Now Loading

Penampakan Misterius di Kampong Ayer

 

Tidak terasa kunjungan dua minggu di Brunei akan segera berakhir.  Esok malam kami berempat akan kembali ke tanah air dan meninggalkan Brunei .

 

“Yuk naik perahu ke Kampong Ayer”, usul Azwar ketika kami sedang jalan-jalan cari angin di dermaga di dekat Yayasan.

 

Ketika itu hari sekitar pukul 4 sore , suasana kota Bandar Seri Begawan  seperti biasa . tetap sepi walau mendekati waktu pulang kantor .

 

Ada beberapa perahu bersandar di dermaga menunggu penumpang . Ada yang menawarkan kami jalan jalan ke kampung Ayer dan menyusuri sungai Brunei lalu balik lagi ke dermaga .

Namun ada juga yang memang hanya menyeberang  ke Kampong Ayer seperti angkutan penyeberangan biasa .

 

“Ayo bang 20 Ringgit kita putar-putar le Kampong Ayer “, seorang tukang perahu menawarkan jasanya . Melihat logatnya kita tahu bahwa tukang perahu ini juga berasal dari Indonesia . 

 

Bang Zai segera nego dengan tukang perahu. Kita akan menyewa perahu sekitar 1 jam untuk berlayar menyusuri sungai Brunei bukan hanya  ke Kampong Ayer tetapi sekalian melihat beberapa tempat menarik di Bandar Seri Begawan.

 

Akhirnya Empat Sekawan naik perahu itu. Motor segera dihidupkan dan perahu melaju kencang menyeberang mendekati Kampong Ayer dan kemudian meluncur cepat meninggalkan pusat bandar menuju ke kawasan Kota Batu.

Di Kawasan Kota Batu ini terdapat Taman Adkeologi dan juga kompleks pemakaman sultan -sultan Brunei seperti Sultan Syarif Ali dan Sultan Bolkiah .

 

Dari sana kita kembali ke pusat bandar dan terus menyusuri sungai Brunei menuju ke Damuan dimana kita bisa menikmati keindahan Istana Nurul Iman dari kejauhan .

 

“Istana Nurul Iman memiliki ribuan kamar dan merupakan istana kediaman raja paling besar , megah , dan mewah di dunia.”, demiikian ucapan abang tukang perahu. 

 

Dari sana kami kembali putar haluan dna menuju ke Kampong Ayer.  Kami boleh sejenak mendarat di Kampong Ayer dan berjalan di jembatan kayu yang menghubungkan rumah dan segala fasilitas umum di kamping yang terletak di atas air . Selain rumah, ada juga masjid, dan bahkan pos polisi di sini. 

 

Setelah sekitar 15 menit menjelajah Kampong air, tiba waktunya kembali naik perahu untuk menyeberang kembali ke Bandar.

 

Empat Sekawan kembali ke perahu dan ketika perahu baru saja berjalan , di perahu lain yang baru mendarat, saya melihat wajah gadis  misterius yang naik meninggalkan perahu . 

 

Gadis itu juga melihat kami  yang terpana terpesona. Dia melambaikan tangannya sambil tersenyum manis sementra perahu kami dengan cepat meninggalkan Kampong Ayer.

 

Ketika tersadar baru lah saya minta abang perahu untuk balik sebentar ke Kampong Ayer dengan janji memberi Tips ambahan ongkos 5 Ringgit. 

 

Namun usaha ini sia -sia. Sesampainya di dermaga , gadis misterius itu sudah hilang tidak ada rimbanya . Hilang di antara rumah -rumah kayu di Kampong Ayer.  

 

Namun yang jelas kami berempat tahu , bahwa kemungkinan besar perempuan misterius yang terus menghantui kami tersebut  tinggal di Kampong Ayer. 

 

Atau bisa juga dia hanya berkunjung sejenak ?

 

Tetapi malam nanti adalah malam terakhir kami di Brunei.  kami belum tahu kapan lagi akan kembali kesini untuk menguak misteri ini.

 

Azan magrib pun menggema, kami segera ke masjid perahu untuk salat  dan sesudah itu menikmati makan malam di food Court di Yayasan .

 

Malam itu, hati saya kian penasaran. Penasaran yang akan dibawa pulang ke Jakarta. 

Akankah misteri ini terkuak?

 

Bersambung