Now Loading

Hari yang menyebalkan

Sudah hampir tiga tahun aku kerja di perusahaan retail

Sudah hampir tiga tahun aku kerja di perusahaan retail ternama sebagai desain grafis dan selama ini pula pekerjaanku baik-baik saja tidak banyak protes dari klien maupun atasan. Bu Ema managerku yang lama juga cukup puas, tidak pernah meragukan kinerjaku. Terbukti dengan banyaknya proyek yang telah dipercayakan padaku karena bagaimanapun sulitnya aku selalu berusaha menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu.

Namun semua berubah sejak tiga bulan lalu, Bu Ema dipindah tugaskan ke kantor pusat sementara posisinya digantikan oleh GM yang baru siapa lagi kalau bukan Pak Rangga. Oke, awalnya tidak ada masalah, dia keren, tegas, tapi ada yang tidak aku sukai. Siikapnya terlampau dingin dan terkesan angkuh juga cara dia merendahkan kemampuan karyawan yang bekerja untuknya. Saat debat pun dia tidak peduli atas lawan bicaranya biarpun itu seorang perempuan.

Seringkali aku sendiri dibikin kesal karena harus merevisi dan merevisi lagi. Sementara tugas yang seharusnya sudah beres menjadi bertumpuk mengantri untuk dikerjakan ulang.  Benar-benar menyebalkan. Sepertinya aku perlu secangkir kopi untuk menghilangkan pening kepalaku yang mulai menggangu. Aku beranjak bergegas menuju pantri, dan baru saja mau memegang handel pintu terdengar suara memanggil dari belakang. Ahh ... Rupanya dia lagi, melihatnya membuat kepala ini semakin pening. Ada apa lagi sih, dengan nada datar aku menjawab.

"Ada apa, Pak? Ada yang perlu saya kerjakan?" 

" Kamu mau ke pantri, kan?-

"Iya, kenapa?

"Sekalian bikinin aku kopi hitam tanpa gula!"

"Tapi ...,"

Belum selesai aku menjawab dia sudah berlalu dan menutup pintu ruangannya.
Bos macam apa dia, memangnya aku sekretarisnya atau penampilanku seperti office girl. Heran, tidak ada basa-basinya sama sekali. Tanpa minta tolong lagi, ih bikin hati tambah dongkol aja. Bukan perhitungan tapi caranya dia nyuruh yang bikin aku tidak suka. 

Dengan setengah hati aku buatkan kopi hitam pesanannya yang tanpa gula, sedang aku lebih memilih vanilla late, apa dia nggak takut kalau nanti tak kasih kopi sianida. Duh, kenapa otak jadi gak jelas gini ya. 

Bergegas aku keruanganya dan meletakkan secangkir kopi pesanannya ke atas meja kerjanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sedetik kemudian berbalik  ke arah pintu keluar selanjutnya dengan cepat berlalu dari ruang manager. Sebelum sampai pintu  terdengar ucapan terima kasih dari belakang. Tanpa menoleh aku mengangguk dan segera pergi. 

Sesruput vanilla late membuat pikiranku sedikit rileks, sedangkan mata tetap fokus ke arah layar komputer di depanku. Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku dari belakang, terlihat sebaris gigi putih menyeruak dari bibir tipis Dion. 

"Pulang bareng ya, sekalian makan. Aku yang traktir."

"Widih, ada acara apa nih pakai traktir segala. Ulang tahun ya? Eh, kan masih lama."

"Bukanlah, pengen makan bareng aja. Biar kamu sedikit rileks."

"Tau aja nih, otak lagi kacau. Bingung kerjaan numpuk gini, tak tahu dari mana dulu yang harus aku kerjakan,  deadline minggu depan lagi, huh!"

"Santai, Non! Aku tunggu di parkiran nanti."

"Oke, ntar aku samperin."

Dion melemparkan senyum manisnya sebelum beranjak dari meja kerjaku, dia tau aja cara bikin hati ini tenang. Buru-buru kutenggak habis sisa vanila late dan kembali tenggelam dalam tumpukan pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Sepulang kerja kami pun singgah di sebuah rumah makan Padang dan menikmati setiap makanan yang kita pesan.  Kita begitu lahap, seperti orang yang kelaparan karena seminggu tidak pernah makan. Pasti bikin geli yang lihat, cakep-cakep pada doyan makan.

Aku kenal Dion dua tahun lalu, dia adalah junior di kantor tapi beda bagian namun banyak kerja sama antar departemen membuat kita sering ketemu dan akrab. Dia juga banyak membantu saat aku harus kerja di lapangan, mengantar kesana-kemari sepulang jam kantor. Beruntung saya menemukan teman sebaik dia, sedangkan di Jakarta ini aku hanya tinggal sendirian tak ada keluarga satu pun yang tinggal di sini. Jadi Dion sudah aku anggap seperti saudara sendiri.

Seminggu ini aku tidak ketemu dengannya, setelah makan malam minggu lalu terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang benar-benar menyita waktu dan pikiran, banyak deadline yang harus aku selesaikan beberapa hari ini dan harus membuat proposal untuk proyek terbaru yang sedang aku tangani. Tak terbayang meeting hari Senin depan dan presentasi yang harus aku lakukan, terlintas pandangan dingin pak Rangga yang belum-belum membuat nyaliku ciut.

