Now Loading

Dalam Pelarian

Malam sudah tua, gelap menyelimuti suasana yang hening dan sepi, tak satupun penduduk bumi terjaga di kampung tempat tinggal Kannika, sesekaali ... hanya suara burung hantu menambah seram suasana.  Sesosok tubuh terlihat sedang mengendap pelahan, tangannya menenteng sebuah tas kecil berisi pakaian seperlunya.

Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, perempuan bertubuh semampai itu melangkah bergegas menuju mobil yang sengaja disembunyikan di belakang rumah, tak seorangpun bisa menemukan karena posisinya terhalang dua buah pohon besar dan semak setinggi tubuh manusia dewasa. Kannika berjalan berjingkat, tak ingin menimbulkan suara, sesekali menoleh kekiri dan kekanan, memastikan situasi benar-benar aman sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

Diempaskannya tubuh yang sedang mengandung ke bangku di belakang kemudi, menghela nafas panjang untuk meredakan debaran di jantungnya. Matanya nanar, berat meninggalkan rumah, dimana ia selama ini dibesarkan dalam kasih sayang orang tua dan kedua adiknya. Namun, satu kesalahan telah membuatnya harus meninggalkan orang-orang yang dicintainya, ia tak ingin keluarganya kelak ikut menderita akibat ulahnya.

"Maafkan Kannika, Ayah, Ibu, Dev, Flo ...," gumamnya lirih, dadanya terasa sesak, seandainya tak ada kata maaf pun, ia menerima akibat dari kesalahannya, ia hanya menjauh agar keluarganya tak menanggung malu lebih besar lagi. 

Kannika menghela nafas berat, tangannya meraih ponsel yang tergeletak di bangku samping, membuka layar dan mengetikkan sebuah pesan.

"Malam ini, berangkat menuju rumah May." Pesan dikirim dan dalam hitungan detik tanda centang dua berubah warna biru tanda pesan sudah dibaca. Tak ada balasan, tapi Kannika yakin Kla paham situasinya. 

Beberapa saat setelah merasa lebih tenang, Kannika mulai menjalankan mobilnya perlahan, tanpa menyalakan lampu melaju membelah kegelapan malam, mulutnya komat-kamit mengucap doa sebisa yang dia ingat, jantungnya terus berdegub kencang ... cemas kalau-kalau ada yang melihat kepergiannya.  Jika ada yang tahu ia meninggalkan rumah, pasti berita itu akan  sampai pada Aaron, dan laki-laki itu tak akan membiarkannya pergi. Satu-satunya yang tahu rencananya adalah Kla, tapi Kannika yakin sahabatnya itu bisa dipercaya.

Perjalanan menuju tumah May, lumayan jauh. Kannika terus menguatkan hati, 'aku tak boleh takut, aku harus kuat demi anak ini,' kata batinnya menguatkan diri sambil mengelus perutnya yang membuncit. Cuma di sana -- di rumah May yang menurutnya aman untuk sementara waktu, setidaknya sampai ia punya kekuatan untuk pergi keluar kota.

May -- sahabat kecilnya, yang punya kisah sama seperti dirinya. Dulu Kannika sempat cemburu teramat sangat pada May. Sahabatnya itu jauh lebih cantik, berdarah campuran China dan Belanda, membuat kecantikannya nyaris sempurna. Namun, perlahan seiring berjalannya waktu, rasa cemburu itu memudar. Rasa senasib justru membuatnya iba terhadap sahabatnya itu. Nyawanya hampir melayang ketika Aaron memaksa menggugurkan bayinya yang sudah berusia tujuh bulan.  

Keduanya sama-sama  pernah menjadi korban napsu kebinatangan Aaron, tapi May lebih dulu berhasil melepaskan diri dari  jeratan Aaron ketika tahu kebusukan hati laki-laki tampan tersebut.  May melarikan diri ke pinggiran kota, beruntung ia bertemu dengan Jovan yang bersedia menikahi dan menerima  masa lalunya, bahkan mereka sudah bahagia sekarang.

