Now Loading

BAB 8

"Aku melihat peri terbang di sepanjang jalan layang. Dia terbang begitu cepat hingga terjerat kabel listrik."

"Kamu menyaksikan langsung?" tanya Wulan. "Aku menonton beritanya di berita televisi."

Dia sedang duduk di rumput, memeluk lututnya dan menggigit-gigit kuku jari telunjuk. Zenatar berbaring di sampingnya, beralaskan tikar lipat yang dibawa Wulan.

Satu-satunya lampu sorot yang dengan susah payah berupaya lokasi konstruksi yang ditinggalkan karena kehabisan pendanaan gagal menerangi meski hanya satu tiang pancang yang mencuat kesepian.

Setidaknya bulan purnama, Wulan bersyukur.

Cahaya bulan membuat mereka dapat menyaksikan kolom-kolom beton setengah jadi yang simpang siur sebelum mencapai titik di mana mereka berhenti dibangun. Tak ada satupun kabel listrik yang melintang.

Langit jernih bertabur bintang, menunggu dengan kesabaran seorang ibu.

"Dia meninggal seketika," jawab Zenatar. Dari nadanya, peri yang tewas itu mungkin saudaranya.

Wulan melirik ke arahnya. Zenatar berbaring mengenakan kaus tanpa lengan dan celana jins sobek-sobek memamerkan ototnya yang ramping. Matanya yang terbuka lebar memantulkan cahaya keemasan.

"Sayap dan punggungnya terbakar sampai gosong."

"Aku tahu."

"Mereka mengatakan dia depresi karena urbanisasi membuat jiwanya terganggu. Gangguan psikotik."

 Zenatar mendesah, mengangkat kakinya, dan melontarkannya untuk mendapatkan momentum dan bangkit duduk.

Wulan merasakan angin berhembus sepoi-sepoi di pipinya saat Zenatar mengembangkan sayapnya.

"Sungguh menyedihkan. Dia hanya ingin terbang."

Wulan duduk tegak. Zenatar menirukan pose itu, sambil memeluk lututnya.

"Aku merasa agak takut."

"Apakah kamu ingin pulang?" tanya Wulan.

Dalam kurun waktu sembilan bulan, dia dan Zen telah mendatangi lokasi konstruksi sebanyak tujuh kali, dan setiap kali Zenatar gagal terbang.

"Sayapku kedinginan," katanya.

Beberapa kali pertama Zenatar mengungkapkan kekecewaannya pada dirinya sendiri dengan marah:

Sudah bertahun-tahun, mengapa aku harus mencobanya sekarang? Untuk apa? Supaya aku bisa mencapai rak paling atas di toko buku tanpa harus memakai tangga? Dan mengapa kau peduli? Apakah kau benar-benar ingin membantuku atau kau hanya ingin melihat pertunjukan peri terbang?

Wulan akan menenangkannya, dan sepanjang perjalanan pulang, Zenatar menghindar untuk menatap matanya

"Mengapa kau tahan dengan sikapku?" tanyanya, menatap ke luar jendela taksi yang terbuka karena AC-nya rusak dan sopirnya mengoceh tentang kenaikan harga BBM.

Kali ini, Zenatar tak menyahuti ajakannya. Dia berdiri dan melangkah ke tebing di sisi bukit. Sosoknya yang tegak bagai patung di sinari rembulan, bagaikan mahakarya seni bagi Wulan.

Zenatar menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan membungkus sekeliling tubuhnya dengan sayapnya. Dia menggumamkan kata-kata yang tidak dimengerti Wulan.

Zenatar mengangkat tangannya ke langit dan membuka sayapnya. Tangan ke wajahnya, teraangkat ke langit sebanyak tiga kali bagai berdoa.

Tidak, dia bukan mengangkat tangannya ke langit, pikir Wulan. Dia mengarahkannya ke bulan.

Dan Zenatar mendadak terjun meluncur dari tebing.

Wulan tersentak kaget.

"Dia melakukannya," bisiknya pada dirinya sendiri. "Dia benar-benar melakukannya."

Sesaat berlalu.

"Zen?" Wulan merangkak ke tepi tebing, panik menguasai dirinya, isi perutnya bergolak.

"Zen!"

Zenatar muncul dari bawah, sayap dan rambutnya berkibar-kibar. Wulan menjerit kaget dan jatuh tergeletak. Dia bisa mendengar tawa Zen yang makin sayup saat dia naik semakin tinggi. Lalu dia menukik ke bawah bagaikan burung alap-alap memburu cakalang.

Angin sepoi-sepoi menyapu pipi Wulan.

"Aku melakukannya!" Zen berteriak.Matanya berkilau bagai bocah menemukan mainan yang hilang.

"Aku terbang aku terbang aku terbang aku terbang aku terbang aku terbang lagi!"

Zenatar terbang mengelilingi bangunan setengah jadi selama lima menit. Wulan mengamatinya. Tangannya yang memegang ponsel sudah gatal hendak mengabadikan peristiwa itu, namun dia bertahan untuk tidak melakukannya.

Ketika kaki Zenatar menyentuh tanah lagi, wajahnya memerah dan rambutnya berantakan. Wulan bisa merasakan kebahagiaan yang melandanya bagai sapuan topan, sederas hujan, dan sekencang badai.

Zenatar memeluknya, begitu eratnya hingga Wulan terengah-engah, sulit untuk bernapas.

"Terima kasih," kata Zenatar sambil masih memeganginya.

Wulan tertawa geli.

"Ada apa?"

"Aku tidak tahu bagaimana harus memelukmu, sayapmu..." jawab Wulan.

"Lakukan seperti ini," ucap Zenatar sambil meraih kedua tangannya.