Now Loading

Ritual Gila 1

“Apakah mesti kuceritakan ini” orang - orang kelakuan bejad orang orang itu” Demikian gumam Prabangkara lirih. Mbah Sambung yang mendengar kata - kata Prabangkara dengan lirih lalu mendekat.

“Apa, yang kau katakan tadi Nak.”

“Sebentar, Mbah. Nanti saya ceritakan kembali apa yang saya lihat barusan.”

Prabangkara mengingkir dari tempat itu. Ia diam dan menghela nafas panjang. Setelah tenang ia kemudian memberitakan apa yang dilihat dengan membisiki Mbah Sambung.

Hampir saja Mbah Sambung berteriak. Untung ia segera sadar bahwa ia tengah berada di tempat yang amat berbahaya. Penjagaan di mana - mana. Suara kerisik dedaunan yang diinjak saja terdengar, maka ketika ia kelepasan teriak akan membuat geger tempat itu.

“Bajingan benar orang – orang itu, kenapa bisa melakukan seperti itu?”

“Ya, karena sudah bersekutu dengan iblis.”

Sebenarnya apa sih yang terjadi ketika Prabangkara melihat dengan mata terbelalak. Apakah sudah terjadi penyiksaan luar biasa, apakah sudah terjadi tindakan cabul, atau korban penculikan itu dipaksa melayani nafsu bejadnya?

Pada kasus – kasus ritual Tumbal darah perawan, seringkali memperlakukan mereka dengan tidak senonoh. Sang dukun memaksa mandi kembang dan akhirnya melakukan pemerkosaan terhadap korbannya yang masih perawan. Dukun itu bisa juga menjadi perantara agar orang yang membayarnya dan menyediakan perawan untuk disetubuhi dukun bisa kaya raya dan awet muda.

Pada ritual yang sempat dilihat oleh Prabangkara sungguh aneh dan menjijikkan. Ada lima orang laki - laki yang mengerubungi anak perawan yang tidak memakai baju sama sekali. Telanjang dan ditelentangkan di lantai, sambil minun tuak mereka berpesta melumuri tubuh perempuan itu dengan tuak lalu mereka menyesap tuak itu yang menetes dan tertempel di tubuh korban tersebut. Setelah lemas tidak berdaya satu persatu mereka meniduri perempuan yang tidak berdaya satu persatu.

Nafsu angkara telah membuat akhlak manusia benar-benar mirip binatang, bahkan lebih.  Mereka telah termabukkan oleh kenikmatan sesaat. Lalu apa yang dinamakan tumbal darah perawan? Pecahnya darah  ketika berhubungan badan pertama kali dengan seorang gadis kencur dipercaya adalah adalah darah perawan. Darah suci karena mereka belum mengenal nafsu purba manusia, nafsu di mana laki – laki dan perempuan saling memadu kasih dan saling menyatupadukan tubuh. Mereka benar – benar melihat keseluruhan tubuh pasangannya dan akan sangat bahagia jika laki - laki bisa merasakan gelora cinta pertama kali dengan seorang perawan ting- ting.

Tetapi pada ritual yang dilakukan ketika bersekutu dengan iblis atau makhluk gaib. Darah perawan sering digambarkan dengan meminum darah seseorang yang masih perawan. Karena perawan dilambangkan  sebagai orang yang masih suci dan polos, setan, iblis dan sebangsanya sama seperti manusia senang dengan kepolosan dan kesucian. Maka kepercayaan bahwa darah perawan bisa membuat awet muda, cepat kaya dan segera naik jabatan pun sering dilakukan oleh mereka yang gila jabatan, ingin kaya mendadak dan selalu pengin awet muda.

Prabangkara sebetulnya ingin menghajar orang - orang itu, namun Mbah Sambung kemudian mencegahnya.
“Belum waktunya kita mengobrak – abrik tempat ini. Kita akan susah membongkar siapa dalangnya jika langsung menghajar mereka. Kita berkeliling lagi mencari tempat yang jarang mendapat pengawasan, sambil melihat- lihat apakah ada orang yang kita kenal?”

“Terimakasih, Mbah sudah mengingatkan. Kadang yang punya darah muda ingin segera bertindak grusa – grusu, hingga akhirnya tujuan semula bisa gagal total.”
Prabangkara masih terbayang- bayang dengan adegan yang ia lihat barusan, gemeretuk gigi, kemarahan amat sangat sebetulnya sudah mencapai pucuk ubun- ubunnya. Namun ada Mbah Sambung yang mengingatkan untuk tidak gegabah bertindak.

