Now Loading

BAB II. NAMAKU DEVI (BAGIAN 1)

3556P tertidur memimpikan neneknya, mimpi yang selalu datang setiap malam sejak Devi dibunuh. ‘Dibunuh’ adalah kata yang diajarkan neneknya saat dia masih balita.

Saat itu, masih ada waktu-waktu mereka dibolehkan untuk berjalan-jalan di lapangan Barak F sebelum patroli seketat sekarang. 3556P berjalan di samping neneknya di jalan setapak yang mengarah dari rumah ke menara sirene, ketika 3556P melihat sesosok laki-laki terbaring di tanah.

3556P menunjuk ke arahnya. Dia mengira pria ITU sedang tidur. Bocah itu membungkuk untuk membangunkannya, tetapi neneknya menghentikannya sebelum dia menyentuh mayat itu.

“Jangan, biarkan dia. Dia telah membayar utangnya, tidak perlu diganggu lagi."

3556P menatap neneknya yang pasti telah menangkap kebingungan si bocah melalui lubang mata di tudung kepala.

“Dia dibunuh, sayang. Ditembak dengan darah dingin oleh salah satu bajingan itu."

“Dia dieksekusi, 3553P?”

“Tidak, Sayang, dan tolong, jangan panggil aku seperti itu. Namaku Devi, bukan sederetan angka terkutuk."

Sambil menggenggam tangan cucunya, Devi mulai memberikan 3556P pelajaran sejarah pertamanya.

Dieksekusi dan dibunuh adalah dua kata yang berbeda. Seseorang harus melakukan sesuatu yang salah untuk dieksekusi. Satu-satunya kesalahan yang dilakukan orang ini adalah mencoba menjalani hidupnya. Pembunuhan adalah sesuatu yang dilakukan oleh para Pengawas. Artinya, mereka membunuh orang tanpa alasan, dan itu salah. Nenek tak ingin kamu tumbuh seperti orang bodoh yang sial ini, mengira tidak semuanya salah, karena memang benar."

Ini sepuluh tahun yang lalu, saat umur 3556P lima atau enam tahun. Dia dengan jelas mengingat teriknya sinar matahari dan lalat-lalat yang mengitari mayat orang mati itu. Pada saat itu, kerudung sangat dianjurkan, tetapi belum diwajibkan, dan setelah melihat orang yang mati itu, keduanya melepas tudung mereka sehingga terik matahari menyinari wajah keduanya.

“Tunggu di sini, sayang.”

Devi keluar dari jalan setapak, membungkuk memunguti sesuatu. Dia bangkit sambil memegang benda berwarna kuning. Kembali ke 3556P, Devi menunjukkan apa yang ada di tangannya.

“Ini adalah bunga, ehm... sebenarnya rumput liar. Tidak ada tanaman lain selain rumput dan tempuyung, tapi berguna juga.”

Abbey dengan lembut meletakkan bunga tempuyung di dada mayat, sementara cucunya memandang bingung.

“35—Devi, kamu sedang apa?”

“Begini, sayang'- Nenek tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepadamu. Orang ini sudah mati, ‘kan?”

“Dia dieksekusi.”

"Tadi kita sudah membahas itu, sayang. Dia dibunuh."

“Dibunuh.”

"Betul. Bertahun-tahun yang lalu, kita …  kami menghormati orang yang sudah meninggal."

Kalian menghormati orang mati … maksudnya?” 3556P menatap neneknya saat mereka kembali melangkah.

“Semua orang pasti mati, dan kita akan mengadakan… upacara untuk mereka. Kita berkumpul, kami semua—orang-orang yang mengenal orang itu, dan… kami akan mengirimkan mereka pergi.”

“Kemana kalian mengirim mereka? Apakah mereka dibunuh?”

“Tidak, sayang. Sudah lama sekali. Orang akan mati begitu saja. Terkadang karena sakit, terkadang oleh sebab lain. Percayalah, senapan mesin bukanlah satu-satunya cara untuk pergi.”

 “Jika seseorang sakit, mengapa mereka tidak pergi ke dokter?”

 “Dahulu kala, tidak semua penyakit ada obatnya seperti sekarang. Ada penyakit yang merenggut nyawa orang."

“Penyakit?”

 “Benar. Kamu terlalu muda untuk mengetahui apa yang nenek bicarakan. Tapi sebelum Pil-13, kadang-kadang orang akan jatuh sakit, dan kemudian semakin sakit hingga akhirnya mereka meninggal.”

3556P mengangguk-angguk, "dan ketika mereka mati, kalian akan mengirim mereka ke suatu tempat."

 “Ehm… ya, sayang. Kami akan mengirim mereka untuk menemui Pencipta-nya. Nenek akan ceritakan semuanya lain kali. Sekarang, mengapa kita tidak menikmati saja cuaca yang cerah ini? Kita harus segera pergi. Sebaiknya kita menikmatinya selagi bisa.”

“Baik, Devi.”

Keduanya berjalan dalam diam sementara pikiran gadis kecil itu berkecamuk sejuta pertanyaan.

Di Lapangan F, jenazah orang mati, atau Orang Buangan sebagaimana Pengawas menyebutnya, diletakkan di area berpagar kawat di sebelah menara sirene. Mayat ditumpuk tinggi, dan bila sudah terlalu banyak, Pengawas akan membakarnya dan kemudian mulai lagi dengan mayat-mayat baru. Sosok mayat tergeletak di tengah jalan meski bukan hal yang tidak biasa, tapi bukan merupakan protokol Barak F.

3556P memutuskan untuk bertanya kepada neneknya besok sore, ketika Pengawas tidak sedang berpatroli. Untuk saat ini, dia akan menikmati hembusan angin sepoi-sepoi di wajahnya yang tak bertudung.