Now Loading

BAB I. MENUJU MASA DEPAN

Pada tahun 2023, masa depan tampak begitu cerah bagi dunia. Kemajuan medis telah berhasil mengeradikasi virus penyebab pandemi yang mengurangi penduduk bumi sampai 1 miliar dalam waktu 4 tahun, sekaligus meningkatkan harapan hidup dan menstimulasi perekonomian. Pada gilirannya, harapan hidup manusia lebih panjang (dan menghabiskan sumber daya lebih banyak).

Tahun 2024, tiga puluh delapan negara termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan Indonesia mengadakan pemilihan pimpinan pemerintahan. Dimulai dari Finlandia pada bulan Januari dan ditutup oleh Tunisia pada akhir November, semuanya dimenangkan oleh orang-orang muda dengan satu kesamaan, semboyan dan platform yang sama. Meskipun bahasa yang digunakan berbeda, artinya satu: “Menuju Masa Depan”

Para pemimpin muda dengan visi yang serupa membentuk forum, koalisi dan pakta regional dan global yang memanfaatkan surplus ekonomi untuk kesejahteraan manusia sebesar-besarnya. Perawatan kesehatan gratis menjadi hak dasar, pajak diturunkan sampai nyaris nol, terendah sepanjang sejarah. Karena sumbernya yang semakin menipis, penggunaan bahan bakar fosil dilarang. Tiga hal itu menjadi janji kampanye mereka sebelum terpilih.

Dua hal pertama mudah dilaksanakan, bahkan ekonomi dunia semakin melejit. Optimisme meluap di mana-mana. Namun penghematan energi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ilmuwan-ilmuwan yang paling brilian dikerahkan untuk menyelesaikan masalah energi agar bisa mengejar kesenjangan antara ketersediaan dan permintaan yang semakin melebar.

Tidak ada solusi yang mudah.

Manusia yang telah terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pemimpin mereka, seperti anak manja yang tidak sabaran. Presiden dan Perdana Menteri yang dulu muda, tampan atau cantik serta energik, sekarang tua, lelah, dan putus asa. Mereka membutuhkan pengalih perhatian agar masyarakat tak banyak menuntut.

Tahun 2028, petahana presiden Amerika terpilih kembali dengan selisih angka kemenangan yang tipis. Amerika pada tahun itu terdiri dari seluruh negara yang ada di benua Amerika. Timur Jauh dipimpin Cina setelah menaklukkan Jepang dan Korea pada tahun 2026. Reunifikasi India-Pakistan-Bangladesh yang kemudian menganeksasi Maldives di Asia Selatan.Konfederasi Timur Tengah masih terus bernegosiasi dan lobi-lobi. Uni Eropah sendiri berhasil menyatukan visi pada tahun 2025. Presiden Indonesia menjadi pemimpin sementara Federasi Asia Tenggara yang akan mengadakan pemilihan raya tahun berikutnya.

Presiden Amerika memutuskan bahwa untuk menemukan solusi, para pemimpin harus berhubungan secara personal dengan rakyatnya. Dengan memanfaatkan jejaring sosial yang memungkinkannya melakukan percakapan virtual secara langsung dengan warga biasa, tidak hanya akan membantu popularitas, tetapi juga mungkin dari masyarakat akan diperoleh satu atau dua ide. Teknologi konferensi virtual tiga dimensi yang dikembangkan dari cara berkomunikasi pada masa pandemi berkembang sesuai dengan kebutuhan.

Dia benar. Belum pernah ada pemimpin yang dapat dihubungi rakyat secara pribadi. Langkahnya segera diikuti oleh pemimpin-pemimpin regional lain.

Teknologi pada tahun 2028 memungkinkan hal itu. Jelas lebih mudah bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau Senat untuk bertemu secara virtual dari kediaman masing-masing daripada harus melakukan perjalanan ke ibukota negara. Visiweb 3D menggantikan ponsel. Tatap muka berlangsung berhadap-hadapan, meski kenyataannya terpisah jarak puluhan ribu kilometer.

Para kepala negara dan pemerintahan bertemu tanpa perlu meninggalkan rumah dinas mereka. Teknologi ini segera menyebar ke seluruh penjuru dunia. Pada tahun 2030, setiap pria, wanita, dan anak-anak memakai kacamata 3D.

Karena tidak lagi harus melakukan perjalanan, pencarian bahan bakar alternatif menjadi tidak urgen lagi. Tidak ada yang peduli, atau bahkan ingat. Rakyat sangat senang karena ‘berteman dekat’ dengan pemimpinnya.

Tentu saja, saat lima miliar warga ‘berteman’ dengan presiden atau perdana menteri,  akan dibutuhkan server dengan kecerdasan buatan yang super. Tim ilmuwan bekerja keras menciptakan komputer yang mampu menangani miliaran percakapan dalam nanodetik. Kecerdasan buatan yang disebut KHAN22, menyerap seluruh dan semua topik yang mungkin muncul. Bisa dikatakan, KHAN22 lebih pintar daripada manusia mana pun, karena ia mampu memperoleh informasi baru dengan sendirinya dan menambahkannya ke basisdata yang meraksasa.

Pada tanggal 25 Desember 2030, presiden Amerika meninggal mendadak karena serangan jantung. Tak seorang pun yang tahu tentang kematian serempak  itu sampai tiga bulan kemudian. Adalah wakil presiden Amerika Serikat menemukan kerangka orang nomor satu di dunia itu tertelungkup di meja Ruang Oval, di atas tablet elektronik yang menampilkan dokumen ‘Hasil Uji Beberapa Bahan Bakar Alternatif yang Menjanjikan’.

KHAN22 telah melakukan tugas sebagai presiden Amerika Serikat—dan juga presiden Rusia dua minggu sesudahnya— selama tiga bulan dengan baik. Selama tiga bulan, masyarakat masih menganggap bahwa mereka berkomunikasi dengan presiden yang sebenarnya. KHAN22 bahkan membuat keputusan presiden. Komputer yang tadinya diciptakan hanya untuk menjawab pertanyaan, sekarang mempertanyakan jawaban. Karena tidak ada lagi yang berkomunikasi dengan tatap muka, semua orang di seluruh dunia berasumsi bahwa yang mengambil keputusan adalah presiden yang sebenarnya. Rakyat tidak tahu bahwa pemimpin yang mereka pilih telah digantikan dengan mesin.

Pemimpin penyelamat dunia yang telah bekerja sangat keras untuk warga bumi, pria yang sedang berusaha untuk memenuhi janji terkanhirnya, tapi dunia tidak menyadarinya kepergiannya. Tidak ada yang merasa kehilangan.

30 tahun kemudian, tatanan dunia hancur berantakan. Lahirlah Kamp 13.