Now Loading

Takdir atas Kamma


Part 15 - 

Tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi  di masa depan. Kejadian demi kejadian berikutnya  adalah teka-teki, yang pada akhirnya akan membuat diri tersadar bahwa manusia boleh berencana, namun ketetapannya di tangan Sang Maha Pencipta. 

Demikian juga atas setiap dosa dan kesalahan, manusia boleh memberi label pada seorang pendosa, tapi Tuhan jua lah yang paling berhak atas nirwana. Bahkan tak seorangpun berhak menempati  neraka tanpa murka-Nya, pun melanggeng ke surga tanpa ampunan-Nya. 

Natcha terbangun dari tidur karena dikagetkan suara di dalam ruang ICU. Laki-laki gagah yang masih pulas itu kembali mengigau, terdengar seperti mengaduh dan meminta ampun dengan mata yang terpejam.

Dari celah tirai yang sedikit terbuka, Natcha berusaha mengintip, penasaran apa yang terjadi. Apalagi setelah kejadian semalam yang membuatnya nyaris pingsan, suster di selasar rumah sakit, mayat-mayat di bangsal, lalu satpam yang memberinya minum ... semua menyimpan tanya.

Natcha juga tak mengerti tentang bangsal itu, padahal sebelumnya  berkali-kali melewati daerah tersebut, tapi tak pernah mengetahui keberadaan ruangan yang sangat luas itu.

Suasana rumah sakit yang sepi terasa mencekam, meski jalanan dan halaman di depan ruang ICU  disorot cahaya bulan. Namun, apa yang terjadi di dalam ruang ICU tak tampak jelas. 

"Suara apa tadi?" batin Natcha, pikirannya masih dikuasai rasa takut setelah apa yang dialami beberapa jam lalu.

"Mengapa banyak hal tak masuk akal sejak laki-laki ini dirawat di sini?

Perlahan Natcha menghimpun keberanian, melangkah mendekat. Laki-laki itu masih tertidur, dengkurnya halus berirama, seolah tak ada yang mengusik lelapnya. 

"Lalu siapa yang mengigau tadi?" batin Natcha lagi. Ia mengembus napas panjang, meredam kacau pikirannya.

Dengan langkah berat, perempuan itu kembali ke kursi panjang, mencoba kembali memejamkan mata. Namun, ketegangan tadi telah memusnahkan kantuknya. Dadanya masih gemetar, khawatir apalagi yang akan terjadi di hari esok. 

***

Pagi ini langit mendung. Awan berarak seperti tak rela bumi disengat cahaya mentari. Meskipun demikian, kota ini tetap anggun dalam selendang biru yang mengitarinya. 

Natcha duduk merenungi peristiwa ajaib yang menyapanya semalam.  Peristiwa yang  membuatnya semakin yakin bahwa tiada siapa pun yang bisa mengetahui masa depannya, bahkan apa yang terjadi di masa lalu memiliki andil atas apa yang terjadi hari  ini dan esok. 

Suara erangan kembali datang dari ruang ICU, Natcha melongok melalui jendela kaca, tubuh laki-laki kekar itu bergerak lemah, tangannya menggapai seolah menginginkan sesuatu.

Natcha menatap ragu, sejenak harus berperang dengan pikirannya. Di satu sisi panggilan hati sebagai perawat menggedor agar membuka pintu bagi sebuah belas. Namun, di sini lain kejadian yang terus merambah menggoyahkan nurani, takut  dan waspada merangsek masuk, menghidupkan logika pada realita untuk mencari tahu latar musibah yang menimpa Aaron, pasien koma yang diam-diam membuat hatinya berdesir saat di dekatnya.

Perempuan berseragam biru muda itu menghela napas panjang, menyingkirkan ragu, menunaikan kewajiban atas nama tugas. Perlahan ia membuka pintu, laki-laki yang berbaring itu seperti ingin berucap sesuatu, lenguhan dan erangan terluncur dari mulutnya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Natcha, laki-laki itu mengangguk lemah, dengan ekor matanya dia melirik pada sebuah gelas di meja.

"Haus?" tanya Natcha lagi, tangannya sigap meraih benda berisi air dan menyorongkan ke mulut Aaron. Dengan lembut perawat itu  membantunya menegakkan tubuh agar dapat minum.

Dengan lahap laki-laki itu meneguk air, terasa segar ketika  membasahi tenggorokannya. Setelah merasa cukup, kembali ia mengangguk dan mengisyaratkan untuk berhenti minum.

