Now Loading

Terdampar

1. Terdampar

Siapa yang menyangka mereka tersesat di sini.  Sebuah tempat antah berantah yang mungkin tidak terjangkau peta.

“Seharusnya kita pergi searah matahari tenggelam Ran.   Sekarang kita terjebak di sebuah tempat entah dimana,” Rabat menyeka peluh di dahinya.  Hari sangat panas.  Apalagi mereka mungkin sudah berjalan sejauh lebih dari 10 kilometer dari tempat kecelakaan pesawat.

Orang yang dipanggil Ran, seorang lelaki tinggi besar dan gagah menatap Rabat dengan pandangan nanar.  Ini sudah terjadi.  Mau apa lagi.  Paling penting adalah mereka segera mencari jalan keluar.  Mereka berada di tengah hutan tropis yang lebat.  Tak ada satupun yang membawa peta atau kompas.  Semua hanya mengandalkan ingatan.  Dan intuisi.

“Kita ikuti saja alur sungai.  Pertama yang harus kita lakukan adalah menemukan sungai itu,” sebuah usul yang masuk akal dicetuskan Cindy.  Perempuan satu-satunya yang selamat dari kecelakaan pesawat.

Lima orang penyintas itu bersamaan mengangguk.  Sepakat.

-----

Mereka beristirahat sebentar untuk menyiapkan perbekalan.  Menyusur tengah belantara mencari sungai bukan pekerjaan mudah.  Apalagi mereka baru saja selamat dari kematian.  Pesawat kecil yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin.  Mendarat darurat di sebuah padang kecil di tengah hutan yang luas.  Pilot dan teknisi tewas.  Ajaibnya seluruh anggota team ekspedisi selamat.  Hanya luka-luka kecil yang didapat.

Setelah melakukan upacara penguburan sederhana terhadap jenazah pilot dan teknisi yang tewas.  Team bergerak.  Mencari jalan ke desa atau kota terdekat.  Mereka harus memberi kabar universitas tentang musibah ini dan minta evakuasi.

Ran adalah ketua team ekspedisi pencarian sebuah negeri yang disebut Negeri Tulang Belulang.  Negeri yang konon tersembunyi di sebuah tempat di hutan tropis Afrika.  Atau padang savana.  Atau sebuah semenanjung.  Tak pasti.  Karena dari petunjuk yang mereka dapatkan, lokasi hanya disebutkan di hutan tropis yang berbatasan dengan padang savana di sebuah semenanjung Afrika.  Rumit.

Keseluruhan team terdiri dari 5 orang.  Ahli antropologi Cindy.  Ahli geologi Rabat.  Ahli biologi Tet sekaligus sebagai pencari jejak.  Ahli paleontologi Ben.  Sedangkan Ran sebagai ketua team adalah seorang dokter spesialis tulang.

Setelah membereskan semua persiapan.  Team kembali bergerak.  Kali ini mereka menyusuri sebuah aliran sungai kecil yang tak lagi berair.  Sudah bisa dipastikan bahwa sungai kecil itu menuju ke sungai yang lebih besar.  Begitu seterusnya sampai akhirnya aliran air akan bertemu dengan sungai induk yang mengarah ke laut.

Tet berjalan paling depan.  Dia yang paling berpengalaman berpetualang dan bisa diandalkan dalam mencari jejak.  Diikuti berturut-turut Ben, Cindy, Rabat dan terakhir Ran.  Meskipun berprofesi dokter, Ran adalah penembak ulung.  Oleh karena itu satu-satunya senapan yang ada dipegang olehnya.

-----

Belum jauh rombongan itu berjalan.  Tet mengangkat tangan memberi isyarat berhenti.  Ada sesuatu.  Bahkan Tet berjongkok dan meminta teman-temannya melakukan hal yang sama.  Semua menuruti Tet.

Tak jauh di hadapan mereka, tersaji pemandangan mengerikan.  Seekor binatang mirip dengan singa tapi lebih besar dari ukuran normal sedang bertarung sengit melawan binatang mirip dengan harimau seukuran sama.  Disebut mirip karena singa dan harimau itu bukan benar-benar spesies yang biasa dijumpai.  Tubuh singa itu berkelir warna warni.  Sementara si harimau bahkan tanpa bulu, mirip dengan tubuh kuda nil.

