Now Loading

BAB 5

"Enam bulan yang lalu, aku buru-buru naik kereta saat sayapku tiba-tiba terbuka," jawab Kinyang. "Keduanya putus, dimutilasi oleh pintu kereta. Aku bahkan tidak sanggup menggambarkan rasa sakitnya seperti apa. Sayap peri tampaknya rapuh, mungkin kebanyakan manusia berpikir gampang mencabutnya tanpa menyebabkan rasa sakit. Tapi sumpah mampus, sakitnya luar biasa. Mungkin seperti kalau tulang kaki remuk dilindas truk. Aku pingsan, dan siuman ketika sudah berada di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa aku dapat memutuskan untuk membiarkan apa yang masih tersisa dari sayapku, tapi aku takkan bisa melipatnya dan menyembunyikannya di bawah kulitku lagi, dan mungkin ada infeksi dan komplikasi dan efek lainnya. jadi jawabku: 'Buang semua, Dok.' "

Kinyang memandang Wulan dan melihat ekspresi wajahnya.

"Mamamu tidak menceritakan keseluruhannya,ya?"

"Tidak," jawab Wulan, bingung. 

"Dia bilang Anda telah memutuskan untuk membuangnya. Saya pikir itu hanya bedah plastik biasa. Maaf."

Kinyang mengangguk. 

"Amputasi sayap hal yang tersulit. Setiap pagi aku bangun berdiri dan mencoba untuk membuka sesuatu yang sudah tidak ada lagi. Kalau cuaca dingin, bagian yang hilang terasa lumpuh, dan di musim panas bagian yang lenyap bagai memberontak ingin keluar. Ketika aku masih punya sayap, aku sesekali bermimpi terbang. Tapi setelah operasi, mimpi terbang datang setiap malam. Mimpi yang sama: berputar-putar di atas awan, hutan hijau dan sungai membelah lembah, dan ketika terbangun aku merasa duniaku telah berakhir.
Dulu, kadang-kadang saat aku melihat sekelompok peri yang melakukan amputasi, aku menilai mereka sebagai pengkhianat munafik sialan. Tapi sekarang aku sama seperti mereka, tak bersayap. Apa bedanya aku dengan mereka? Teman dekatku juga melepas sayapnya, tanda solidaritas. Kami biasa terbang bersama sebelum kecelakaan yang menimpaku. Kami sering pergi ke Cikarang, ke bukit berumput yang menghadap ke lokasi konstruksi kota baru—kamu tahu tempatnya? Gedung yang terlantar mangkrak?"

"Saya tahu tempatnya."

"Kami akan pergi ke sana, larut malam, dan kami akan terbang bersama, mengenang kembali masa lalu. Tapi karena aku tak bisa terbang lagi, temanku melakukan operasi. Keputusannya sepenuhnya untuk kosmetik, keputusan yang sepenuhnya pilihannya sendiri. Demi persahabatan. Tapi apa bedanya?"

"Jadi Anda menyesalinya?"

"Aku menyesal bahwa kami akan mati tanpa sayap," jawab Kinyang. 

"Kamu pasti pernah mendengar hasil tes terbaru, semuanya ada di berita. Kaum peri benar-benar mandul. Kami tak bisa lagi bereproduksi, takkan punya keturunan. Kami merupakan generasi terakhir peri, dan kami tak punya sayap."

"'Tapi jangan takut, Para Peri Putra and Putri,'" ujar Wulan menyemangati Kinyang. "Kalian akan bangkit lagi—'"

"—dan sayapmu akan bermandikan hujan dan sinar rembulan pada hari-harimu, dan milikmu akan memberi kemuliaan pada Azura.'" Kinyang menghela napas. 

"Kamu sudah membaca Kitab Daur Purnama, luar biasa."

"Saya membaca terjemahan secara online," jawab Wulan. "Saya harap Anda tidak tersinggung."

"Sama sekali tidak."

Diam. 

"Aku berharap surga benar-benar indah," ucap Wulan memecah kebisuan.

Sorot mata Kinyang terlihat sedih. 

"Aku juga," jawabnya. "Aku juga."