Suasana tempat itu semakin senyap. Malam semakin larut, suara – suara burung malam bersahut- sahutan terdengar, suara burung hantu, suara lengkingan binatang buas, sesekali terdengar jauh dibalik pagar itu. Dengan hati- hati Prabangkara dan Mbah Sambung, segera menyisir daerah lainnya.

Daerah yang sedang mereka lewati itu benar- benar gelap, tidak ada penerangan. Sesekali bau anyir dan bau Bangka terasa. Dan Prabangkara seperti merasakan berjalan di pemakaman. Ia sering terantuk benda dan ketika ia raba seperti tengkorak manusia yang menggelasah. MBah Sambung yang mempunyai kepekaan bisa melihat alam lain, merasa ngeri karena ia selalu berpapasan dengan sosok – sosok hantu yang berbagai macam rupanya. Namun kebanyakan yang Mbah Sambung lihat adalah perempuan – perempuan yang selama hidupnya matinya tidak wajar. Wajah- wajah pucat memelas, yang seakan – akan minta pertolongan untuk dibebaskan dari tempat ini. Mereka adalah para korban ritual yang dibuang saja setelah disesap keperawanannya diambil darah segarnya dan kemudian tubuh mereka diremukkan dan dibuang di sebuah tempat bernama lembah iblis.

“Tolong, Mbah keluarkan aku dari sini….”Mbah Sambung semakin merinding mendengar kesah roh- roh yang bergentayangan itu. Mereka tidak terkubur, belum pernah bertemu keluarganya selepas kematiannya dan tersia - sia karena dianggap orang telah hilang dan tidak pernah diketemukan lagi.

Mbah Sambung sedih, ia teringat cucunya dan untungnya cucunya bisa melarikan diri dan lolos dari siksaan pada centeng, begundang dan orang-orang yang tidak punya hati nurani.Air matanya tidak terasa menetes menyaksikan suasana seram dari sebuah tempat pembuangan manusia yang menjadi korban ambisi manusia berhati iblis.

“Siapapun, orangnya yang mempunyai perilaku laknat ini, semoga semakin cepat mendapatkan balasan setimpal dengan perbuatannya.”

Jeritan – jeritan pilu sering terdengar oleh Mbah Sambung.

“Semakin lama di sini rasanya Simbah semakin tidak kuat menahan rasa sedih.”

“Kenapa Mbah Sambung.”

“Kau bisa lihat Khan Nak Prabangkara. Para roh gentayangan itu. Mereka sedih dan mereka ingin terbebas dari siksaan. Sudah menjadi korban ritual gila, arwahnya nglambrang. Mereka butuh didoakan, jasad dan tulangnya ditemukan untuk dikuburkan sewajarnya.”

“Iya Mbah, saya juga merasakan betapa mereka butuh keluarganya yang pasti sedih kehilangan orang – orang yang ditinggalkannya. Mending kalau mati secara wajar karena sakit dan karena sudah waktunya. Mereka mati secara tidak wajar. “

“Orang kalau sudah bersekutu dengan iblis kelakuannya amat mirip dengan perilaku iblis, tidak punya belas kasihan sama sekali.”

“Kenapa masih ada orang – orang seperti ini ya di bumi ini?”

“Kalau pengin damai ya tidak boleh menyekutukan iblis dalam hidup kita.”

“Tapi karena tekanan ekonomi, tergiur oleh nikmatnya kekayaan dan kekuasaan telah membutakan  nurani manusia.”

Sejenak suasana kembali hening. Kembali dua orang laki – laki yang satu masih muda dan  tampan bertubuh bagus dan tinggi cukup, berhadapan dengan kakek tua yang kulitnya sudah mulai berkeriput, rambut penuh uban dan celung di matanya semakin dalam itu diam.

Semakin diam, semakin larut dalam suasana mencekam rasanya semakin banyak suara- suara memilukan yang terdengar.

“Yuk, kita pulang dulu. Susun rencana dulu bagaimana caranya menghentikan ritual bejat yang dilakukan oleh mereka – mereka yang berhati sontoloyo.”

Mbah Sambung dan Prabangkara kemudian berjalan ke tempat semula ketika mereka memasuki tempat angker dan aneh ini. Dari jauh sudah mulai terdengar suara kokok ayam. Pagi sudah menjelang dan mereka tidak ingin merusak rencana untuk membongkar ritual bejat tersebut.