Now Loading

BAB 3

"Ada apa, sih? Lu menyuruh gue buru-buru pulang kaya’ lagi sekarat aja. Mana gue lagi meeting dengan klien!"

"Tutup pintunya," ujar Hiro sambil menarik  Kinyang masuk ke apartemen.

"Lu abis bunuh orang?"  tanya Kinyang, dan mendadak ia terdiam saat melihat sosok yang tergeletak di sofa.

"Kejam!" kata Hiro.

"Sungguh berbahaya,  seumur hidupku belum pernah—takkan pernah—“ Hiro terlalu marah untuk menyelesaikan kalimatnya.

"Gue kenal cewek ini," ucap Kinyang. Dia melangkah menuju sofa.  "Wulan?"

"Lihat punggungnya."

"Dari mana lu mendapatkan dia?"

"Periksa punggungnya!"

Karena tidak bisa memindahkan Wulan dari posisinya di sofa, maka Hiro telah menutupinya dengan selimut.  Kinyang membuka ujungnya.

"Wulan? Wulan, apa yang terjadi dengan—“

 Kinyang tersentak kaget, mundur tiga langkah, dan jatuh terhenyak di kursi.

"Damn!" rutuknya.

"Kamu harus menelepon Wu Ben,  Kinyang."

 Kinyang tidak menjawab. Dia mengorek-ngorek tas tangannya mencari sesuatu.

" Sialan—"

Dia menumpahkan isi tasnya. Lipstik, pensil alis dan maskara jatuh berguling. Uang logam bergemerincing mengelinding di lantai.

Dia meraih bungkus rokok, mengeluarkan sebatang dan menyelipkan di atara bibirnya yang gemetar. Jempolnya menekan roda pemantik beberapa kali tapi namun gagal menyalakan  api.

"Inanna! Abughi oge na-egwu!"

Hiro yang panik berseru dalam bahasa peri dan memanggil  Kinyang dengan nama aslinya.

"Sial!" desis Kinyang setengah berteriak, dan melemparkan koreknya. Dia menghilang ke dapur muncul lagi setelah beberapa detik. Rokoknya telah menyala. Kinyang menyedotnya kuat-kuat, menelan asap sebanyak-banyaknya.

" Abughi oge—" Hiro akhirnya sadar dan kembali berbahasa Indonesia.

"Kita harus menghubungi dokter segera!"

"Siapa yang melakukan ini?" tanya Kinyang.

"Siapa yang melakukan ini, Hiro? Apakah ini yang terjadi sekarang? Membiarkan peri memotong sayapnya agar bisa berbaur, lalu memberikan sayap itu pada manusia?"

"Beri aku nomor Wu Ben," kata Hiro.

"Gue kehabisan kata-kata," kata  Kinyang sambil mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.

"Kelewatan!"

Sementara Hiro memutar nomor yang tertera pada kartu nama, Kinyang duduk di atas meja menyentuh dahi Wulan. Terasa panas saat disentuh.

"Mengapa kamu melakukan ini, gadis bodoh? Kamu... kamu akan membuat ibumu terserang stroke."

"Apakah kamu jijik melihatku?" rintih Wulan.

 Kinyang menyedot rokoknya kuat-kuat dan mengeluarkan asap lewat hidung. Dia memejamkan matanya dan mendesah.

"Tidak, Sayang. Siapa pun yang melakukan ini padamu, siapa pun yang memberi kamu pilihan ini, dialah yang menjijikkan. Tapi kenapa, Wulan? Kenapa kamu—"

"Aku melakukannya untuk dia," kata Wulan sambil mengucurkan air mataa.

"Oh, sialan...," desis Kinyang.

"Aku hanya ingin bersamanya. Dia bilang kami tak mungkin bersama karena aku tak sama dengannya. Dia bilang hubungan kamu akan gagal."

"Dan menurutmu sepasang sayap adalah jawabannya?"

"Dia terbang meninggalkanku," kata Wulan. "Pedih rasanya, tak bisa mengikuti kemana dia pergi."

"Wu Ben sedang menuju kemari!" Hiro berseru dari kamar  Kinyang.

"Aku mengepak beberapa pakaian lamamu, jadi Wulan bisa bersalin nanti di rumah sakit."

"Aku mengerti maksudmu," ujar Kinyang kepada Wulan. Ia menggenggam tangan gadis itu.

"Kamu gila, tapi aku mengerti maksudmu."

"Seharusnya ini jadi kejutan," ucap Wulan sambil terisak-isak. "Tapi ada yang tidak beres. Aku baik-baik saja saat meninggalkan klinik. Waktu mau masuk ke kereta, sayapku tak mau dilipat. Padahal petugas di klinik sudah menawarkan untuk mengantar dengan mobil. Seharusnya aku menerima tawarannya."

"Kamu akan baik-baik saja, Wulan."

"Ini seharusnya menjadi surprise untuknya," seru Wulan.

"Siapa namanya?" tanya Kinyang.

"Peri tidak pernah memeberitahu nama asli mereka."

"Aku rasa begitu. Nama apa yang dia berikan padamu?"

"Dia menyuruhku memanggilnya Zenatar," jawab Wulan. "Dia memiliki sayap perak dan pupil matanya berwarna keemasan."

 Kinyang tertegun.

"Hiro?" panggilnya,  tapi Hiro masih sibuk berkemas.

"Zenatar," ulang Wulan. Gadis itu menatapnya sayu. "Zenatar, aku memanggilnya Zen."

 Kinyang menepuk-nepuk punggung tangan Wulan.

"Pria itu pasti sangat menyukaimu," katanya. "Karena dia memberikan nama aslinya padamu."