Now Loading

Misteri Gudang


Hening kembali menampakan diri, rimbun pepohonan dan desau angin makin membuat suasana mencekam. Bangunan rumah yang terlindungi oleh tanaman hidup menjulang membuat suasana sepi, seolah tak pernah ada kejadian apapun. Bahkan mungkin tak pernah ada yang mengira di tempat itu ada nyawa yang baru saja terbantai

Jovan masih merapatkan tubuhnya pada tanah yang menjorok ke depan, membuatnya terlindung dari atas. Setelah dirasa benar-benar aman, laki-laki bertubuh kurus itu melongok ke arah rumah yang dimasuki laki-laki tampan berdarah dingin, sepi .... Jovan berdiri,  perlahan mengendap-endap, setengah membungkuk ia berjalan menuju lereng sebuah bukit kecil tempat bangunan tua itu berada, jantungnya terus berdegub kencang, antara penasaran dan takut ketahuan, sebab ia tahu pasti, nyawanya akan melayang jika ketahuan, karena Aaron  tak mau orang lain tahu rahasianya.

Setelah beberapa langkah, laki-laki kurus itu kembali  meringkuk di antara semak-semak, memastikan suasana benar-benar aman. Bangunan tua itu betfiri kokoh sekitar lima meter di hadapannya. Pintu bangunan itu terkunci, terlalu besar resiko untuk mencongkel, pasti butuh waktu lama dan menimbulkan suara berisik. Sambil terus merunduk, Jovan mengitari bangunan, mencari kemungkinan celah untuk melihat ke dalam. 

Tiba-tiba matanya tertuju pada celah di bagian bawah bangunan yang terbuat dari kayu. Salah satu bilah kayunya lepas karena keropos, Jovan bersorak dalam hati ... sedikit tergesa  ia bergerak maju, setelah mengucap doa dalam hati,  tangannya mengorek bagian kayu yang terlepas dengan hati-hati, berharap ada bagian lain yang ikut terlepas agar lebih lebar pandangan ke dalam. Usahanya berhasil, dua bilah kayu terlepas dalam sekali entak, setengah tiarap ia berusaha melongok ke dalam.  Secercah cahaya menerobos masuk membantu  pandangan ke dalam lebih terang, bau busuk  menguar kuat mengaduk-aduk isi perut. 

Bau anyir bercampur busuk yang sangat kuat  menusuk, membuat Jovan mundur beberapa langkah untuk  menghirup udara segar agar kepalanya tak pening, lalu menutup hidung dengan saputangan yang diambil dari kantong celana. 

Sambil menahan napas ia kembali melongok  ke dalam, matanya mengerjap berulang, dalam ruangan gelap, cahaya sangat minim membuatnya harus menajamkan mata. Setelah matanya terbiasa, samar-samar pandangannya menangkap dua sosok yang terbujur saling bertindihan. Jantungnya berdegup kencang seketika, seperti mengenali sosok itu. 

Jovan kembali mundur untuk menghirup udara segar, setelah dirasa cukup, ia kembali melongok ke dalam, pelahan matanya mulai terbiasa melihat ke dalam ruangan gelap, hanya sinar matahati  minim yang menjadi penerangan.

Jovan tersentak kaget, ketika matanya mengenali sosok yang saling bertumpukan

"May, Kannika ...,"  pekiknya panik. Sekejab lupa kalau suaranya bisa membuat pengintaiannya ketahuan, jantungnya berdegub lebih kencang, kakinya gemetar, emosinya meluap, kemarahan membuatnya kehilangan rasa takut.

"May ... siapa yang melakukan ini padamu?" geram Jovan. "Apakah Aaron yang melakukan?" Dadanya bergemuruh, wajahnya tak lagi pasi, hawa panas mulai merambat membuat seringai sakit hati.

 Jovan mencoba melihat  lebih dalam lagi. Kali ini matanya tertumbuk pada sosok tak jauh dari pintu masuk. 

"Kla," pekiknya sekali lagi ketika melihat sosok yang tergeletak.  Pikirannya makin tak karuan, penasaran makin mendera, tangannya mengorek-ngorek, mencari kemungkinan kayu yang bisa dilepas lagi.

Beberapa saat usahanya berhasil, dua bilah kayu bisa dilepas sekaligus. Kini pandangannya lebih luas, beruntung badannya kecil hingga separuh bisa menerobos masuk.  Bau busuk makin kuat,  membuat harus menahan kepalanya yang mulai pusing. Namun, rasa penasaran membuatnya terus bergerak maju. Kini ia sudah berdiri tegak di tengah ruaangan berperang menahan bau busuk yang membuatnya ingin muntah. Tapi amarah dan rasa penasaran mengalahkan semua yang berkecamuk. 

Laki-laki itu menghampiri tubuh istrinya yang mulai membusuk, lelehan darah membeku mengeluarkan belatung yang berloncatan. Jovan memandang terpaku, tak tega untuk memeluk, ia hanya merasakan sesak yang membuncah, membuat dadanya seperti akan meledak. Diembuskannya nafas berat, putus asa .... Pelahan bangkit berdiri, mengambil beberapa gambar dengan ponsel, niatnya melaporkan pada yang berwajib, dan photo itu sebagai buktinya.

Ketika sedang mengambil gambar, sepasang mata coklatnya. menangkap serpihan baju yang telah koyak, samar masih bisa terlihat bercak darah mengering, dan di bawah balutan baju, berserakan seperti kerangka manusia yang masih ada sisa-sisa daging menempel di tulang. Jovan bergidik ngeri membayangkan. 

'Siapakah dia?" tanyanya dalam hati sambil mengambil gambarnya.

'Kalo melihat bajunya seperti perempuan, pasti salah satu kekasih Aaron juga,' batinnya bersenandika. Jovan mengenal beberapa wanita yang pernah menjadi kekasih Aaron, dan semuanya menghilang tiba-tiba setelah diketahui hamil.

'Jadi rupanya mereka dibunuh,'  Jovan kembali membatin. 'Tapi siapa? Apakah Jane?'

Belum habis rasa penasarannya, pandangan Jovan kembali menemukan satu sosok tergantung di sudut ruangan, ia mengucak matanya berulang agar dapat melihat lebih jelas. Meski sebagian tubuh hanya menyisakan tulang, tapi Jovan mengenali pakaian yang dikenakan sosok yang tergantung pada bagian leher tersebut.

"Karen," desis Jovan. 

'Apakah  satunya itu, Jane?' batinnya menerka. Seketika pikirannya kacau, ia mundur beberapa langkah untuk menenangkan pikiran. 

Suara langkah kaki mendekat, membuatnya mengejang seketika. Tubuhnya mendadak kaku, lututnya gemetar, kakinya seakan tertanam. Langkah itu makin mendekat.

"Ada orang rupanya." Suara kasar penuh kemarahan membuat keringat sebesar butiran jagung mengucur dari pelipis. 

"Cari mati rupanya ... berani ingin tahu urusan orang," geram pemilik suara yang makin mendekat, kali ini langkah kaki itu berdiri tepat di depan lobang yang kayunya ia bongkar.  Jovan merasa tubuhnya beku, tak satu mili pun mampu bergeser dari tempatnya. Lututnya lemas tak mampu menyangga bobot tubuhnya. Ia ambruk dengan wajah pias, menyangka ajalnya telah tiba.