Now Loading

Ternyata dugaanku salah

Tak habis pikir, kenapa Pak Rangga selalu menjegal proposal yang aku buat. Entah ini sudah yang keberapa kali, dia selalu tidak puas dengan kerja keras yang aku lakukan, telah berminggu-minggu kupelajari semuanya juga tentang riset pasar untuk menguatkan pengajuan proyek yang sedang aku tangani, tapi dipatahkan begitu saja dengan argumen- argumenya yang menyudutkan dan membuat dadaku sesak. 

Aghh ... ada apa sebenarnya dengan manager ganteng bermata es itu, aku tahu sesekali ia mencuri tatap, pernah beberapa kali tanpa sengaja berserobok pandang, ada sesuatu yang tak kupahami serasa menusuk tajam tepat di jantung. Begitu dingin, seperti ingin menenggelamkanku di kedalaman matanya yang telaga. Indah tapi membekukan, membuat aku yang ditatap tak berkutik. 

Duh, kenapa pikiranku ngelantur ke situ, bukankah dia yng tadi siang membuatku kesal setengah mati dan membuatku harus mengulang segala pekerjaan yang telah  kukerjakan dan menyita begitu banyak waktu juga tenaga.  Kini berasa sia-sia, tidak ada penghargaanya sama sekali. Asal dia tahu, beberapa bulan ini aku bahkan tidak mempunyai waktu  untuk diri sendiri. Meski hanya untuk sekedar jalan atau cuci mata dan melakukan sedikit perawatan. 

Masih saja tergiang di telingaku, ucapannya yang pedasnya seperti sambel geprek level sepuluh. Bikin gerah dan membuat kepalaku ngebul. 

''Bisa tidak kamu berpikir secara dinamis dan mencari terobosan baru yang lebih efisien dan logis di era milenial sekarang ini. Bukan proposal sampah dan murahan seperti ini. Berpikirlah sesuai jaman dan buang jauh-jauh pikiran kuno semacam itu!'' masih terekam jelas cecaran argumentasi Pak Rangga dan masih banyak lagi yang membuat kupingku panas pagi tadi dan otomatis semua itu membantai semangat yang aku bangun bertahun-tahun ini. Kini moodku pun berantakan. Kuseka bening yang mengalir. Takkan kubiarkan diri ini menangis, takkan kubiarkan orang lain meremehkanku meskipun dia adalah atasanku.

"Terus maju, Keil!" 

Hanya ada Dion yang selalu membelaku, di mana pun saat aku sedang dipojokkan dan senyum manisnya mampu sedikit menenangkan gundahku.

Yaah, hanya Dion yang selalu bersedia membantuku.

Sudahlah. Sekarang yang aku butuhkan adalah mandi, menyiram tubuh ini dengan air sebanyak-banyaknya mungkin bisa sedikit mendinginkan syaraf tegang di otakku. Seharian ini terlalu membuatnya berfikir keras.  Pada akhirnya hatiku terbakar emosi juga karena kepongahan manusia es satu itu.

Kuhempaskan tas ransel diatas ranjang, meraih handuk dan beranjak ke kamar mandi. 
Terasa Begitu segar saat air dingin meresap kedalam pori-pori di sekujur tubuh, sekejap melupakan hari-hari yang begitu melelahkan. Sengaja ingin kuberlama-lama, berendam membasuh tubuh lelahku, hingga konsentrasi terganggu oleh suara bel dari pintu depan.  Secepatnya kuambil handuk yang tergantung di daun pintu untuk sekedar mengeringkan tubuh basah ini dan secepatnya kukenakan daster sebelum beranjak ke ruang tamu melihat siapa yang datang. 

''Ohh, kamu, Di. Ada apa? Tumben gak bilang dulu mau mampir. Kemaren aku cariin kemana?"

Pertanyaaku terlontar setelah melihat wajah Dion menyembul dari balik pintu yang  perlahan terbuka. Setelahnya kupersilahkan dia masuk. Sementara aku beranjak kekamar untuk mengganti pakaian yang lebih sopan.

''Kamu duduk bentar ya, aku ganti baju dulu,'' tukasku disambut anggukan Dion.

Kuraih pakaian dalam dan kukenakan secepatnya ketika tiba-tiba pintu berderit, betapa kagetnya setelah kudapati wajah Dion yang menyeringai seperti ingin menelan tubuhku mentah-mentah. 
Betapa bodohnya aku kenapa tadi bisa lupa mengunci pintu. 

Dengan nada marah sekaligus ketakutan aku pun berteriak.

''Ngapain kamu disini? Keluar!!

''Keluar !! Jeritku Sekali lagi.

Dion tak bergeming. Seakan tak mendengar dan perduli dengan perintahku, hanya seringai menjijikkan yang terlihat dari wajah manisnya, membuatku semakin gugup melihat tingkahnya yang sudah keterlaluan.