"Lihat saja, apapun itu harus tetap dihadapi. Lakukan saja yang terbaik, Keil!" Gumamku. Sekedar memberi semangat pada diriku sendiri. Keil yakin bisa melalui hari-hari yang menyebalkan ini.

ternama sebagai desain grafis dan selama ini pula pekerjaanku baik-baik saja tidak banyak protes dari klien maupun atasan. Bu Ema managerku yang lama juga cukup puas, tidak pernah meragukan kinerjaku. Terbukti dengan banyaknya proyek yang telah dipercayakan padaku karena bagaimanapun sulitnya aku selalu berusaha menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu.

Namun semua berubah sejak tiga bulan lalu, Bu Ema dipindah tugaskan ke kantor pusat sementara posisinya digantikan oleh GM yang baru siapa lagi kalau bukan Pak Rangga. Oke, awalnya tidak ada masalah, dia keren, tegas, tapi ada yang tidak aku sukai. Siikapnya terlampau dingin dan terkesan angkuh juga cara dia merendahkan kemampuan karyawan yang bekerja untuknya. Saat debat pun dia tidak peduli atas lawan bicaranya biarpun itu seorang perempuan.

Seringkali aku sendiri dibikin kesal karena harus merevisi dan merevisi lagi. Sementara tugas yang seharusnya sudah beres menjadi bertumpuk mengantri untuk dikerjakan ulang.  Benar-benar menyebalkan. Sepertinya aku perlu secangkir kopi untuk menghilangkan pening kepalaku yang mulai menggangu. Aku beranjak bergegas menuju pantri, dan baru saja mau memegang handel pintu terdengar suara memanggil dari belakang. Ahh ... Rupanya dia lagi, melihatnya membuat kepala ini semakin pening. Ada apa lagi sih, dengan nada datar aku menjawab.

"Ada apa, Pak? Ada yang perlu saya kerjakan?" 

" Kamu mau ke pantri, kan?-

"Iya, kenapa?

"Sekalian bikinin aku kopi hitam tanpa gula!"

"Tapi ...,"

Belum selesai aku menjawab dia sudah berlalu dan menutup pintu ruangannya.
Bos macam apa dia, memangnya aku sekretarisnya atau penampilanku seperti office girl. Heran, tidak ada basa-basinya sama sekali. Tanpa minta tolong lagi, ih bikin hati tambah dongkol aja. Bukan perhitungan tapi caranya dia nyuruh yang bikin aku tidak suka. 

Dengan setengah hati aku buatkan kopi hitam pesanannya yang tanpa gula, sedang aku lebih memilih vanilla late, apa dia nggak takut kalau nanti tak kasih kopi sianida. Duh, kenapa otak jadi gak jelas gini ya. 

Bergegas aku keruanganya dan meletakkan secangkir kopi pesanannya ke atas meja kerjanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sedetik kemudian berbalik  ke arah pintu keluar selanjutnya dengan cepat berlalu dari ruang manager. Sebelum sampai pintu  terdengar ucapan terima kasih dari belakang. Tanpa menoleh aku mengangguk dan segera pergi. 

Sesruput vanilla late membuat pikiranku sedikit rileks, sedangkan mata tetap fokus ke arah layar komputer di depanku. Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku dari belakang, terlihat sebaris gigi putih menyeruak dari bibir tipis Dion. 

"Pulang bareng ya, sekalian makan. Aku yang traktir."

"Widih, ada acara apa nih pakai traktir segala. Ulang tahun ya? Eh, kan masih lama."

"Bukanlah, pengen makan bareng aja. Biar kamu sedikit rileks."

"Tau aja nih, otak lagi kacau. Bingung kerjaan numpuk gini, tak tahu dari mana dulu yang harus aku kerjakan,  deadline minggu depan lagi, huh!"

"Santai, Non! Aku tunggu di parkiran nanti."

"Oke, ntar aku samperin."

Dion melemparkan senyum manisnya sebelum beranjak dari meja kerjaku, dia tau aja cara bikin hati ini tenang. Buru-buru kutenggak habis sisa vanila late dan kembali tenggelam dalam tumpukan pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Sepulang kerja kami pun singgah di sebuah rumah makan Padang dan menikmati setiap makanan yang kita pesan.  Kita begitu lahap, seperti orang yang kelaparan karena seminggu tidak pernah makan. Pasti bikin geli yang lihat, cakep-cakep pada doyan makan.

Aku kenal Dion dua tahun lalu, dia adalah junior di kantor tapi beda bagian namun banyak kerja sama antar departemen membuat kita sering ketemu dan akrab. Dia juga banyak membantu saat aku harus kerja di lapangan, mengantar kesana-kemari sepulang jam kantor. Beruntung saya menemukan teman sebaik dia, sedangkan di Jakarta ini aku hanya tinggal sendirian tak ada keluarga satu pun yang tinggal di sini. Jadi Dion sudah aku anggap seperti saudara sendiri.

Seminggu ini aku tidak ketemu dengannya, setelah makan malam minggu lalu terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang benar-benar menyita waktu dan pikiran, banyak deadline yang harus aku selesaikan beberapa hari ini dan harus membuat proposal untuk proyek terbaru yang sedang aku tangani. Tak terbayang meeting hari Senin depan dan presentasi yang harus aku lakukan, terlintas pandangan dingin pak Rangga yang belum-belum membuat nyaliku ciut.

"Lihat saja, apapun itu harus tetap dihadapi. Lakukan saja yang terbaik, Keil!" Gumamku. Sekedar memberi semangat pada diriku sendiri. Keil yakin bisa melalui hari-hari yang menyebalkan ini.