Now Loading

EPILOG

Lewat tengah malam. Matanya nyalang menatap layar monitor komputernya. 

Maafkan aku.

Tolong maafkan aku.

Bisakah kita bicara?

Bicaralah padaku.

Semua permutasi berulang-ulang menggema bagai dering nada panggil di benaknya. 

Jam dua pagi dan Zenatar tak bisa tidur. Lebih dari sebulan pesan dan email dari Wulan tak dibalasnya. Gadis temannya di asrama mengatakan bahwa Wulan mengajukan cuti dan tidak akan kembali sampai semester depan. Zenatar tidak tahu apa artinya itu. Email terakhir Wulan tiga hari lalu berbunyi: 

Aku akan pergi sebentar, tapi aku akan kembali, dan aku akan menjadi sempurna untukmu. Tolong jangan menyerah.

Wulan-mu

Begitu saja.

Tolong bicara padaku.

Aku menyesali apa yang aku katakan.

Mohon maafkan aku.

Maukah kamu memaafkan aku?

Zenatar masih belum menemukan kata-kata yang sesuai. Sayapnya yang terlipat terasa dingin.Dia menegakkan punggungnya dari layar komputer, mengusap matanya yang lelah. 

Mendadak gawainya berdering. Nomor tak dikenal

Mungkin karena itu panggilanku tak tersambung dari kemarin, pikir Zenatar. Pasti dia telah mengganti nomor teleponnya! Mungkin— 

Harap-harap cemas, dia menekan tombol ‘terima’ dan menjawab.

 

SELESAI