Now Loading

BAB 1

Kereta Commuter Line baru saja berangkat. Hiro terlambat.

Hanya ada seorang gadis yang menangis di stasiun CL. Dia duduk sendirian di bangku dekat peron, paling ujung dari pintu masuk namun paling dekat dengan pintu kereta khusus perempuan. Dia juga akan terluput melihat sayap gadis itu, jika dia tidak berdiri di sudut yang tepat. Perlahan-lahan peron stasiun kembali dipenuhi calon penumpang CL berikutnya.

Hiro menghampiri gadis itu, namun berhenti satu meter darinya. Dia bertanya-tanya berapa lama peri itu duduk meratap di sana, berapa banyak yang telah melihat sayapnya.

Mungkin belum, pikir Hiro. Jika seseorang sudah melihatnya, para petugas pasti telah menangkapnya dan mengantarkannya ke pihak yang berwajib sebelum para pengunjung lain memotretnya untuk diunggah di akun medsos. Peri dilarang menampilkan sayap mereka di depan umum.

Begitu muda. Mungkin kurang dari dua ratus purnama. Sayapnya masih tembus pandang, rona kuning hijau dan biru terlalu tipis, belum sejelas sayap peri dewasa. Dengan bertambahnya usia maka sayapnya akan semakin tebal, kuat dan indah. Setidaknya butuh waktu enam puluh purnama lagi.

Seorang pemberontak? Namun pemberontak tidak melakukan unjuk rasa sendirian, kecuali ada perkembangan terbaru yang tak didapatnya dari berita malam.

"Hai," sapanya setelah menemukan keberanian untuk berbicara.

"Maaf, tapi aku pikir kamu harus melipat sayapmu itu."

Gadis itu mendongak. Ekspresi kesedihannya nyaris mematahkan hati Hiro.

"Tidak bisa," katanya sesenggukan.

"Kamu tidak bisa?"

"Tidak," ulangnya dengan suara memelas.

"Sayapku tidak bisa terlipat."

"Bagaimana mungkin?" Hiro bingung.

"Oh, ya ampun, apakah kamu terluka?"

Gadis itu menangis. Hiro melirik ke sekitarnya dan melirik penjaga yang berjalan ke arah mereka.

"Kamu harus menutup sayapmu," kata Hiro. "Bisa-bisa kamu masuk penjara gara-gara itu. Ini, gunakan jaketku saja."

Gadis itu mengangguk. Hiro memasangkan jaketnya yang kedodoran di pundaknya. Kinyang sering menertawakannya saat ia memakai jaket yang lebih besar dua nomor itu. Tapi setidaknya jaket tersebut berhasil menutupi sayap peri mungil di depannya.

"Apakah semuanya baik-baik saja?"

Hiro nyaris melompat kaget saat penjaga itu berbicara.

"Ya, pak," jawab Hiro. "Adik saya... sakit kepala."

"Ada puskesmas di dekat sini."

"Saya mengerti, terima kasih."

"Turun tangga dan belok kiri."

"Baiklah," kata Hiro sambil berpamitan.

Penjaga itu pergi. Hiro kembali menatap gadis itu.

"Kurasa kita harus mengeluarkanmu dari sini," kata Hiro. "Kamu sebenarnya mau ke mana? "

"Pulang" jawab gadis itu, dan air matanya kembali menggenang.

"Kamu tak bisa naik kereta dengan sayap terbentang seperti itu."

Gadis itu diam tercenung.

"Aku tinggal dekat sini," kata Hiro. "Kamu bisa duduk di ruang tamu menunuggu sayapmu pulih. Atau kamu bisa menghubungi seseorang untuk menjemputmu. Kamu punya gawai?"

"Low batt."

"Kalau begitu, kita mengisinya nanti di tempatku." Hiro tersenyum.

"Aku Hiro, siapa namamu?"