Now Loading

Bab 1

Di sebuah museum tua yang masih terawat dengan sempurna, Raja memperhatikan lukisan itu lekat-lekat.  Ada yang menarik perhatiannya.  Lukisan itu seolah hidup dan menatapnya sambil tersenyum.  Sesosok tubuh perempuan cantik luar biasa yang berpakaian putri raja.  Sosok lukisan sang putri legenda, Putri Dyah Pitaloka.

Raja melayangkan ingatan pada buku sejarah, hikayat dan dongeng yang telah habis dilalapnya sejak SMP.  Ada dua wanita yang selalu mampir dalam ingatannya.  Bahkan seperti hidup dan tergambar jelas di ruang otaknya.  Putri Dyah Pitaloka dan Ratu Laut Selatan.

Buku-buku yang dibacanya tidak ada yang mengilustrasikan secara jelas seperti apa dua sosok itu.  Tapi Raja mengolahnya dalam kepala dengan begitu detail.  Terutama Putri Dyah Pitaloka.  Karena menciptakan sosok utuh Ratu Laut Selatan di otaknya selalu terhalang oleh sesuatu yang Raja juga tidak paham.

------

Raja memalingkan muka ketika sebuah suara menyapa telinganya.  Lirih tapi terdengar sangat jelas sekali,

“Raja...” 

Raja menoleh kesana kemari.  Tidak ada siapa-siapa.  Kebetulan museum memang sedang sepi karena bukan hari libur.  Beberapa pengunjung sedang asyik di ruang sebelah.  Menikmati cerita dari pemandu yang bersemangat bercerita tentang kerajaan Pajajaran.

“Raja...” kembali bisikan lirih itu memanggil.  Raja merinding.  Suara itu begitu jelas seolah yang berbicara ada di sampingnya.  Buru-buru pemuda ini hendak beralih ke ruang sebelah yang masih ramai.  Sambil berjalan pergi, Raja melirik lukisan itu sekali lagi. 

Ya Tuhan!  Senyum yang tadi tersungging begitu manis lenyap! Wajah cantik dalam lukisan itu cemberut!

Duh, wajah Raja memucat seketika.  Dia memberanikan diri mendekati lukisan itu lagi untuk memastikan penglihatannya.  Bibir merah delima di lukisan itu membentuk senyuman lagi! 

“Raja...”  Bisikan itu lagi.

Raja tak sanggup lagi berkata-kata.  Namun sebagai pemuda masa kini yang tidak percaya begitu saja dengan takhyul, Raja memastikan sekali lagi.  Dia berlari keluar ruangan dan dari pintu menengok untuk memastikan.  Senyuman itu sudah lenyap.  Raja kabur secepatnya.

“Raja...”

------

Sembari menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti,   Raja menelusuri trotoar depan museum.  Pantas saja dia bisa menggambar dengan sempurna seperti apa sosok Putri Dyah Pitaloka di benaknya?  Ternyata ada kaitan metafisika yang tidak bisa dicerna oleh logikanya sebagai mahasiswa S2 Arkeologi.  Raja tersenyum di antara ketidakmengertiannya.

“Bruukkk...uuuhhhh.....kurang ajar...plakk...plakkkk.....” Lamunan Raja buyar seketika.  Kakinya tersandung sesuatu.  Menimpa sesuatu sekaligus juga pipinya menerima sesuatu. Panas dan menyakitkan.  Beberapa kali tamparan. Fiuuuhh!

Raja membuka matanya.  Ternyata dia tersandung, terjatuh, lalu menimpa tubuh seseorang yang sedang duduk di bangku pinggiran trotoar.  Orang itu menamparnya karena dia menimpa tubuhnya persis seperti orang yang sedang berusaha memeluk.  Orang itu seorang gadis.  Sekarang sedang membelalakkan matanya yang indah dengan penuh kemarahan.

Raja tergesa-gesa menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil berkata gugup,

“Maaf...maaf...aku tak sengaja...maaf.”

“Makanya kalau jalan jangan meleng tuh mata!  Lihat-lihat sekitar!”  bentak gadis itu masih dengan kemarahan yang sama.

Raja memperhatikan gadis yang sedang marah itu.  Terbengong-bengong.  Mengucek-ucek matanya.  Lalu tanpa sadar menempeleng pipinya agak keras.  Plakkk!

