Now Loading

BAB 7

"Mitos yang lain," ujar Peri, matanya menerawang jauh dan ia menggelengkan kepalanya bagai menepis kenangan pahit.

"Dia dibunuh karena menolak memberi konsesi tambang emas. Dia ditembak karena duta besar manusia serakah, dan Ratu menolak berbisnis dengan orang-orang serakah. Akhirnya para duta besar mendapatkan apa yang mereka inginkan, tambang emas dan lain-lainnya. Kekayaan Azura mereka sedot sampai kering."

Wulan tunduk menatap cangkirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Ngapain kita bicara hal-hal yang menyedihkan?" ujar Peri merasakan ketidaknyamanan Wulan. "Mari kita bicara tentang kantin murah di Fakultas Sastra lagi.”

"Ceritakan tentang Azura," kata Wulan. "Kenangan indah apa yang belum kamu ceritakan padaku?"

Sang Peri memejamkan matanya dan senyumnya kemudian mengembang

"Sari kembang, getah manis, madu hutan dan rempah harum."

Dia membuka matanya.

"Alun-alun ibukota yang terbuat dari emas berkilau lembut diterpa mentari pagi. Aroma taman istana yang tidak pernah bisa ditiru oleh parfum manusia. Festival merayakan hasil panen. Pesta-tanahnya yang subur makmur. Lembah, gunung, ngarai yang indah. Kekuatan sihir yang kami miliki memberi kami kebutuhan dasar: makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian. Hari-hari diisi dengan berbagai kegiatan pertandingan olahraga dan seni budaya artistik. Apa saja yang bukan merupakan pekerjaan kasar, karena kerja otot diselesaikan dengan sihir. Tidak ada peri miskin, semua peri dapat memiliki apapun yang diimpikannya. "

Lalu senyumnya memudar.

"Dan sekarang aku berkerja dengan upah minimum, menghirup udara yang terpolusi asap jelaga,makan di warung atau kafetaria sekadar asal makan, jika hujan terserang flu dan tidur di kamar yang tak lebih luas dari wc umum. Aku bahkan tidak boleh terbang lagi."

"Karena peraturan?"

"Karena tak ada ruang!" Tangannya terangkat. "Tak ada langit di kota ini, hanya kabel, papan baliho reklame dan bangunan pencakar langit."

Sang Peri menurunkan tangannya lunglai dan mendesah.

"Aku belum pernah terbang selama sebelas tahun. Aku mungkin melayang untuk menyeberangi jalan, tapi belum pernah terbang lagi."

"Aku sungguh menyesal," ujar Wulan.

"Aku kadang berharap kalau saja dulu sempat membawa emas ke sini sebelum Azura jatuh," kata Peri. Dia menundukkan kepala dan terkekeh-kekeh. Beberapa pasang mata mahasiswa yang belajar sambil ngopi di kedai tersebut menoleh.

"Kamu seorang bangsawan, bukan?" tanya Wulan dengan suara pelan.

Peri menatapnya sambil tersenyum tipis.

"Sayapmu berwarna perak," Wulan menjelaskan. "Dan matamu—"

"Ratu memiliki banyak anak,” potong peri. "Aku adalah salah satunya. Aku yakin aku adalah satu-satunya yang masih tersisa. Sebagian besar tewas dalam perang."

Wulan menanggapi penjelasan itu dengan diam.

"Oh, tapi pembicaraan tentang hal-hal yang menyedihkan ini membuat emosiku terkuras habis! Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Kamu bisa menghiburku dengan lelucon sepanjang perjalanan, bukan?"

Wulan tidak bisa memikirkan lelucon, maka Sang Peri yang bercerita tentang tingkah para pelanggan yang menyebalkan di toko buku.

Sesampai di pintu asrama, Wulan berbalik dan bertanya, "Pernahkah kamu mendengar tentang lokasi konstruksi bangunan kota baru di Cikarang yang kini mangkrak?"

"Belum, apakah ada kafe di situ?"

"Aku akan mengajakmu ke sana besok," jawab Wulan.

"Tempat yang tepat untuk terbang. Kamu akan menyukainya."

"Yang betul!" ujar Peri dengan nada sinis, namun Wulan bisa merasakan kegembiraan yang nyaris meledak-ledak.

Wulan mengangguk.

"Selamat malam."

"Zenatar."

Wulan kembali berbalik dengan dahi berkerut.

Peri itu tersenyum padanya.

"Namaku Zenatar, Panggil saja Zen."

"Zen," balas Wulan.

"Selamat malam, Zen."