Now Loading

Di Rumah Aaron

Part 3 - Di rumah Aaron

Sebuah rumah mewah di tepi jalan menuju arah luar kora, nampak sepi dan terkesan angkuh. Menyendiri, bangunan bergaya spanyol itu berdiri jumawa dengan segala kemegahannya.

Seorang laki-laki  menghentikan motornya di halaman rumah, yang meski megah, tapi berpagar hidup.  Rumpun Boksus yang terpangkas rapi, dibentuk agar tumbuh tinggi  menutup  bangunan dari luar.  

Kla --  laki-laki itu merasa perlu bicara pada sahabatnya. Berita menghilangnya Kannika dan May menjadi headline surat kabar daerah. Meski Kla tak punya bukti untuk menuduh Aaron sebagai pelakunya tapi ia yakin sahabatnya itu pasti tahu sesuatu tentang kedua gadis mantan kekasihnya tersebut.

Aaron yang sedang  berdiri di teras, membelalak kaget, tak menyangka dan harus menyambut kedatangan Kla dengan muka masam. Napasnya memburu tanda meredam ketidaksukaan, gesturnya gelisah seperti menyembunyikan sesuatu.

"Ada perlu apa?" tanya Aaron dingin tanpa basi-basi. Kla mengedikkan bahu, kesal dengan sambutan Aaron, tapi sudah terlalu biasa menghadapi sikap sahabatnya itu.

"Kamu baca berita hari ini?" tanya Kla memancing

"Tidak," jawab Aaron singkat

"Kannika dan May menghilang," ujar Kla.

"Apa urusannya sama aku?" tepis Aaron dingin.

"Apa kau pikir aku menyembunyikan mereka?"   

Kla menggelengkan kepala, kesal dengan sikap Aaron, tapi ditahannya. Ia butuh jawaban dari misteri hilangnya Kannika dan May.

"Bukan begitu, Bro ... aku kan cuma menyampaikan berita," kilah Kla merendah

"Nggak perlu, nggak penting buatku," ketus Aaron, dengan intonasi tinggi tanda marah mulai merambat.

"Slowly, Bro ... nggak perlu emosi, aku cuma nanya, apa kau sudah baca berita tentang hilangnya Kannika dan May," ujar Kla berusaha meredam emosi.

"Aku tak punya waktu membaca berita tak penting," dengkusnya kasar
"Dan itu sama sekali bukan urusanku," lanjut Aaron ketus.

"Atau kau menuduh aku yang menyembunyikan mereka?!"

"No ..., sorry, jangan salah paham ... tenang, Bro." Kla menggaruk kepala yang tidak gatal,  bingung mencari kata untuk memancing, Aaron begitu dingin dan ketus, ia tahu, laki-laki itu tak suka kehadirannya.

"Aku tak punya waktu, kalo cuma untuk membahas hal tak penting!"     ketus Aaron lagi, melangkah masuk meninggalkan Kla di teras.

"Eh, tunggu ...! Tunggu ...!" teriak Kla menahan, tapi Aaron sudah menghilang di dalam rumah  tak pedulikan Kla yang mengejarnya.

Kla menghela napas berat. Berdiri mematung ... pikirannya bingung, intuisinya mengatakan menghilangnya May dan Kannika ada hubungannnya dengan Aaron. Namun, bagaimana caranya memancing agar Aaron mau membuka kata tentang kedua mantan kekasihnya itu. 

Sekali lagi Kla menghela nafas berat, tak ada gunanya berlama-lama di situ. Ia berniat pulang untuk  menenangkan pikirannya dulu, melangkah gontai menuju motornya di parkir.

Tiba-tiba, entah dari mana asalnya, sebuah balok menghantam kepala Kla, laki-laki itu tersungkur, darah segar mengalir deras dari kepala, tak puas sampai di situ si pelaku menjambak kepala Kla dan memarutkan pada dinding tembok yang kasar dan mengentakkan berulang-ulang, hingga  laki-laki itu menyeringai menahan sakit, nyawanya diujung napas, si pelaku dengan sadis melilitkan tambang yang diambil dari kantong celananya, pada leher dan menariknya kuat-kuat,  membuat laki-laki itu tewas dengan mata melotot dan kepala remuk.