Seluruh anggota team ekspedisi terpana.  Takjub dengan adegan seru di depan sana.  Tet mengrenyitkan dahi melihat keanehan binatang-binatang itu.  Rasanya seperti bukan berada di bumi.  Tidak ada sama sekali referensi yang menyebutkan jenis-jenis binatang aneh seperti itu selama ini.

Pertarungan itu berakhir tanpa pemenang.  Kedua binatang pemangsa itu balik badan dan berlari pergi.  Tempat pertarungan yang berupa semak belukar membelasah berantakan.  Bukti betapa dahsyatnya pertarungan tadi.

“I...itu binatang apa Tet?” Cindy terbata-bata bertanya.

“Kita sebenarnya berada dimana?” Ben bergumam kepada dirinya sendiri.

Tet memandang kawan-kawannya.  Sedikit menyeringai;

“Team, sepertinya kita terdampar di sebuah tempat unknown.  Sisi baiknya, sepertinya kita penemu pertama tempat ini.  Aku yakin, kita masih di bumi.”

-----

Perjalanan dilanjutkan.  Medan yang dilalui makin lama makin curam.  Tapak sungai kecil itu berakhir di bibir ngarai terjal.  Kira-kira lebih dari 100 kaki.  Dan itu belum berakhir sampai di situ.  Di bawah sana mengalir sebuah sungai agak besar yang menjatuhkan airnya di ngarai lebih dalam lagi berupa air terjun.  Tidak kelihatan dari sini.  Tertutup kabut yang sangat tebal.

Kelima team ekspedisi saling pandang.  Tidak mungkin bagi mereka menuruni tebing tegak lurus ini.  Terlalu berbahaya.  Berputar adalah satu-satunya cara.  Kali ini Ran memimpin.

Para penyintas yang terdampar itu berjalan tersaruk-saruk.  Mencari aliran sungai lain untuk ditelusuri.  Mereka sepakat memanfaatkan waktu siang untuk berjalan.  Mendekati petang barulah mereka akan mencari tempat untuk beristirahat. 

Dan sampailah juga mereka di penghujung hari.  Ran menemukan sebuah tempat datar yang cocok untuk mendirikan tenda.  Mereka berbagi tugas.  Ada yang mencari air.  Mengumpulkan ranting kering.  Memasak.  Dan berjaga-jaga tentu saja.

Malam itu semua berkumpul melingkari api unggun.  Ran sengaja membuat api cukup besar untuk menghindari binatang-binatang berbahaya.  Tidak ada perbincangan selama makan.  Perasaan mereka masih begitu rushing.  Hari ini mereka menghadapi situasi mencekam berturut-turut.  Musibah pesawat.  Perjalanan berat di hutan.  Dan terutama, menyaksikan pertarungan 2 binatang aneh yang tidak tercatat di buku ilmu pengetahuan.  Belum lagi, mereka tidak bisa memastikan sesungguhnya di mana mereka terdampar.

-----

Tidak ada juga yang bisa tertidur cepat meski mereka sangat kelelahan.  Semuanya masih berkumpul di sekitar api unggun.  Berlarian di lamunan masing-masing.  Apalagi yang harus mereka hadapi esok hari.

Koaaakkkkkkkk....koaakkkkkkkkkk....wusssssssssssss

Suara kepak sayap keras dan jeritan melengking tinggi memenuhi udara di seputaran team ekspedisi.  Kontan semuanya tersentak berdiri.  Waspada.  Sekaligus juga ketakutan.  Suara itu begitu mendebarkan jantung.  Mengerikan!

Ran mengokang senjatanya.  Siap menembakkan peluru bagi apa saja yang mengancam mereka. 

Koaaakkkkkkkk....koaakkkkkkkkkk....wusssssssssssss.....brukkkkkkkkkkkkkk

Suara mengerikan itu berulang dan bahkan terdengar sangat dekat.  Diikuti dengan suara benda berat jatuh persis di hadapan mereka.

Kelima orang itu tersentak ke belakang.  Menatap benda yang terjatuh di hadapan mereka.  Lebih tepatnya dijatuhkan!

Itu kepala!  Tepatnya 2 kepala berikut tulang-tulang iga berukuran besar.

Cindy tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menjerit.  Itu kepala singa dan harimau yang bertarung tadi siang!

Ran dan Tet mengerutkan alisnya secara bersamaan.  Sepertinya mereka memang terdampar di tempat unkown yang sangat misterius.  Mereka harus menanggapi semua ini dengan serius. 

-----

Bersambung ke Bab Sungai Raksasa