Now Loading

BAB 10

"Berapa Anda bayar untuk ini?" Tanya Wulan.

"Oh, jadi wawancara sudah dimulai?" tanya dokter itu. 

"Biarkan aku membuatnya jadi jelas: aku setuju karena aku berutang pada Solena, tapi kau harus mengerti bahwa kau tak dapat membocorkan namaku atau lokasi klinik. Kau akan menghancurkan banyak peri yang tidak punya asuransi. Jika kau mengirim aku ke penjara, maka banyak pihak yang akan dirugikan."

Wulan membuka mulut untuk menyela, namun dokter itu terus saja mengoceh.

"Dan aku tak mempercayai siapapun. Dalam bisnis ini, kau tidak bisa percaya siapapun. Jadi, aku sudah tahu siapa kau."

Wulan ingat sidik jarinya menempel di lonceng pintu.

Dr. Halomoan menampakkan mimik penuh penyesalan. 

"Jangan marah. Kalau mau marah, sana sama Solena si penyihir tua. Biarpun peri sudah kehilangan sihir mereka, tapi mereka tetap bisa membuat ramuan. Jadi aku minta sama kau, mohon pengertiannya. Aku tidak ingin menyakiti siapapun."

"Kecuali tikus."

"Apa?"

"Lena sudah cerita," Wulan berbisik, seolah sayap di dinding bisa mendengar, "bahwa Anda bereksperimen dengan tikus, lalu kucing, lalu anjing. Anda memberi mereka sayap."

Dr. Halomoan menarik napas dalam-dalam dan menahannya cukup lama. Wulan menunggu.

"Tidak," jawabnya sambil membuang karbon dioksida dari paru-parunya. 

Dia berbalik menuju pintu. "Tidak. Lena sudah memberitahumu terlalu banyak. Dasar penyihir tua. Tidak, tidak, tidak."

"Saya kesini bukan untuk mewawancarai Anda!" seru Wulan. Amarah dalam suaranya membuat langkah sang dokter terhenti.

Dr. Halomoan menatap tajam, dan Wulan balas menatap tak berkedip. Rasa putus asa melanda sekujur tubuhnya hingga ia menggigil. Dia tahu bahwa ia mengharapkan hal yang mustahil.

"Tolonglah," bisiknya.

"Dengan tikus dan kucing dan anjing, aku menggunakan sayap sintetis. Dengan kau, kalau kau benar-benar yakin mau menjadi sukarelawan subjek percobaan, aku akan menggunakan sayap peri yang sebenarnya."

"Dari peri yang sudah meninggal?" Wulan tambah menggigil memikirkan hal itu.

"Bisa saja. Tapi kita akan menggunakan sayap dari peri yang memutuskan untuk mencopot sayapnya dengan operasi. Kebetulan ada satu yang tinggi dan berat badannya cocok sekali sama kau. Tentu saja aku bilang ‘cocok’ secara estimasi. Di sini, kita tidak pernah bisa memastikan perpaduan sempurna. Sayap, seperti organ donor manapun, bisa ditolak oleh tubuh penerima. Kau pernah mendengar tentang penolakan organ, kan? "

"Tentu saja."

"Dan Ini adalah operasi besar, melibatkan saraf dan organ dari spesies lain. Risiko gagal sangat tinggi.  Enam belas jam di meja operasi, sebulan atau lebih untuk pulih. Akan ada komplikasi. Selama ini percobaanku dengan hewan meskipun sukses, tapi tak ada yang bertahan hidup lama. Tikus mati setelah 72 jam, kucing dan anjing setelah seminggu."

"Anda terdengar seperti mencoba untuk mencegah saya."

"Kami belum pernah memiliki relawan sebelumnya. Aku hanya beroperasi pada mayat, mencari tahu saraf mana yang menyatu dengan apa."

"Anda pasti senang karena saya ada di sini."

"Kami akan meminta kau untuk menandatangani perjanjian kerahasiaan."

"Tentu saja."

"Dan jangan khawatir, binatang memang kami biarkan mati demi eksperimen, tapi jika ada yang tak beres dengan operasi kau, kita akan segera melepaskan lagi sayapnya."

"Baiklah."

"Mengapa kau melakukan ini?"

"Mengapa Anda melakukan ini?" balas Wulan.

"Begitu banyak peri datang kemari  ingin menyingkirkan satu hal yang membuat mereka adalah mereka, dan begitu banyak manusia yang begitu bersemangat untuk terbang. Aku melihat ada market."

Wulan memaksa dirinya untuk ikut tertawa.

"Atau," kata dokter itu, "aku sudah gila."

Mungkin juga, pikir Wulan. Begitu juga aku.