Now Loading

Dari Widuri Hingga Sepanjang Jalan Kenangan

 

Widuri

Elok bagai rembulan... oh sayang

Widuri

Indah bagai lukisan

Widuri

Bukalah pintu hati untukku

Widuri

Ku akan menyayangi

(Widuri oh widuri)

(Ku selalu menyayangi)

 

Refrain lagu yang sangat terkenal di tanah air sejak tahun 1970 an ini menggema sampai ke lantai dasar bangunan tempat parkir bertingkat yang ada di seberang terminal di Jalan Cator . 

 

Suara bariton lelaki  yang menyanyikan lagu ini, walau tidak semerdu suara Bob Tutupoli , tetap saja dapat mengobati rasa rindu tanah air bagi semua yang mendengar . 

 

Empat Sekawan segera naik ke lantai 5 melalui lift dan sampai ke sebuah food court dengan susunan meja dan kursi yang diatur ulang  bak sebuah Cafe . 

 

Waktu menunjukkan sekitar pukul 9 malam waktu Brunei . Empat Sekawan segera mencari kursi dan meja yang masih kosong dan segera memesan kopi dan makanan kecil.

 

Ternyata karaoke di tempat  ini sangat sederhana . Ada sebuah TV besar dan pengunjung boleh memesan lagu untuk kemudian bernyanyi baik sendirian atau bersama-sama . Uniknya lagi tempat ini tidak memiliki dinding yang tertutup karena sebenarnya merupakan tempat parkir bertingkat.

 

Malam itu pengunjung tidak terlalu ramai. Ada beberapa meja yang terisi dan secara kasar jumlah pengunjung sekitar dua puluh orang saja.

Sambil menikmati kacang rebus dan goreng pisang . Kami duduk dan menikmati beberapa lagu yang dinyanyikan pengunjung lain. Tidak ada yang kami kenal disana . Namun dapat dipastikan bahwa hampir semua pengunjung merupakan diaspora Indonesia . 

Lagu demi lagu terus bergantian berkumandang. Saya terus mencari-cari Irma yang mengundang kami untuk pergi ke sini siang tadi di Kantor Pos sambil terus penasaran juga dengan perempuan misterius yang mengundang dari Hua Ho.

Sejenak, saya sempat melamun Tiba-saja sebuah lagu lawas nan akrab di telinga  mulai dilantunkan dengan nada yang lembut melambai.

 

Sengaja aku datang ke kotamu

Lama kita tidak bertemu

Ingin diriku mengulang kembali

Berjalan-jalan bagai tahun lalu

Sepanjang jalan kenangan

Kita s'lalu bergandeng tangan

Sepanjang jalan kenangan

Kau peluk diriku mesra

Hujan yang rintik-rintik

Di awal bulan itu

Penambah nikmatnya malam syahdu

 

Tidak terasa, Saya dan teman teman juga ikut bersenandung menyanyikan  lagu yang penuh kenangan ini.

 

Namun yang membuat kami terkejut sekaligus senang adalah ketika memperhatikan sepasang perempuan yang menyanyikan lagu ini.  

 

Duduk dipojok, sesekali mereka bangkit berdiri dan bernyanyi sambil bergaya. Yang pertama adalah Irma yang saya cari . Di sebelahnya adalah wajah perempuan misterius yang beberapa kali muncul sejak kedatangan kami  di Brunei . Dari  masjid perahu, Jerudong Park , hingga di Hua Ho Department Store siang tadi.

 

Saya berjanji,  malam ini akan mengungkap siapakah gadis misterius yang berduet bersama Irma ini.

 

“Aku ke tandas dulu ya”, kata saya kepada Azwar sambil menyulut rokok yang ke empat pada malam itu. Saya segera meninggalkan meja dan mencari toilet  yang ternyata  ada di pojok ruangan di belakang lift. 

 

Kau peluk diriku mesra

Hujan yang rintik-rintik

Di awal bulan itu

Penambah nikmatnya malam syahdu

 

Sementara saya masih di dalam toilet , bait terakhir lagu pun terdengar menandakan lagu sebentar lagi usai. Suara tepuk tangan membahana memberi semangat kepada dua perempuan muda yang menyanyikan lagu tersebut.

 

Saya bergegas kembali ke meja kami dan segera menyapu pandangan ke meja dimana Irma  dan gadis misterius tadi bernyanyi.

 

Sekilas saya lihat meja itu kosong. Penasaran, saya segera berjalan ke meja itu dan duduk di kursi yang kosong. Ternyata Irma sudah pindah di meja sebelah bersama 4 orang perempuan temannya. Namun tidak ada perempuan misterius yang saya cari.

 

“Dik Irma ,  mana temanmu tadi yang bernyanyi bersama ?” , saya bertanya sambil memberikan sepucuk kertas yang diberikan perempuan itu tadi siang di Hua Ho.

 

“Dia baru saja pulang, dia tidak boleh keluar malam lewat pukul 11 malam.”

 

“Dia titip  pesan untuk Abang dan kawan-kawan”, kata Irma lagi sambil memberikan sepucuk amplop kecil.

 

Dengan hati kecewa saya segera kembali ke meja saya, meneguk sisa kopi yang sudah dingin dan kemudian membuka lipatan kertas berisi pesan sang perempuan misterius.

 

“Maaf, saya harus pulang duluan. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi”.

 

Malam ini. Saya gagal bertemu dengan perempuan misterius yang sudah menghantui saya dan teman-teman sejak beberapa hari kedatangan kami di Bandar Seri Begawan ini. 

 

Pukul 11 malam, kami meninggalkan tempat karaoke yang juga sudah sepi.

Tinggal beberapa pekerja yang berberes merapikan tempat.

 

Bersambung