Now Loading

Kepulangan ke Jakarta Ditunda Sehari

 

Baru saja kami berempat kembali ke kamar hotel dari Yayasan setelah sore jalan-jalan naik perahu ke Kampong Ayer, Kota batu dan sejenak mengintip Istana Nurul Iman.

 

“Ada surat buat mas-mas berempat “ demikian kata resepsionis di hotel ketika kami lewat lobi . Resepsionis ini juga kebetulan orang Indonesia, kami biasa memanggilnya Mas Indra.

 

Asep , yang sekamar dengan saya segera membuka surat itu dan berteriak senang.

 

“Azwar, pesawat kita pulang ternyata dibatalkan besok karena alasan operasional. Besok kita akan dijemput jam 12 siang dan hanya pindah ke Brunei Hotel. Kita pulang lusa malam . Kita ada bonus satu hari tambahan untuk mengungkap rahasia gadis di masjid perahu”,  Asep tampak sangat antusias .

 

“Tapi Aku sudah kangen pacar di Bandung. Pulang ke Jakarta aku minta cuti dua hari untuk ke Bandung “ Saya sedikit protes.

 

“Baik,  Saya  akan  kirim email dulu ke kantor pusat di Jakarta , mengabarkan  kepulangan kita berempat yang terlambat satu hari”, tambah Asep  lagi.

 

“Kalau begitu malam ini aku akan ke kantor pos untuk telepon ke Bandung, barangkali Eko dan  Zainuddin masih punya kartu telepon“, kataku kepada Asep.

 

Saya dan Asep segera pergi ke kamar sebelah, mengetuk kamar Zainuddin dan  Eko.

 

Eko baru saja selesai mandi sementara Zainuddin baru selesai salat Isya dan masih memakai sarung.

 

“Saya juga mau ke kantor pos, mau telepon istri di rumah. Mau ngabarin kalau tidak jadi pulang besok”, kata Zainuddin.

 

“Bang Zai masih punya kartu telepon?, tanya saya.

 

“Untung kemaren baru beli dua lembar yang 10 Ringgit “, kata Bang Zai lagi.

 

“Ok habis Isya kita ke kantor pos “ jawab saya senang.

 

Akhirnya kami bertiga jalan kaki ke kantor pos malam itu.  Asep tidak Ikut karena dia sedikit lelah dan masih syok dengan kejadian sore tadi di Kampong Ayer.  Lagi pula Asep sudah punya telepon genggam dan bisa mengabari ibunya di Bandung.  Selain itu, Asep belum punya pacar .

 

Jam tangan saya menunjukkan pukul 9 kurang 10 menit waktu Brunei ketika kami bertiga sampai. Suasana kantor pos cukup sepi. Jalan-jalan di sekitarnya juga sepi. Bandar Brunei di malam hari memang bagai kota mati. Walau malam ini sebenarnya akhir pekan . 

 

Hanya deretan telepon umum yang ada di tembok samping masih sedikit sibuk melayani para pekerja asing yang masih menelpon keluarga di tanah air masing-masing.

 

Setelah menunggu kurang dari 5 menit, saya dapat telepon yang kosong . Saya segera menelpon pujaan hati di Bandung.  Eni namanya. Padahal baru semalam saya menelpon. Tujuannya adalah mengabarkan kepulangan yang tertunda. Saya tidak bisa telepon lama-lama karena kartu telepon nya juga pinjam punya Zainuddin yang sedang asyik nelpon istri dan keluarga nya di rumah di telepon sebelah.  Sementara Eko asyik merokok sambil duduk di teras kantor pos.

 

“Apa khabar Bang Azwar”, tiba tiba saja seorang perempuan menepuk bahu saya ketika saya baru saja meletakkan gagang telepon di tempatnya.

 

Saya kaget setengah mati karena tidak mengharapkan  ada orang yang mengenal saya. 

 

Saya kemudian ingat , inilah perempuan yang mengajak kami berempat minggu malam lalu ke karaoke di tempat parkir.  Siapa yah namanya?, saya sedikit lupa walau masih ingat wajahnya.

 

“Saya Irma, mana kang Asep? "

“Asep tidak ikut karena dia cape “ jawab saya sedikit penasaran mengapa  dia tahu nama saya dan langsung memanggil abang .

 

“Sepertinya minggu lalu saya belum menyebutkan nama saya",  pikir saya dalam hati sambil terus penasaran memandang wajahnya . 

 

Kalau diperhatikan lumayan  cantik  Irma ini. “Eh ingat Eni di Bandung“, tiba -tiba saja nurani saya mengingatkan .

 

“Dik Irma sudah lama di Brunei?", Tanya saya lagi ke coba mencairkan suasana.

 

“Saya sejak kecil di Brunei, Ibu saya orang Indonesia , tetapi ayah saya orang Brunei”. 

 

“Maaf , saya kira  orang Indonesia, maklum bahasa Indonesianya bagus , bukan logat Brunei sini”, 

 

“Bang Azwar asli dari mana ?,Maksud saya di Indonesia”

 

“Saya sama dengan Kang Asep, Saya asli Bandung walau bapak saya dari Palembang, Ibu saya orang Bandung”. 

 

Tidak terasa saya dan Irma mulai kian akrab, walau saya masih penasaran karena banyak hal yang aneh dengan gadis Brunei blasteran Indonesia ini.

 

Saya juga belum menanyakan darimana asal ibunya di Indonesia dan apakah Irma memang kelahiran Brunei.  Saya juga belum sempat menanyakan mengapa malam-malam begini dia keluyuran sendiri di kantor pos.

 

“Maaf bang Azwar , saya harus pulang, teman-teman sudah menunggu di kereta yang ada di tempat parkir di dekat terminal “

“Boleh minta nomer telepon bimbit kamu? Tanya saya kepada Irma setengah berteriak ketika dia berjalan pelan meninggalkan kantor pos .

“Besok kita akan bertemu lagi, temui saya di Muzium Brunei siang hari”, jawab Irma setengah berteriak juga.

Sebelum saya bisa menjawab, Irma sudah menghilang.

Menghilang meninggalkan banyak tanda tanya di dalam diri ini . Siapakah Irma dan siapakah  gadis misterius teman Irma yang menghantui kami  berempat.?

Akan kah misteri ini terkuak besok di Muzium Brunei?  Saya sendiri belum tahu di mana letak museum itu.

 

Bersambung