Now Loading

Retrograde Amnesia


Part 16 - 

"Amnesia, atau yang dikenal juga dengan istilah sindrom amnestik, adalah sebuah kondisi yang menyebabkan penderitanya kehilangan memori atau ingatan." Dokter Farsha menghela napas panjang, Arya menatap dokter muda itu hingga  kedua pasang mata saling bersitatap.

"Jadi anak saya kehilangan ingatan, Dok?" tanya Arya dengan suara bergetar.

"Benar, ingatan tersebut umumnya meliputi informasi, fakta-fakta, dan pengalaman personal," ujar dokter Farsha menegaskan

"Beberapa orang yang menderita kondisi ini tidak dapat mengingat fakta atau pengalaman yang terjadi di masa lalu. Lebih parahnya lagi, banyak pula yang mengalami kesulitan membentuk atau menerima informasi dan memori baru."

"Apakah itu artinya anak saya kehilangan identitas diri?" Arya merasa cemas.

"Untuk kasus ini saya masih melakukan observasi dan sedang menunggu hasil,  umumnya beberapa penderita masih memiliki pengetahuan atau sedikit ingatan tentang identitas dirinya. Banyak juga yang masih memiliki kemampuan motorik seperti biasa."

"Apakah kondisi ini akibat kecelakaan itu, Dok?"

"Kemungkinan besar karena ada kerusakan pada bagian otak yang berfungsi memproses ingatan, kecelakaan bisa menjadi penyebabnya. Bisa juga karena beberapa masalah kesehatan yang  memicu terjadinya kondisi ini, seperti demensia, stroke, stres, depresi, atau cedera kepala."

"De ... demen, apa tadi, Dok?"

"Demensia." Dokter Farsha menegaskan.

"Demensia sebenarnya  bukan penyakit spesifik, tetapi merupakan sekelompok kondisi yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak, seperti hilangnya memori dan kemampuan menilai." 

Arya menunduk, buliran bening meloncat dari sudut matanya, tangannya saling meremas seolah ingin melumat resah yang terus menyesak.

"Bapak jangan terlalu cemas dulu, kondisi ini umumnya hanya terjadi untuk sementara waktu. Namun, dalam beberapa kasus, penderitanya berisiko mengalami kehilangan ingatan permanen."

"Lalu penanganannya bagaimana, Dok?"

"Ada beberapa jenis penanganan medis dapat yang diberikan untuk meningkatkan kemampuan ingatan penderita amnesia. Selain itu, dukungan psikologis dari orang-orang sekitar pun juga penting untuk mengatasi kondisi ini."

Seseorang mengetuk pintu, serentak dokter Farsha menoleh ke arah asal suara.

"Masuk!" ucapnya tegas. Pintu terbuka, seseorang menyembulkan kepala dari celah pintu yang terbuka.

"Maaf, apakah saya menganggu?" sapa laki-laki di pintu.

"Dokter Felix, silakan masuk!" ujar dokter Farsha. Laki-laki yang disebut sebagai dokter Felix melangkah masuk, ditangannya tergenggam sebuah berkas dokumen.

"Ini hasil observasi dari pasien Aaron," ucapnya sambil menyerahkan berkas tersebut.

"Bagaimana  hasil observasinya, Dok?" tanya Arya antusias. 

"Ohya, sebelumnya kenalkan ini Bapak Arya, orang tua pasien." Dokter Farsha memperkenalkan. "Pak Arya, perkenalkan ini Dokter Felix, beliau yang menangani kasus Aaron."

Arya mengulurkan tangan yang disambut hangat oleh dokter Felix. Laki-laki yang beberapa tahun lebih tua usianya itu memiliki wajah oriental yang khas, senyum yang melengkung menambah kesan ramah, tapi garis ketegasan terpampang jelas. 

"Bagaimana  hasil observasinya, Dok?" cecar Arya tak sabar.

"Hasil observasi menunjukkan adanya Retrograde Amnesia."

"Retro .... retro apa, Dok?"

"Retrograde Amnesia, jenis retrograde terjadi ketika seseorang  kehilangan memori atau ingatan yang telah terbentuk sebelumnya selama hidupnya. Jenis hilang ingatan ini umumnya berefek pada ingatan-ingatan yang masih baru terbentuk." Dokter Felix menunjukkan sebuah gambar, sekilas seperti tengkorak kepala manusia, dengan tulisan-tulisan yang tidak dimengerti dan tampak asing.

