Now Loading

Pertarungan

Part 5
Tiba-tiba sebuah pukulan  balok kayu melayang ke arahnya, beruntung Jovan sempat menghindar, tubuhnya terjerembab ke belakang, di hadapannya berdiri seorang laki-laki dengan separuh wajah tertutup masker. Namun, Jovan masih bisa mengenali laki-laki dihadapannya adalah Aaron.

"Mampus, Kau ...!" umpat Aaron sambil kembali mengayunkan balok, Jovan menyadari bahaya yang mengancam, ia bangkit berdiri dengan sikap waspada, tubuh Aaron jauh lebih besar, otomatis tenaganya lebih kuat, tak mungkin melawan dengan tenaga, Jovan memutar otak ... bagaimana agar bisa keluar dari tempat itu. 

"Rasakan akibat mau tahu urusan orang."  Aaron terus menyerang, tapi Jovan bisa mengelak, meski posisinya tersudut.  

"Apa yang kau cari, hah?" geram Aaron.

"Rupanya kamu yang membunuh istriku."  Jovan menyudutkan 

"Ha ... ha ... kau pikir kau bisa jadi pahlawan dengan enikahi kekasihku ...?"

"May tak menginginkanmu lagi, setelah apa yang kamu lakukan terhadap anak dalam kandungannya."

"Itu anakku, jadi terserah aku mau ku apakan."

"Dasar, laki-laki gila ... kau pikir perempuan bisa kau perlakukan seenakmu sendiri, hah!  Kau pikir perempuan cuma barang mainan, yang bisa kau permainkan semaumu."

"hahhh, persetan omong kosongmu! Aku tidak suka ada orang yang menganggu kesenanganku." Aaron melotot dengan muka merah, rahangnya mengeras menahan amarah, tangannya mencengkeram kuat pada balok yang siap diayunkan ke arah lawannya.

"Hahhh ...!" Laki-laki berwajah dingin itu mengayunkan balok ditangannya, Jovan berhasil berkelit hingga pukulannya mengenai mayat yang tergantung, sialnya sosok yang tinggal kerangka itu jatuh menimpa Aaron. Laki-laki itu berteriak histeris ketika muka tertutup benda mengerikan berbau busuk.

"Ahhh ...," erangnya marah, dengan sekali libas, kerangka itu jatuh di samping Jovan, laki-laki itu tersentak, matanya melotot tajam.

"Mampuslah Kau ke neraka nyusul istrimu ...." Aaron berteriak kalap karena pukulannya tak ada yang mengena, dia terus mengayunkan baloknya serampangan. Jovan terus bergeeak lincah, tubuhnya yang kurus membuatnya lincah melompati mayat-mayat yang berserakan. Aaron makin geram, dengan  membabi bura melibas ke kiri dan ke kanan. Naas, satu pukulan Aaron berhasil membuat Jovan tersungkur, darah segar mengalir dari keningnya. 

Jovan mencoba untuk bangkit, tapi belum sepenuhnya berdiri,  lagi-lagi sebuah pukulan dilayangkan, kali ini Jovan berhasil menangkis dengan tangan kanannya, dan melempar baloknya jauh.   Aaron mengeram, giginya bergemerutuk menahan marah, nafasnya memburu. Tak puas pukulan baloknya berhasil ditangkis, Aaron  yang tak lagi memegang balok, mendesak maju dan mengayunkan bogem dengan tangan kosong, tapi sekali lagi, Jovan berhasil mengelak. 

Merasa pukulannya kembali gagal, laki-laki itu berang, ia kembali menyerang dengan ngawur, Jovan yang bertubuh kurus, tapi  menguasai bela diri dengan sigap mematahkan pukulan demi pukulan, membuat Aaron  makin beringas. 

Keduanya terlibat dengan baku hamtam, saling menyerang, saling memukul, meski tubuh Aaron lebih besar,  tapi Jovan lebih gesit, badannya yang lebih kecil  lincah berkelit ke kiri dan ke kanan.

Jovan akhirnya berhasil menangkap tangan Aaron, memelintir ke belakang. Lalu mendorong tubuh Aaron menuju ke dinding, menjepit kedua kaki Aaron dengan jepitan kaki yang mengunci hingga Aaron tak bisa berkutik. Laki-laki itu mengumpat dan nyereces  dengan kata-kata kasar.

"Dasar bajingan! Kau harus mampus untuk nyawa May," hardik Jovan sambil terus menekan tubuh Aaron ke dinding.

"Manusia tak punya hati," 

Sebuah bogem mendarat di kepala Aaron, disusul pukulan berikutnya.  Tendangan berkali-kali mendarat di badannya. Aaron mulai lemas, tubuhnya melunglai, tapi Jovan masih terus menghajar melampiaskan sakit hatinya. 

