIPERLUKAN DILARANG DAN DIKENAKAN PENDISIPLINAN.

Devi melihat undang-undang baru itu di paket informasinya dan matanya membelalak. "Tidak! Mereka tidak berhak melakukan itu!"

Putra Devi, 3554L, mendongak dari piring makanannya. "Ya, mereka berhak, dan kamu tidak boleh menentang hukum di rumah ini."

"Aku kira aku membesarkan seorang lelaki, ternyata seorang banci pengecut."

Putranya berdiri dari kursinya. Dengan geram dia menuding dan meneriaki ibunya.

 “Apa kamu ingin kita semua terbunuh? Jika kamu ingin tetap tinggal di rumah ini, jangan melanggar undang-undang yang telah ditetapkan. Jika kamu melakukannya lagi, aku akan melaporkanmu!"

“Kamu akan melaporkan ibumu sendiri? Aku seharusnya tidak terkejut. Kamu yang melaporkan ayahmu, bukan? Kamu tidak ingin ada yang menyabot komputer sialan itu, kan?”

"Jika kamu terus bicara, aku akan memanggil Pengawas."

"Panggil saja! Aku lebih baik mati dengan berani seperti ayahmu daripada hidup dalam ketakutan selama sisa hidupku."

Devi bangkit dari kursinya dan menatap putranya di seberang meja. Dari balik tudungnya terlihat bara api di matanya yang menyipit tajam.

 “Kamu membunuh suamiku, ayahmu sendiri. Aku sangat malu punya anak kamu meski namamu sama dengan namanya."

“Namaku tidak sama dengan namanya!”

"Memang! Kamu tidak pantas menyandang nama itu. Jadi, apa kamu akan melakukannya? Apa kamu akan memanggil para pembunuh untuk menghabisi ibumu, 3554L?”

Tubuh lelaki itu perlahan-lahan merosot, turun kembali ke kursinya. Kalah.

"Hm, dasar pengecut. Sekarang, permisi, aku akan mengajak cucuku untuk belajar. Aku ingin dia mengetahui semua undang-undang yang tidak berguna."

Devi menggandeng tangan 3556P dan membawanya ke lorong menuju kamarnya.

 “Devi, aku ingin memberitahumu. Aku berdoa tadi malam!”

3556P menjatuhkan dirinya ke tempat tidur dan memantul di atasnya, tak bisa menahan kegembiraannya.

Devi mondar-mandir di sekitar ruangan, lengannya terlipat. "Luar biasa, tapi kita harus memikirkan jalan keluarnya."

"Tentang apa?"

 “Nah, bagaimana kita akan bicara sekarang? Nenek tidak percaya ayahmu. Nenek tahu dia akan menyerahkan Nenek ke pengawas jika dia menangkap kita sedang berbicara seperti ini."

Devi mengambil tudung kepalanya dan melemparkannya ke tempat tidur. 3556P meniru neneknya dan melemparkan kerudungnya sendiri ke tempat tidur juga. Devi membungkuk dan meletakkan tangannya di bahu cucunya.

 “Sayang, apakah kamu ingin mendengar lebih banyak hal seperti yang telah Nenek katakan padamu?”

 “Oh ya!”

"Baiklah. Kita harus memiliki rencana.”

 “Kita bisa melakukannya setelah aku selesai diperiksa!”

 “Oh, benar. Kamu tahu semua undang-undang, Sayang? ”

"Iya."

 “Dengarkan Nenek. Kamu mungkin perlu menghapalnya untuk tetap hidup, tapi kamu jangan percaya sepatah kata pun isinya. Kamu mengerti?”

"Mengerti."

 “Sekarang jangan katakan pada siapa pun, Nenek tidak menghormati hukum. Itu menjadi rahasia kita. Nenek tidak ingin ada orang gila bertopeng yang menembak Nenek. "

“Baik, Devi.”

 “Baiklah, sekarang kamu lanjutkan dan baca pelajaranmu. Nenek akan menyiapkan pelajaran versi Nenek."

Sebelum sampai di pintu, tubuh Devi berbalik.

 “Kamu berdoa untuk apa, Sayang?”

“Aku berdoa kepada Tuhan untuk mengakhiri semua omong kosong sialan ini.”

Devi tertawa. "Itu baru cucu Nenek."