Now Loading

BAB 6

"Ceritakan tentang Azura," kata Wulan, malam itu saat mereka pertama kali bertemu.

Zenatar mengambil kelas malam di universitas tempat Wulan kuliah. Pada suatu malam gelap saat Wulan berjalan ke asramanya, dia melihat seorang peri di sebuah taman perpustakaan yang remang-remang. Dia memunggungi Wulan, sebelah tangannya bersandar pada sebatang pohon.

Sayapnya yang keperakan berkilau membentang lebar, membuat Wulan terpaku dalam pesona. Terakhir kali dia melihat sayap peri bertahun-tahun silam, dan belum pernah ada yang selebar dan seindah ini.

Sebuah tas ransel tergeletak di rumput dekat kaki Peri. Isinya tumpah berantakan. Tanpa berpikir panjang, Wulan berlari mendekat ke arahnya.

"Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya, sambil terengah-engah karena berlari cepat.

"Sialan!" jawab sang Peri, sayapnya terlipat dengan refleks.

"Maaf," ucap Wulan. Dia menunjuk tas itu ke tanah.

"Apakah Anda habis dirampok?"

"Nyaris," jawab Pitu sambil membungkuk menyambar tasnya.

"Aku menghajarnya dengan sayapku."

"Oh, saya tak tahu kalau sayap peri juga berguna untuk membela diri," kata Wulan.

Mata Peri itu pupilnya memantulkan cahaya keemasan.

"Oh, itu rahasia peri yang tidak boleh diceritakan," jawabnya  sambil tertawa.

Wulan mengulurkan tangannya.

"Namaku Wulan."

Peri di hadapannya terlihat ragu sejenak, tapi akhirnya menyambut uluran tangannya.

"Mungkin Anda harus melaporkan perampokan ini pada polisi. Senat Mahasiswa telah mengusulkan agar keamanan kampus lebih ditingkatkan—“

"Tidak," jawab Peri sambil memanggul ranselnya. "Aku lebih suka pulang."

"Maaf," kata Wulan.

"Atau," ujar Sang Peri, "aku bisa minum teh untuk menenangkan detak jantungku. Mau ikut?"

"Oh," jawab Wulan "Baiklah."

Peri itu sudah berjalan tanpa menunggunya, dan Wulan bergegas menyusulnya.

"Kurasa aku belum mendengar kamu menyebut namamu."

Peri itu tersenyum.

"Kita minum teh dulu, Non."

Mereka pergi ke kedai kopi di kampus. Peri itu membawa dua cangkir chai latte panas ke meja.

"Aku yang bayar," katanya, "karena kamu telah meluangkan waktu untuk berhenti dan bertanya bagaimana keadaanku tadi. Mahasiswa lain tak akan melirik sedikitpun."

"Ini pertengahan semester," jawab Wulan, dan Sang Peri tersenyum.

"Kamu juga siswa kelas malam? Kerja siang?" tanya Peri.

"Tidak. Aku tinggal di kampus.  Tadi mau pulang ke asrama.. Tapi aku bekerja sebagai penulis lepas."

"Bagus, aku bekerja di toko buku."

"Oh," kata Wulan, dan tersenyum. "Aku suka toko buku."

"Bayarannya payah," jawab Sang Peri.

Mereka duduk di pojok kedai kopi sambil menyesap teh dan mengobrol berjam-jam. Wulan tidak ingat bagaimana, tapi setelah mengobrol ngalor ngidul tentang kurikulum, kriminalitas dan kantin seputar kampus, mereka membicarakan tentang Dunia Peri yang telah musnah.

"Saya tidak tahu dari mana mitos ‘besi dan belerang racun pembunuh peri’," kata Peri.

"Ingat bagaimana di tahun sembilan puluhan ketika manusia memakai liontin besi dan belerang pada sebagai kalung? Aku benci itu. Bodoh sekali. Mengapa manusia mengira besi dan belerang mampu membunuh kami? Kami punya gunung berapi dan tambang besi di Azura."

"Oh, aku ingat pernah menonton di kanal tv mode. Semusim dengan celana Aladin."

"Sungguh gila , tapi mitos itu menyebar ke seluruh dunia, Kau tahu, mereka menggunakan peluru besi untuk menembak Ratu."

"Itu benar-benar terjadi?" tanya Wulan "Aku pikir itu hanya mitos."

" Ratu ditembak di lapangan yang memisahkan dua dimensi," jawab Peri. “Menembaknya di Lapangan Perdamaian, di tengah negosiasi bisnis."

"Karena dia mengecewakan kekasih manusianya, begitu menurut lirik lagu."