Now Loading

BAB III. UJIAN & UANG LOGAM TANDA CINTA (BAGIAN 1)

"3556P, saya di sini untuk memberikan ujian."

Pendidik yang berdiri di ambang pintu adalah seorang pria kecil berjubah ungu. Tidak seperti Pengawas, seluruh wajahnya tertutup dan dia harus berbicara dengan suara keras agar kata-katanya terdengar dengan jelas.

3556P mengangkat kepalanya dan duduk tegak. Pendidik masuk dan berdiri tepat di depannya, memegang tablet.

“Kemarin, skor ujianmu 100 dari 100, apakah ini benar?”

“Ya, benar.”

“Kamu tahu bahwa nilai ujian yang lebih rendah dari 90 akan membuatmu dihukum, benar?”

“Ya, saya sadar.”

"Bisakah kamu memberi tahu saya apa bentuk hukumannya?"

“Hukumannya sangat berat.”

"Dan?"

“Akan ada tes ulang, jika gagal mendapatkan lebih dari 90 pada tes ulang, akan ada penjara.”

"Benar." Pendidik meletakkan tabletnya di meja, lalu memasang perangkat penguji di tangan 3556P dan membaca pertanyaan-pertanyaan yang melintas di layar.

“Di mana kita saat ini tinggal, 3556P?”

"Barak F." Perangkat penguji berubah menjadi hijau. Dia menjawab dengan benar.

“Barak F berada di mana?”

“Katulistiwa.” Hijau.

"Berapa banyak undang-undang yang berlaku saat ini di Barak F?"

“Satu juta, delapan ribu, sembilan puluh, tu—maksud saya, sembilan. Satu juta, delapan ribu, Sembilan puluh sembilan." Hijau.

“Benar, saya yakin kamu telah membaca adendum dua undang-undang baru di pelajaranmu.”

3556P merasakan wajahnya memerah. Ya, aku membacanya.

“Apa hukuman untuk keluar dari rumah tanpa pendamping?”

“Pendisiplinan dengan cambuk.” Hijau.

“Apa hukuman untuk menolak nutrisi?”

"Eksekusi." Hijau.

Alat penguji menyala hijau untuk Sembilan puluh dua pertanyaan berikutnya. 3556P merasa lelah dan haus, tetapi nutrisi tidak diperbolehkan selama pemeriksaan, sesuai hukum 3642/E.

“Dari mana asal undang-undang kita?”

 “KHAN22.” Hijau.

3556P memikirkan apa yang akan dijawab neneknya jika mendapat pertanyaan itu dan tanpa sengaja tertawa kecil.

"Ada apa?"

"Maafkan saya. Saya tersedak."

“Apakah kamu sakit, atau sesuatu yang lucu? Aku harus melapor."

"Tidak, tidak. Maaf, aku hanya haus."

 “Kamu akan mendapat nutrisi setelah ujian selesai. Jika kamu membuat keributan seperti itu lagi, aku akan melaporkanmu untuk menerima pil-13, atau menerima hukuman karena mengejek soal ujian, apakah kamu mengerti?"

"Ya."

 “Apa itu KHAN22?”

3556P memberikan jawabannya sambil menahan tawa, mengetahui apa yang akan dikatakan neneknya atas pertanyaan itu. Devi akan menjawab, "Ciptaan iblis, Sayang." Namun 3556P memberikan jawaban yang diharapkan oleh setiap Pendidik di Barak F.

 “Mesin yang mengetahui segalanya, yang membuat kita tetap aman, sehat, dan tertib.” Hijau.

 “Apa hukuman jika memiliki lebih dari satu anak?”

“Eksekusi massal.” Hijau.

“Apa hukuman untuk mendidik tanpa izin pendidik?”

Pertanyaan yang ditakutinya. 3556P menunduk menatap ujung kakinya. Noda darah itu masih di sana.

"Eksekusi," dia berbisik.

"Bicara yang keras!" raung sang Pendidik.

"EKSEKUSI." Hijau.

“Ujianmu sudah selesai. Nilai 100.”

Pendidik mengambil tabletnya dari atas meja lalu berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan gadis yang kelelahan itu terkulai di kursi. Dia merasa seperti mengkhianati neneknya dengan  jawaban terakhir. 3556P berharap dia tidak menjawab, karena salah menjawab satu pertanyaan tidak akan membuatnya berada dalam bahaya.

"Maafkan aku," katanya entah kepada siapa. “Jawaban yang benar adalah dibunuh.”

Ada satu jam tersisa sebelum makan malam, dan dia memutuskan untuk menggunakannya memikirkan hari setelah neneknya dan dia menemukan mayat di pinggir jalan.