Setelah puas dengan apa yang dilakukan, si pelaku menyeret tubuh Kla yang sudah tak bernyawa dengan tambang yang masih melilit di leher. Laki-laki sadis itu menoleh sekeliling, memastikan situasi aman, lalu berjalan menuju sebuah bangunan tua yang terletak di lereng bukit, sekilas bangunan itu tak nampak dari luar karena tertutup ilalang setinggi tubuh manusia dewasa.

Dengan napas memburu, laki-lali yang masih menyeret tubuh berat Kla, mengambil kunci di sakunya dengan tergesa, lalu membuka pintu dan mengempaskan tubuh Kla di dalam ruangan, melemparkan sekuat tenaga, lalu menutup pintu kembali dengan tergesa. Setelah memastikan semua aman, laki-laki itu berlari kecil menuruni bukit menuju rumahnya.

Tanpa disadarinya sepasang mata sejak tadi mengawasi dari jauh. Rasa penasaran dan ingin tahu yang besar, membuat si pengintai  bergeming di tempat persembunyian, jantungnya berdegub kencang, meski takut, tapi ia bertekad untuk mencari jawaban atas hilangnya May -- istrinya, setelah bertemu dengan Aaron, mantan kekasihnya dua hari lalu.

Setelah situasi benar-benar sepi, Jovan -- laki-laki itu keluar dari persembunyiannya, dengan langkah berjingkat ia berjalan mengendap menuju motor Kla yang masih terparkir di tempatnya. Dengan cepat, diambilnya tas milik Kla yang masih tergantung di stang motor. Intuisinya mengatakan, pelaku sebentar lagi akan menghancurkan motor Kla, untuk menghilangkan barang bukti. Setelah mengambil tas milik Kla, dengan cepat Jovan kembali ke tempat persembunyiannya.

Apa yang diperkirakan Jovan benar, tak lama kemudian muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi, sekilas Jovan mengenali laki-laki itu, dialah Aaron -- mantan kekasih May, istrinya. Laki-laki itu  mengambil motor Kla, menyalakan mesin dan mengendarainya sampai di tepi jurang sekitar 100 meter dari tempat itu. Laki-laki tampan yang mengendarainya turun dari motor dan mendorong motor yang masih menyala mesinnya ke jurang, ledakan pun terjadi, motor terbakar habis di bawah jurang.

Jovan menahan napas, terpana kaget sekaligus ngeri, tapi ia hanya mampu bergeming tanpa suara. Dari tempat persembunyiannya, Jovan melihat Aaron kembali, mengitari sekeliling halaman untuk mengecek dan memastikan keadaan aman, Jovan menunduk di antara rumput liar, menahan napas sebisa mungkin,  beberapa kali Aaron melintas di depannya, dan berhenti sambil menyapukan pandangan ke sekitar, gelagatnya seperti mencurigai sesuatu,  beruntung tempat Jovan  sembunyi sedikit menjorok ke bawah hingga tak nampak dari tempat Aaron berdiri.

Setelah Aaron masuk kembali ke rumah, situasi kembali hening seolah tak pernah terjadi apa-apa. Jovan menghela napas panjang, perlahan mulai membuka tas milik Kla, berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk, tapi ia harus kecewa jarena tak menemukan apa-apa kecuali ponsel milik Kla. 

 Jovan menimbang sesaat, ragu ... akhirnya ia membuka ponsel milik Kla, mengecek pesan-pesan yang masuk, berharap ada petunjuk di sana. Matanya tertuju pada deretan percakapan  dengan Kannika, 'Malam itu Kannika berniat ke rumah May, tapi di jalan ia menemukan May terbunuh' setelah itu tidak ada lagi percakapan.

Jovan mengembuskan napas, matanya nanar ... jadi benar dugaannya, Aaron pelakunya, jika May dibunuh ...lalu di mana Kannika ? Atau jangan-jangan ... Kannika juga dibunuh? Pelakunya pasti Aaron, sudah bisa dipastikan. Tapi apa buktinya? Tak mungkin menuduh tanpa bukti .... Gudang ... ya, gudang itu ... Jovan ingat Aaron menyeret tubuh Kla dan memasukkan mayatnya ke gudang. Pasti kunci semua masalah adalah gudang itu, Jovan mengangguk-angguk, memasukkan ponsel dan dompet milik Kla ke saku,  serta  membuang tas yang telah kosong.