Now Loading

BAB 2

"Kamu seharusnya tidak mempercayai begitu saja orang asing yang baru saja kamu jumpai. Tapi aku senang kamu percaya padaku. Kalau aku terlambat satu menit saja—“

Hiro menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dia lalu membantu Wulan duduk di sofa. Wulan telah berhenti menangis, tapi wajahnya masih menunjukkan bahwa ia sangat terpukul. Dia duduk di tepi sofa, menjaga sayapnya agar tak terhimpit, seakan benda itu kaca tipis yang akan pecah berantakan bila mengenai benda keras.

 "Tenang saja," kata Hiro sambil memberinya segelas air yang hampir terlepas dari tangan Wulan. Hiro mengeluarkan tatakan dan meletakkan gelas di atas meja.

"Kalau punggungmu kaku, sayapmu mungkin ikut kejang. Santai saja dan mereka akan melipat dengan sendirinya."

Wulan hanya menatapnya. Wajahnya pucat pasi.

"Mungkin itu lumpuh sayap," kata Hiro. Dia bisa merasakan kepanikan Wulan naik bagai air pasang, dan memikirkan kata-kata untuk menenangkannya. "Bukankah begitu? Bisa saja terjadi saat hujan."

Komentar itu membuat Wulan bereaksi.

"Kamu peri?"

"Ah," Hiro menghela napas dan duduk di atas meja supaya bisa berhadapan dengan Wulan.

"Tergantung bagaimana kamu mendefinisikannya."

Wulan mengerutkan kening, tak mengerti.

"Aku tak punya sayap lagi," katanya. "Amputasi."

"Kamu terluka?" tanya Wulan.

"Tidak, tidak, bukan begitu." Jawab Hiro tersenyum, sehingga nada suaranya melantun tinggi rendah. Hal yang tidak dibutuhkan gadis ini saat ini adalah orang tolol.

"Aku melakukannya untuk seorang teman."

Hiro pernah menyaksikan sebuah gedung runtuh akibat gempa bumi. Seperti itulah yang dirasakan Hiro saat melihat Wulan menangis di peron stasiun: bergetar, jatuh dan ambruk, menangis  memeras air mata, terisak bagai anak kehilangan induk. Saat itu dia ingin memeluk Wulan, namun dia hanya mampu melihat dengan pedih. Dia bertanya-tanya, apa yang salah? Apakah dia kesakitan? Namun ia merasa bagaikan Wulan menangis untuknya.

Sesaat kemudian Wulan menjatuhkan diri ke sofa.

"Oh, tidak," seru Hiro dan segera berlutut.

Dia mengintip wajah Wulan.

"Ada apa?"

Wulan mencoba mengatakan sesuatu, namun isaknya terlalu kencang sehingga suara yang keluar tak lagi berbentuk kata-kata.

"Biarkan aku melepaskan ini darimu," kata Hiro. Dia berdiri dan membungkuk untuk melepaskan jaket dari punggung Wulan. Punggung jaket itu kaku disebabkan darah kering yang mengeras.

"Apa yang—"

Begitu juga bagian belakang gaunnya. Gaun putih itu menyerap begitu banyak darah sehingga terlihat nyaris hitam.

"Apa...”desis Hiro bingung. Tangannya gemetar. Ia mencoba melepaskan kain yang menempel dari kulit Wulan. Terdengar suara jerit melengking.

Kulit di sekitar akar sayap melepuh, bengkak dan bernanah. Darah berasal dari tempat sayap ditanamkan pada tubuhnya.

"Azura, tolong aku," bisik Hiro saat ia berlari mengelilingi apartemen mencari gawainya.