Laju kendaraan makin jauh meninggalkan kota, menembus udara yang mulai menghamparkan kabut,  dingin yang menusuk membungkus bumi.  Kannika mempercepat laju kendaraannya, tak ingin berlama-lama di jalanan, takut bertemu  anak buah Aaron di jalan. 

Suara burung hantu terdengar bersahutan ketika  mobil melewati hutan, pohon yang rapat temaram tak menyisakan celah bagi cahaya rembulan untuk menerobos masuk, udara semakin  dingin membuat tengkuknya menegang, bulu kuduknya meremang. Kannika menguatkan hati, berusaha  tetap fokus melajukan  mobilnya.

Tiba-tiba, sebuah benda menghantam kaca depan, seperti dilemparkan dari atas pohon, Kannika memekik kaget, mulutnya ternganga dengan mata membelalak. Benda serupa tubuh manusia itu merosot turun ke bawah, memaksa Kannika menghentikan laju mobilnya. Jantungnya berdegub kencang, rasa rakut dan ngeri menyerang, untuk sesaat Kannika hanya diam dengan nafas memburu, bingung memutuskan apakah tetap didalam mobil atau keluar ... melihat benda apa yang menghantam mobilnya. 

Ponselnya bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk, Kannika melirik sekilas pada benda pipih di sebelahnya, dengan gemetar, tangannya menyentuh layar ponsel ...

[Berani macam-macam, akan bernasib sama seperti dia]

"Aaron," desis Kannika,  seketika keringat dingin membanjir, wajahnya berubah pucat, menoleh panik ke kiri dan ke kanan, yang ada hanya sepi ... tak nampak satupun pergerakan manusia atau kendaraan melintas.

"Aaron," desisnya sekali lagi. "Pasti Aaron." 

Pikirannya mulai bergerak cepat, tetap di mobil atau keluar tidak akan ada bedanya, nyalinya mulai ciut.

'Apakah  Aaron tahu aku pergi meningglkan rumah?'  batinnya dalam ketakuran. 'Lalu, dia ... siapa dia yang dimaksud? Apakah sosok yang menghantam mobilnya itu yang dimaksud?"

"Tapi siapa, dia?"  Kannika bergeming, seluruh tubuhnya gemetar, nafasnya makin memburu,  'Apa yang harus aku lakukan?' 

Rasa penasaran dan ingin tahu tentang sosok yang tergeletak di bawah mobil, membuatnya mengalahkan rasa takut.

Pelahan, ia turun, setelah memastikan tidak ada orang disekitarnya. Kakinya mendekat pada sosok yang tergeletak  dibawah mobil, wajahnya tertelungkup menghadap ke bawah, tapi dari tubuhnya dapat dikenali itu seorang wanita, bercak darah memenuhi gaun yang dikenakannya.

Kannika bergidik, nafasnya tertahan ketika memandang sosok itu lebih seksama, seperti mengenal dan akrab dengannya. Kannika mengumpulkan keberanian untuk  melihat lebih dekat. Dengan ujung sepatunya, ia membalik tubuh sosok itu, tapi seketika bola matanya meloncat keluar.

"May!" pekiknya kaget. Diguncangnya tubuh perempuan bernama May, dingin dan kaku, ada beberapa  bekas tusukan di perut. 

"May...." lolongnya histeris, berharap ada yang mendengarnya berteriak, tangisnya tak terbendung. Segera tangannya mengusap layar ponsel, mencari sebuah nama, sambunganpun terhubung

"Kla," pekiknya dengan napas memburu. 

"Kla, tolong aku! May dibunuh ...." 

[Nikka ...] suara di seberang sana, terdengar berat dan Kannikka   mengenali suara itu bukan milik Kla.

[Sudah kubilang ... jangan main-main denganku.]

Seketika Kannika merasa lemas ketika kesadarannyya mengenali siapa laki-laki di seberang sana, ponsel dalam genggamannya terlepas ....

Selanjutnya, sebuah balok menghantam kepalanya, Kannika jatuh tersungkur, darah segar mengalir dari kepalanya yang nyaris terbelah dua.

*