"Jadi disini,  ingatan atau memori yang lebih lama, seperti kenangan masa kecil, membutuhkan waktu lebih lama untuk terdampak. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan hilang ingatan jenis retrograde adalah demensia, dan biasanya yang menderita kondisi ini juga  mengalami masalah dengan ingatan jangka pendeknya, sehingga mereka kesulitan menangkap informasi baru."

"Apakah artinya anak saya melupakan semua kejadian masa lalunya, tapi sekaligus tidak bisa menerima informasi baru yang kita sampaikan?"

"Biasanya pengalaman dan informasi baru akan lebih mudah hilang, sedangkan ingatan-ingatan yang usianya lebih lama akan tetap membekas. Sebagai contoh, beberapa orang mungkin bisa mengingat pengalaman masa kecil dan mengetahui nama presiden-presiden sebelumnya, tetapi mereka tidak dapat mengingat siapa nama presiden yang baru, sekarang bulan apa, atau makan apa saat sarapan tadi pagi."

"Apakah itu artinya anak saya bisa mengingat kejadian masa kecilnya ... tapi tidak bisa mengingat kejadian yang dialami tiga bulan yang lalu?" 

"Tepatnya seperti itu, tapi meski demikian, kondisi ini tidak memengaruhi kepandaian, pengetahuan umum, kesadaran, penilaian, sifat, dan identitas penderitanya. Orang-orang yang mengalami kondisi ini biasanya masih dapat memahami kalimat tertulis maupun lisan."

"Tapi, Dok, jika demikian mengapa anak saya tidak bisa mengenali kami orang tuanya, bahkan dia tidak ingat siapa dirinya."

"Itu semua erat kaitannya dengan demensia yang dia alami. Butuh waktu untuk memulihkan. Namun, dalam kasus ini penderita masih dapat mengingat cara berjalan yang benar, cara berbicara, bahasa yang dikuasai, serta mempelajari keterampilan baru seperti naik sepeda, olah raga atau bermain  musik. Penderita biasanya dapat mengerti bahwa ia mengalami kelainan pada ingatannya."

"Satu lagi ... amnesia tidak sama dengan demensia, meskipun salah satu penyebab amnesia adalah denensia."

"Maksud Dokter?" Arya menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia tak  paham apa yang disampaikan dokter Felix, saat ini yang ada dalam pikirannya bagaimana agar ingatan Aaron bisa pulih.

"Begini, Pak." Dokter Felix membetulkan letak kacamatanya yang melorot.

"Penting untuk diketahui bahwa amnesia tidak sama dengan demensia. Amnesia memengaruhi ingatan, tapi  tidak akan mengganggu bagian kognitif penderitanya. Arti penderita masih dapat mengenal siapa dirinya dan mengingat konsep waktu."

"Apakah demensia memengaruhi fungsi kognitif?" 

"Benar,  penderita demensia biasanya juga  mengalami masalah pada fungsi kognitifnya. Kondisi ini dapat mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Selain itu gejala lainnya meliputi memori yang salah, kebingungan, atau disorientasi." 

"Apakah penderita demensia selalu mengalami disorientasi?" 

"Tidak semuanya, hal itu tergantung pada penyebabnya, kondisi ini juga kemungkinan menunjukkan gejala-gejala tambahan, seperti confabulation."

"Confabulation ... apa itu, Dok?"

"Confabulation atau biasa disebut ingatan atau memori palsu, baik memori yang dibuat-buat maupun diceritakan dengan latar belakang waktu yang berbeda."

"Selanjutnya apa yang bisa saya lakukan, Dok?"

"Kami tim dokter sepakat akan fokus pada penyembuhan phisik terlebih dahulu, setidaknya hingga stabil dan dapat berkomunikasi. Perlahan kami akan mencoba membangkitkan ingatan masa kecilnya, dengan demikian lebih mudah baginya untuk mengenali diri sendiri." 

Arya manggut-manggut, dadanya terasa sesak, seperti ada puluhan ribu ton batu yang menghimpit, ia tak  tahu apakah harus bahagia atau sedih dengan kondisi Aaron saat ini. Jika Aaron tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja terjadi, mungkin itu lebih baik agar lebih mudah menghapus jejak kelamnya,   tapi di sisi lain, rasanya terlalu naif jika harus bahagia dengan kemalangan yang menimpa anak laki-laki satu-satunya itu. 

Arya menghela napas panjang, banyak yang ingin ditanyakan, tapi bibirnya terasa kelu, laki-laki itu takut pertanyaannya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. 

Malam makin larut, Arya pamit meninggalkan ruangan dokter, otaknya terasa  lelah, pikirannya absurd entah apa yang membuatnya punya  pikiran gila, dadanya makin perih, tapi  bayangan-bayangan masalah yang memuncak di otak terus menari-nari.