Now Loading

BAB 9

Untuk sebuah klinik yang tersembunyi di deretan toko-toko jorok yang terlupakan di Mangga Besar, sebenarnya kebersihannya cukup mengesankan. 

Wulan hampir saja melewatkannya. Narasumbernya, salah satu peri yang tuna-sayap berusia lebih dari tujuh ratus bulan yang diwawancarai untuk bahan skripsinya memberikan nama jalan ini, di belakang panti pijat. Namun di sini terdapat tujuh panti pijat, sebuah fakta yang lupa diungkapkan oleh sang narasumber. 

Tak mungkin dia bertanya kepada satu per satu pemilik panti pijat apakah mereka menyembunyikan ruang operasi di bagian belakang.

Namun akhirnya itulah yang dia lakukan, secara tak langsung. Dia menyanyakan secara samar. Apakah di sini ada toko lain selain panti pijat?

Satu atau dua orang menatapnya dengan pandangan penuh curiga dan menjawab dengan singkat dan datar: Tidak.

Namun sebagian besar menanggapi pertanyaannya itu dengan cemberut dan punggung mengeras kaku.

"Apa maksudmu ada toko lain di sini?"

Wulan tidak tahu bagaimana harus menjawab. 

"Apakah Anda memiliki layanan selain pijat? Apakah Anda melayani potong rambut atau— "

"Sira beli isin, nok ayu?" tukang pijat yang bosan menyahut, membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak. "Jeruk mangan jeruk." 

Wulan tersipu dan langsung lari dari tempat kejadian.

Panti pijat terakhir yang ia kunjungi sebelumnya telah dilaluinya. Dia melewatkannya karena tempat itu bagai tak berpenghuni. Lapisan debu tebal menutupi jendela-jendela berkaca gelap. Tulisan ‘PANTI PIJAT TRADISIONAL’ ditulis dengan spidol pada sepotong karton manila yang mungkin sudah mengalami dua periode gubernur nyaris tak terbaca. PIJAT REFLEXY, FULL BODY, SHIATSU, SWEDIA tanpa daftar harga.

Wulan masuk melalui pintu kaca kusam. Ruang tunggu gelap dengan perabotan kuno murahan dan bau bangkai tikus. Seorang pria muda bertubuh ceking tidur di belakang meja resepsionis. Wulan berbalik hendak pergi, ketika pria itu bergerak dan bertanya: 

"Nyari siapa?"

Penasaran, Wulan balik bertanya, "Dokter Halomoan?"

Pria itu menunjuk ke bagian belakang ruangan dan kembali tidur.

Wulan berjalan melewati deretan dipan pijat yang dipisahkan oleh tirai kekuning-kuningan yang menutupi seluruh dinding. Wulan terus berjalan ke belakang menyibak sebagian tirai ke samping sehingga dia bisa melewatinya.

Di ujungnya terdapat pintu kayu dengan lonceng dan lubang intip. Wulan membunyikan lonceng dan terdengar suara langkah kaki dari dalam.

"Siapa?" tanya sebuah suara dari sisi lain pintu.

"Solena mengirim saya ke sini," jawabWulan.

Pintu terbuka. 

Udara sedingin es dari AC yang menyala kencang menabrak wajahnya. Dokter Halomoan adalah seorang pria jangkung berusia lima puluhan, berkacamata persegi tanpa bingkai. Dia terlihat kekar dan langsing dengan kaus polo hitam, kemeja putih, dan celana hitam.

"Lena!" serunya. "Dia itu lucu sekali, ‘kan? Silakan masuk."

Wulan menatap lima pasang sayap yang tersimpan dalam pigura kaca di dinding, lengkap dengan lampu neon penerang. Dr. Halomoan—sangat mungkin bukan nama sebenarnya—merasa bahwa kliniknya seaman bunker perlindungan dari perang nuklir, memamerkannya dengan bangga, seakan sayap-sayap itu sepatu mahal atau gaun desainer, bukan organ tubuh yang didapatkan dengan amputasi dan mutilasi. 

Wulan bertanya-tanya keputusasaan yang bagaimana yang mendorong peri menjual sayapnya sendiri. 

Apakah seperti keputusasaan yang dirasakan ayah yang miskin sebelum dia menjual ginjalnya agar anaknya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi? 

Mungkin tidak sedramatis itu. Hidup tidak melulu tentang uang. Namun jika ada peri yang ingin melepas sayapnya dan mendapatkan uang dari itu, tak ada salahnya, bukan?