Now Loading

BAB 4

"Aku tidak bisa memberi tahu nama asliku," wanita itu berkata sambil menyalakan rokok.

Dia mengenakan sepasang sepatu hitam hak tinggi dan gaun merah pendek yang ketat yang menampakkan leluk tubuhnya dengan gamblang. Pelayan datang ke meja mereka tanpa diminta, membawa serbet ekstra dan gelas air. Mata mereka tak henti-henti melirik. Wulan hanya tersenyum geli.

"Tentu saja," kata Wulan. "Saya yakin Anda ingin tetap anonim untuk—"

"Peri tidak memberimu nama asli mereka," kata wanita itu.

"Setiap Peri yang yang telah kamu temui memberi nama palsu. Nama memegang kekuatan yang sangat besar, dan dengan mengungkapkan namamu berarti menyerahkan kekuatan itu. Sewaktu Azura masih berkuasa, aku dapat melontarkan mantra yang menghancurkan pada siapa saja yang nama aslinya kukenal."

Dia berhenti sejenak.

"Namun Azura meninggal lebih dari seratus bulan sekarang dan para peri kehilangan kekuatan. Jadi sebenarnya tak ada guna lagi merahasiakan nama asli. Apa gunanya? Bisa saja aku membuat akun Instagram dengan nama asliku, sebenarnya. Hanya saja kebiasaan lama susah dihilangkan."

Dia menghembuskan asap dari bibirnya yang membentuk huruf ‘O’.

"Maaf kalau aku tak ingin memberikan nama asliku. Hari yang buruk di tempat kerja. Sekarang ini aku hanya ingin dikenal sebagai Kinyang. Kamu boleh menulis inisial K di artikelmu, tapi kamu boleh memanggilku Kinyang."

Wulan mengangguk dan menambahkan namanya ke coretan di padnya:

1880 – Penemuan

2000 – Pembunuhan Ratu

2005 – Pembauran (tuntas?)

2009 – Kasus T. Kecelakaan mobil, operasi amputasi sayap darurat. Operasi gagal.

2010 – 2013 ???

2014  - Pengenalan Pembuangan sayap Peri sebagai prosedur kosmetik

Kinyang

"Bagaimana kabar Mamamu?" tanya  Kinyang.

"Sedikit khawatir," jawab Wulan.

Mama Wulan, Nawang, adalah atasan Kinyang di divisi pemasaran sebelum Nawang ditugaskan di kantor Hong Kong. Saat berpamitan, ibunya menyebutkan salah satu koleganya memutuskan untuk melepas sayapnya. Itu terjadi lima bulan yang lalu, dan Wulan tidak pernah lupa.

"Dia pikir aku akan marah karena dia memberitahumu tentang operasi pemotongan sayapku?"  Kinyang menyeringai.

"Apakah Anda marah?"

 Kinyang mengangkat bahu. "Semua orang juga tahu."

"Saya ingat pernah bertemu dengan Anda," kata Wulan. "Waktu Anda masih memilikinya."

"Apakah aku lebih cantik saat itu?"

Wulan tertawa karena dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi pertanyaan itu.

"Kamu terlihat terlalu masih terlalu muda untuk bekerja," ujar Kinyang mengalihkan topik pembicaraan.

"Tidak terlalu muda, delapan belas tahun – kira-kira dua ratus lima belas bulan. Ini hanya kerja sambilan."

"Mengapa topik ini?"

"Saya tertarik." Wulan mengeluarkan kameranya dan perekam digitalnya.

"Tertarik," kata  Kinyang, dengan nada yang membuat Wulan tersipu malu.

Kinyang meletakkan rokoknya di asbak.

"Kamu mau memotret?"

 Kinyang meraih rokoknya dan menurunkan retsleting gaunnya sebelum Wulan menjawab. Dia memunggungi kursinya dan menurunkan salah satu lengan gaunnya. Wulan mengangkat kameranya dan menekan tombol. Bekas luka bedah mirip tanda kurung terbuka di depan tulang belikat kanan, ada dua lebar memanjang terlihat samar. Pelayan yang hendak mengisi gelas dengan air putih mendadak berbalik pergi

"Nyaris tanpa bekas," kata Wulan dan membantu menutup retsleting.

 Kinyang kembali menyedot rokoknya

"Dokter memberiku krim penghilang parut. Agak mahal, tapi bekas luka itu mengecil dengan cepat. Waktu sangat singkat. Lucu...” Kinyang terkekeh geli.

“Waktu mendengar berita bahwa beberapa ahli bedah kosmetik mulai menjadi spesialis membuang sayap, aku merasa jijik. Seakan sayap adalah tahi lalat atau kutil. Kemampuan sihir kami telah lenyap bersama kematian Azura, dan sekarang mereka menawarkan untuk membuang apa yang menjadi jati diri kami. Aku berjanji pada diri sendiri bahwa tidak akan pernah menjalani prosedur itu, pemotongan sayap, maksudku. Kecuali kalau aku di ambang kematian, seperti peri malang yang tewas dalam... oh – mungkin takkan pernah."

"Apa yang membuat Anda berubah pikiran?"