Now Loading

BAB 11

"Aku pikir gadis itu mengalami gangguan jiwa," kata Hiro.

 Kinyang menguap lebar tanpa berusaha menutupi mulutnya. Dia mengeluarkan sebatang rokok lagi dari bungkusnya.

"Kalau menurut gue, dia jatuh cinta," jawabnya sambil menyalakan korek.

"Tapi ya... sama aja, sih."

Wu Ben, dokter yang terkenal di kalangan peri—“dan tak lama lagi di seluruh galaksi," sambungnya sendiri— telah membawa masuk Wulan ke S Cikarang melalui pintu belakang. Staf rumah Sakit memegang rahasia pasien di bawah sumpah Hippocrates.

Pembedahan memakan waktu enam belas jam. Kinyang dan Hiro tidur satu ranjang di ruang kosong, pertama kali mereka melakukannya sejak mereka bertemu. Selama ini Hiro bersikeras untuk tidur di lantai sehingga Kinyang menguasai tempat tidur sendirian. tapi hari ini hari gila dan Kinyang menginginkan Hiro di sisinya.

“Terdapat kerusakan saraf yang luas, kehilangan darah yang signifikan, bahaya infeksi.“

Hiro dan Kinyang tak mengerti sepatah kata pun ucapan Wu Ben, tapi sepertinya sangat parah.

"Tapi jangan khawatir," ucap Wu Ben sebelum mengusir mereka. "Gadis itu bertahan, dia benar-benar melakukannya dengan baik, mengingat luka-lukanya. Dia akan selamat, gadis tangguh."

"Anda akan menulis makalah tentang dia?" tanya Hiro.

"Kamu berani taruhan?"

 Kinyang menelepon Nawang di Hong Kong, memberitahu putrinya mengalami kecelakaan. Dia ingin menghubungi seseorang lagi, tapi Hiro bersikukuh agar mereka keluar mencari udara segar. Hiro membenci rumah sakit.

Mereka berjalan bergandengan tangan dalam diam, dan tahu-tahu saja mereka berada di atas bukit yang menghadap ke lokasi konstruksi kota baru yang mangkrak, tempat favorit mereka dulu.

Kinyang menyedot rokoknya kuat-kuat.

"Jadi menurutmu dia gila gara-gara cinta," Hiro melanjutkan pembicaraan yang terputus tadi.

"Gue tahu apa yang dia bilang ke gue!"

"Dia mengigau!"

"Bagaimana dia bisa mengenal nama Pangeran Zenatar?" tanya Kinyang.

"Dan fakta bahwa Pangeran memiliki sayap perak dan pupil mata keemasan?"

"Gadis itu praktis bisa dibilang sebagai pakar tentang Peri." Jawab Hiro. "Kamu sendiri yang mengatakan padaku bahwa dia mempelajari Kitab Daur Purnama. Wajar dia tahu seperti apa fisik kaum bangsawan peri!"

"Dan nama Pangeran? Itu tak pernah diungkapkan. Gue tahu nama putra-putri Ratu sesudah Azura jatuh, dan tidak ada yang menulis kitab baru sesudahnya."

Hiro terdiam.

"Ada nama 'Zen’ di buku telepon hape Wulan," lanjut Kinyang. "Gue udah simpan ke hape, kita bisa—"

"Memintanya datang dan mengumpulkan semua peri di bawah sinar bulan purnama sehingga dia bisa dinobatkan sebagai Raja Peri?"

"Betul!" seru Kinyang.

"Oh, demi Azura—"

"Pangeran mempunyai darah Peri Pertama. Dia bisa mengembalikan kekuatan kita. Mungkin bahkan peri bisa bereproduksi lagi."

"Oke, katakanlah kita berhasil menemukan Pangeran," kata Hiro. "Bagaimana jika dia menolak? Sebelumnya sudah pernah terjadi dan berakhir dengan tragis. Bagaimana jika kamu berhasil menghubunginya, tapi Pangeran menolak?"

"Oh, dia adalah bajingan terbesar bangsa peri jika dia menolak," jawab Kinyang. "Tapi enggak ada salahnya mencoba."

"Kok kamu tiba-tiba bisa berpikir positif begitu?"

"Lu ngarepin gue negatif melulu?" balas Kinyang. "Kita butuh harapan, oke? Mungkin itu harapan palsu, mungkin ini harapan yang akan menghancurkan diri kita, nanti. Tapi kita membutuhkannya, Sayang. Sekarang kita enggak berdaya, enggak punya sihir, enggak bisa punya anak. Garis keturunan peri berhenti di kita. Bagaimana kita bangun setiap pagi dan menghadapi hari-hari tanpa harapan sama sekali? Kita perlu punya harapan, dan sekecil apapun itu, kita harus berusaha menggapainya."

"Oh, Kinyang..."

"Ya, gue tahu, biarpun Pangeran bersedia menjadi Raja kita enggak menjadi bagian dari komunitas peri seperti dulu lagi. Karena gue begitu bodoh membiarkan sayap gue hancur oleh pintu kereta api. Karena gue lebih bodoh lagi membiarkan lu ngejalanin operasi itu. Lu bodoh. Tapi mungkin Raja yang baru bisa menumbuhkan sayap kita lagi! Siapa tahu? "

Hiro memegang tangannya.

" Kinyang," bisiknya.

 Kinyang menangis. Hiro terdiam, bisu tak berdaya.

"Baiklah. Mari kita telepon dia," bisik Hiro lembut.

Kinyang tak bereaksi.

"Ayo kita hubungi Pangeran."

Butuh beberapa detik untuk Kinyang memahami kata-kata Hiro.

"Oh," kata Kinyang, menyeka air matanya. "Sungguh?"

"Seperti yang kamu katakan: ini pantas dicoba."

 Kinyang tersenyum. Dia mengeluarkan gawai dari sakunya, menyentuh layar. Pengeras suara memperdengarkan nada sambung.

"Berdering," kata Kinyang.

Dia meletakkan gawainya di rumput. Mereka berdua menatap layar gawai yang berkedip-kedip seakan benda itu merupakan barang keramat.

"Ingat bagaimana pertama kali kita menemukan tempat ini?" Hiro berkata, menutupi kegugupannya dengan obrolan kosong.

Dia menatap tiang pancang, perancah yang berkarat, bangunan yang belum selesai dan ditinggalkan mangkrak. Meski tak indah namun sinar bulan tanggal sepuluh membuat langit yang hitam bersemu ungu muda.

 Kinyang memeluknya erat-erat.

"Aku ingat," katanya, tak lagi ber-elu-gue.

Mereka saling bersandar satu sama lain, terhanyut akan kenangan melayang terbang menentang rembulan, sambil menunggu seseorang di seberang sana membalas panggilan dari gawai yang tergeletak di rumput.