Now Loading

Prajna Paramitha

Part 13 - 

?rya-avalokite?vara Bodhisattva
Gambh?r?? prajñ?p?ramit?
Cary?? caram??o

Vyavalokayati sma:
Panca-skandh?s
T??? ca Sv?bhava ??ny?n pa?yati sma
Iha ??riputra: r?pa? ??nyat? ??nyataiva r?pa?

R?p?n na p?thak ??nyat?
?unyat?y? na p?thag r?pa?
Yad r?pa? s? ??nyat?
Ya ??nyat? tad r?pa?

*
Natcha menghentikan senandung, ketika telinganya menangkap suara erangan lirih dari dalam ruang ICU. Perempuan bermata cokelat itu bergegas menuju ruangan. 

"Aaron," pekiknya kaget, sorotnya berbinar kala laki-laki yang terbaring lemah itu membuka mata, tangannya bergerak lemah seolah ingin menggapai sesuatu.

Aaron yang baru membuka mata, merasakan pandangannya kabur, berbayang samar, semua nampak seperti diselimuti kabut. Laki-laki itu mencoba mengangkat tangan sebagai isyarat tenggorokannya terasa kering, tapi tak sedikitpun bergeser. Bahkan suaranya pun hanya berupa gumaman yang tak jelas.

"Namo Buddhaya," ucap Natcha, tangannya bergerak trampil meraba pergelangan tangan laki-laki bertubuh kekar itu, mendapati denyut nadinya mulai normal. Perempuan berambut lurus itu tersenyum lega. 

"Selamat datang kembali," ulang Natcha dengan pandang berbinar. Selang beberapa menit seorang laki-laki dengan mengenakan jas putih  memasuki ruangan, mengangguk sekilas pada Natcha. Dengan cekatan laki-laki dengan nama dada Farsha itu meletakkan ujung stetoskop yang terkalung di leher ke dada Aaron, mendengarkan setiap ritme yang berdetak dengan seksama. Matanya bersinar kala menatap angka pada layar patient monitor, membentuk kurva  yang beranjak naik. Lalu mengangguk dan mulai melepas selang oksigen dari hidung Aaron.

"Tolong monitor kondisi pasien dalam waktu 1x24 jam. Jika kondisi stabil, alat bantu bisa di lepas dan pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan," ujar dokter muda berwajah teduh.

"Baik, Dok," jawab Natcha sigap.

"Jika ada masalah segera hubungi saya," ujarnya lagi sebagai perintah, tangannya meraih jurnal pasien dan menuliskan sejumlah laporan di sana. Menyerahkan kembali pada Natcha sebelum meninggalkan ruangan. 

Natcha merapikan peralatan dan memasukkannya ke dalam kotak stainless. 

"Arhggg ...," erang Aaron lagi, laki-laki itu merasa frustasi, tak bisa mengeluarkan suara, tenggorokannya terasa kering, ia ingin minum, tapi tak ada kalimat  keluar dari mulutnya.

"Arhggggggg." Kali ini Aaron mengerang panjang, kesal, marah, tak ada yang tahu apa inginnya. 

"Ada apa?" Natcha mendekat sigap, laki-laki itu menggerakkan ekor matanya ke arah meja di sebelah tempat tidur  sebagai isyarat.

"Haus?" 

Aaron mengangguk lemah, nyaris tak tertangkap mata. Namun, Natcha cukup paham, ia mengambil gelas yang ada di meja. Menyorongkan ke mulut Aaron. Laki-laki itu segera meneguk, lega ketika air mineral itu mengaliri tenggorokannya. 

"Selamat datang kembali pada kesempatan kedua." Natcha mengusap sisa air yang berceceran di dada Aaron. 

"Kesempatan kedua?" Aaron membatin, kesempatan untuk apa? Mengapa? Laki-laki pucat itu berusaha mengingat, tapi tak ada catatan yang tersimpat dalam memorinya, tak ada satupun yang bisa diingat. Semakin berusaha mengingat, semakin sakitnya seperti dihantam godam. 

"Anda baru saja mengalami koma selama hampir tiga bulan. Dan hari ini Tuhan menganugerahkan kesempatan kedua pada Anda." Natcha menjelaskan kebingungan di raut wajah Aaron. Laki-laki itu mengerut alis.

"Koma? Tiga bulan? Apa yang terjadi?" Berbagai tanya berkecamuk dalam pikiran Aaron, sedang ia tak bisa mengingat apapun. 

Banyak hal yang ingin ditanyakan pada perempuan berseragam biru muda, sepertinya ia mengetahui banyak hal. Wajah cantik dengan riasan tipis itu membuat Aaron tertarik, tapi tak ada yang bisa dilakukan, kecuali membisu, sekedar minta minum pun tak bisa disuarakan.