Melihat lawannya mulai lemas, Jovan mengendorkan tubuh Aaron, meski dendamnya memuncak, tapi Jovan tak mau Aaron mati di tangannya. Dia masih butuh Aaron untuk mengungkap pembunuhan yang dilakukan, dan  Aaron harus bertanggung jawab, terlalu enak jika mati begitu saja, 

Merasa jepitan Jovan merenggang, tiba-tiba Aaron meloloskan diri, dengan sekali tensang, bagian dinding yang sudah dibuka Jocan sebagian itu haancur berantakan, bergegas  melesat lari dengan sisa tenaganya.  Jovan mengumpat sesaat sadar lawannya melarikan diri, dia berusaha mengejar, tapi Aaron yang menguasai daerah lebih cepat menghilang hingga Jovan kehilangan buruannya. 

Jovan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru mata angin, mencari kemungkinan Aaron bersembunyi di salah satu sudut, tiba-tiba Aaron muncul entah dari mana, tangannya menenteng jerigen berisi bensin, Jovan terpana sekejab, terlambat menyadari, Aaron sudah menyiramkan isi jerigen ke sekeliling gudang, dalam satu percikan api dari korek, si jago merah langsung menyambar dengan asap hitam membumbung. 

Sadar apa yang terjadi, Jovan berteriak histeris memanggil nama May. Namun, tak bisa menyelamatkan apapun, dia bersimpuh dengan tubuh bergetar,  tangisnya menyayat kalap. 

Tiba-tiba Aaron sudah berdiri di hadapannya, tertawa penuh kemenangan, bibirnya menyeringai jahat, dengan kasar tangannya mencengkeram lengan Jovan yang masih belum tersadar apa yang terjadi.  Laki-laki bertubuh kekar itu menyeret dan melempar tubuh Jovan ke arah api yang masih berkobar.

"Mampus, kau!  Sana pergi ke neraka sama istrimu!" ujarnya, tertawa penuh kemenangan  sambil berlalu, turun menuju rumah dan tak lama keluar dari garasi mengendarai sebuah jeep terbuka warna biru metalic.

Jovan berusaha berdiri, api telah memyambar sebagian lengan bajunya, terasa panas dan perih. Namun, laki-laki itu tak peduli, ia terus bergerak membebaskan diri dari kobaran api, dengan langkah terhuyung menuju tempat ia menyembunyikan motornya. Nafasnya masih memburu, jantunnya masih belum normal dan lututnya juga masih gemetar, tapi ia tak mau menyiakan waktu, sekali entak motorpun menyala, dengan  kekuatan super Jovan mengejar Aaron.

Sadar ada yang membuntuti, Aaron menambah laju mobilnya, menginjak gas sekuatnya, mobil yang berukuran besar seringkali nampak kesulitan  melewati jalanan menanjak di antara perbukitan yang curam, dan berkelok-kelok. Beberapa kali laki-laki berkulit kuning itu harus menhinjak rem kuat-kuat agar mobilnya tidak tergelincir ke jurang. 

Sementara Jovan tak kalah tangguh, meski tebing terjal menghalangi pandangan, hingga beberapa kali  harus kehilangan mobil yang dikejarnya. tapi ia tak mau menyerah.   Kerjar mengejar pun terjadi. Jovan dengan motor balapnya sangat lincah dan terlatih melewati kelokan curam dan terjal. 

Kejar mengejar makin menegangkan, Aaron mulai kehilangan fokus, perbukitan yang makin menanjak menyulitkan laju mobilnya. Saat ditanjakan, tiba-tiba ia merasa  sesuatu menghambat laju mobilnya.  Aaron mulai kehilangan kontrol, kesal dan gugup, sesekali menoleh ke belakang ... Jovan masih terus melaju dengan motor balapnya, lincah memainkan kendali diantara tebing yang berkelok-kelok. 

Udara gunung yang dingin terasa lebih dingin dari biasa, dingin yang aneh menusuk tengkuknya, disertai wangi kamboja dan bau anyir membuat perutnya mual. Laki-laki itu mulai kalap, berkali-kali mengumpat, menginjak dalam-dalam pedal gas, tapi mobilnya justru makin melambat, seperti ada yang menahan lajunya. 

"Hahhh ...." Aaron memukulkan tangan pada  kemudi, mulai frustasi, bau amis darah makin merasuk. Sekelebat, seperti ada sesuatu melintas di depan mobil,   dan entah dari mana datangnya kekuatan yang membelokkan kemudi yang dipegangnya menuju jurang. Laki-laki itu berusaha menahan sekuat tenaga, tapi justru makin lemah tenaganya tepat di tikungan, ia rak lagi bisa menahan kemudi,  mobilnya selip menabrak beton pembatas hingga masuk ke jurang. Terdengar ledakan keras disertai api yang berkobar. Jovan yang berada tak jauh segera  menepikan motornya, ia cuma bisa mematung, pikirannya absurd, tak tahu apakah senang atau sedih menyaksikan Aaron yang meregang nyawa di antara kobaran api di dasar jurang.

*