Gantian gadis itu sekarang yang terpana.  Ih, pemuda sableng! Ditegur malah menampar dirinya sendiri.  Jangan-jangan pemuda ini agak miring otaknya?  Pikir gadis cantik ini.

Raja masih tidak mempercayai penglihatannya.  Gadis di depannya ini persis sama dengan lukisan yang tadi dilihatnya di museum.  Dalam versi masa kini tentu saja.

“Raja...” suara itu lagi!  Raja sadar bahwa bisikan itu bukan berasal dari gadis cantik di depannya yang sedang memandang melotot ke arahnya.

“Sekali lagi maaf ya mbak.  Saya tidak sengaja.  Apakah mbak ada yang terluka?”  Raja mencoba menghilangkan shock-nya dengan bertanya sopan.

Gadis itu melengos.  Bibirnya cemberut.  Raja semakin tak karuan hatinya.  Bibir itu juga sama seperti lukisan aneh itu tadi.  Raja menggerak-gerakkan bibirnya tanpa suara.

Suasana mendadak hening.  Pemuda dan pemudi itu berdiam diri.  Raja berusaha memecah kebuntuan dengan mengulurkan tangan, “Namaku Raja....”

Meskipun dengan sedikit ogah-ogahan, gadis itu menerima uluran tangan Raja,” Citra....”

Raja tersenyum kikuk.  Merasa bersalah tapi lega.  Citra ikut tersenyum.  Merasa bersalah juga telah bersikap terlalu keras kepada Raja yang ternyata pemuda yang sangat santun.

Untuk kesekian kalinya Raja terbelalak.  Senyum itu! Senyum itu tidak ada bedanya dengan senyum wanita cantik dalam lukisan di museum.  Senyum manis Putri Dyah Pitaloka.  Oh Tuhan!

-------

Akhirnya Raja berhasil mengajak berbincang Citra dengan nyaman di sebuah kedai kopi tidak jauh dari museum.  Seolah kebetulan saja ternyata keduanya mempunyai hobi yang tidak jauh berbeda.  Sejarah dan benda-benda purbakala.  Citra sendiri adalah seorang mahasiswi jurusan Sejarah di sebuah universitas ternama Jakarta. 

Raja yang masih penasaran lalu bercerita kepada Citra tentang apa yang dialaminya tadi di museum.  Namun pemuda ini sama sekali tidak menyinggung tentang betapa miripnya Citra dengan sang putri dalam lukisan.

Tanpa diduga, Citra sangat tertarik.  Gadis ini bahkan mengajak Raja untuk kembali ke museum membuktikan ceritanya.  Tentu saja Raja setuju.  Di dalam hati, ingin sekali pemuda itu membandingkan langsung lukisan sang puteri dengan gadis di depannya.  Pucuk dicinta ulampun tiba!

-------

Raja dan Citra berendeng memasuki ruang sejarah kerajaan Galuh Pakuan.  Hanya untuk menemui kegaduhan di sana.

“Aneh!  Benar-benar aneh!” seorang tua botak menggunakan baju putih bersih nampak terpekur sambil berbicara dengan orang di sebelahnya yang berbaju polisi.

“Tidak mungkin ini pencurian.  Saya sudah periksa langsung CCTV di ruang keamanan.  Tidak ada siapapun yang memasuki ruangan ini dan mengambil lukisan itu.  Apalagi menggantinya dengan kanvas yang kosong seperti ini...”  lanjut si bapak sambil merenung tak habis pikir.  Tanpa peduli kepada polisi yang siap mendengar keterangan dengan catatan di tangan.

Raja terperangah.  Buru-buru digandengnya Citra ke depan lukisan yang tadi tertutup karena ada pak polisi di depannya.

Raja melotot.  Lukisan itu lenyap.  Yang tersisa hanya kanvas lukisan putih polos.  Dengan pigura yang sama.

Raja menoleh ingin mengatakan bahwa dia tidak berbohong mengenai ceritanya kepada Citra.  Gadis itu menatap Raja dengan tatapan mesra, tersenyum manis sambil berbisik lirih,”Raja...namamu Rajasanagara bukan?  Aku Dyah Pitaloka Citraresmi...”

Rajasanagara terpaku diam.....

*