Pintu ruangan tetbuka, sepasang suami istri paruh baya memasuki ruangan dengan gegas. Mata wanita itu berkaca-kaca, haru dan syukur berebut saling mengalahkan. 

"Namo Buddhaya, akhirnya kamu sadar, juga, Nak," ucap Nindha, tangan tuanya yang mulai keripit memeluk Aaron. Namun, laki-laki itu bergeming, tak mengenal siapa yang ada di hadapannya.

"Sang Adi Budha sangatlah pemurah, Dia memberimu kesempatan kedua, Nak," sambung Arya, syukur yang dalam jelas terpancar dari matanya, tangannya mengelus punggung Aaron dengan haru.

Aaron mematung, menatap pasangan suami istri tanpa ekspresi. Tak ada satupun hal yang diingatnya, bahkan kepada pasangan suami istri yang sangat merindukannya, Aaron tak mengenali.

"Aaron?" Arya melambaikan tangan di muka anak laki-lakinya yang menatap dengan pandangan kosong. Merasa ada yang ganjil, laki-laki paruh baya itu menguncang lengan Aaron.

"Kamu ... kamu tidak mengenal kami, Nak?" 

"Aku ibumu, dan ini ayahmu," panik Ninda berujar. Namun, laki-laki yang baru sadar dari koma itu tetap bergeming tanpa ekspresi. 

"Bagaimana kamu tidak mengenali kami, Nak?" 

Pintu terbuka, Natcha masuk ruangan membawa beberapa peralatan untuk memeriksa perkembangan kondisi Aaron.

"Suster, apa yang terjadi? Kenapa anak saya tidak mengenali saya, Sus?" Ninda menyerbu dengan pertanyaan. Arya yang lebih tenang berusaha menenangkan  istrinya.

"Sabar, Pak. Putra Anda baru sadar dari koma, fungsi motorik dan syaraf belum normal, butuh waktu. Kami juga belum bisa menetapkan kesimpulan apapun, biar Dokter melakukan observasi dulu." Natcha menjelaskan. 

Pasangan suami istri itu menghela napas berat, lelah setelah banyak kejadian yang menimpa, dan kini anak satu-satunya terancam amnesia.

"Meski sudah sadar, tapi fungsi motorik belum berfungsi karena banyak kerusakan jaringan syaraf. Masih harus menjalani rangkaian pemeriksaan." Natcha menunjukkan bagian-bagian tubuh Aaron yang belum bisa digerakkan. Perempuan dengan profesi perawat itu mengangkat tangan  Aaron, menunjukkan rangkaian otot kinetis yang masih belum bisa digerakkan.

"Apakah Aaron akan lumpuh, Sus?" Ninda bertanya cemas.

"Kamu belum berani mengatakan apapun sebelum Dokter melakukan serangkaian test," jawab Natcha. 

Arya menghela napas, memenuhi rongga paru-paru dengan oksigen sebanyak-banyaknya, lalu mengembus perlahan  seolah ingin melepas bebanmya. 

"Besok dokter Farsha akan melakukan serangkaian test, kira tunggu saja hasilnya," ujar Natcha menenangkan. Arya mengangguk, meraih kepala istrinya ke dalam pelukan seolah ingin berbagi kekuatan. 

"Baiklah, kami akan menunggu  kabar dari dokter." 

"Doakan saja, semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi."

Arya membimbing Ninda keluar ruangan, beberapa langkah di depan pintu, laki-laki dengan uban memenuhi kepala itu menoleh, memandang Aaron yang kembali tertidur setelah mendapat suntikan dari Natcha.

Hening ... setelah pasangan suami istri itu meninggalkan ruangan. Natcha memandang Aaron yang tengah pulas. Napasnya masih cepat seolah ada sesuatu yang menganggu pikiran,  hati perempuan itu berdesir. Ia memang tak pernah tahu masa lalu laki-laki kekar yang tengah terbaring lemah, tapi peristiwa demi peristiwa aneh yang menganggunya seakan membuka tabir misteri kelam yang pernah dilakoni laki-laki itu. Nathca tak bisa membohongi hatinya, rasa iba dan empatinya ingin mengetahui lebih jauh.

Perlahan, Natcha melanjutnya senandungnya, lirih, seiring napas Aaron yang mulai teratur, dengkurnya halus terdengar mengisi sunyi seakan larut dalam senandung kidung Prajna Paramitha.

Tri-adhva-vyavasthitah sarva-buddhah prajnaparamitam asritya-anut-tara samyaksambodhi abhisambuddhah.
Tasmat jnatavyam prajnaparamita maha-mantra mahavidya-mantra anuttara-mantra asama-samani mantrah,
Sarva-duhkha-prasamanah, satyam amithyatvat. Prajnaparamita mukha mantrah.
Gate gate paragate parasamgate Bodhi Svaha
 **