Natcha meletakkan kembali gelas air yang separuh isinya telah berpindah ke perut Aaron, merapikan kembali posisi berbaring pasiennya. Sekilas semua tampak baik setelah perawat berwajah  cantik  itu memeriksa kondisi pasien.

"Hari ini kami akan memindahkan Anda ke ruang perawatan," ujar Natcha tersenyum.

"Selamat, ya! Anda telah melewati masa kritis, semoga kondisi Anda makin hari makin membaik."

Aaron hanya mengikuti setiap gerakan Natcha dengan mata, banyak hal yang ingin ditanyakan, bahkan namanya sendiri dan siapa dirinya, tapi mulutnya masih tetap kelu. 

"Sekarang saya tinggal dulu, sebentar lagi Dokter Farsha akan memeriksa Anda." Perawat  itu meninggalkan ruang dan menghilang di balik pintu.

*
Selang beberapa jeda, Natcha kembali bersama seorang laki-laki mengenakan jas putih. Dokter Farsha menyapa melalui senyum khasnya, laki-laki berwibawa itu tanpa banyak cakap memeriksa kondisi pasien. 

Saat mengecek gerak retina, kening dokter muda itu berkerut.

"Demensia." Ucapan dokter muda itu membuat Natcha menoleh, tapi sesaat kemudian setelah mengarahkan cahaya dari senter ke retina, laki-laki itu menggelengkan kepala dengan alis bertaut. Menuliskan sesuatu pada jurnal pasien, dan mengangkat tangan ke arah perawat  yang sejak tadi memperhatikannya.

"Kondisi pasien bagus, hari ini bisa dipindahkan ke ruang perawatan," ujar Dokter Farsha. 

"Baik, Dok."

"Namun, ada beberapa  kondisi yang memerlukan observasi lanjutan, sepertinya pasien mengalami Retrograde Amnesia. Tapi saya belum bisa memastikan stadiumnya," lanjut Dokter Farsha, tak lama dokter berwajah oriental itu meninggalkan ruangan.

Natcha mendekati Aaron saat punggung dokter Farsha sudah menghilang di balik pintu.  Perempuan berhati lembut itu mengeluarkan sebuah  papan abjad.

"Mulai sekarang kita akan gunakan ini untuk berkomunikasi," ujarnya pada Aaron. 

"Saya akan menunjuk urutan  huruf, dan anda tinggal mengangguk atau mengedipkan mata pada huruf tertentu hingga membentuk kata." Perempuan itu berharap laki-laki yang diajak bicara  mengerti yang dia maksud. Aaron  balas menatapnya, lalu mengangguk paham. 

"Baiklah, kita mulai permainan  ini," ujar Natcha senang. "Dan saya akan menuliskan jawabannya di bagian bawah, agar lebih mudah dan cepat."

Dengan sabar Natcha menunjuk huruf  abjad satu-satu persatu, dan Aaron dengan antusias mengikuti. Sesekali mengangguk pada huruf tertentu hingga membentuk satu kata.

"S ... a ... y ... a ... s ... i ... a ... p ... a."

"Nama anda  Aaron," tulis Natcha. 

"A ... p ... a ... y ... a ... n ... g ... t ... e ... r ... j ... a ... d ... i."

"Anda mengalami kecelakaan dan koma selama tiga bulan."

Aaron sudah dipindahkan ke ruang perawatan,  perlahan kondisinya pun makin membaik,  Aaron juga sudah dapat berkomunikasi menggunakan papan abjad, meski dengan susah payah menggerakkan tangannya, tapi banyak kemajuan yang dialami. Semua berkat Natcha yang dengan telaten membantu setiap perkembangannya. 

Namun, laki-laki itu mengalami amnesia, ia tak dapat mengingat apa yang terjadi, bahkan mengenal dirinya sendiri pun tak bisa. Kedua orang tuanya hanya pasrah, berserah pada Sang Adi Buddha, mereka sadar ... setiap laku memiliki kamma, mungkin apa yang dialami anak laki-laki kesayangannya itu adalah takdir atas kamma yang pernah ia lakukan. Tidak ada yang bisa lari dari ketetapan kamma, tapi  keduanya bersyukur Sang Adi Buddha masih memberi kehidupan kedua meski harus terlahir kembali sebagai jiwa yang berbeda di dalam raga yang sama.

**