Now Loading

Pesan Misterius dari Hua Ho Departemen Store

Kejadian malam minggu lalu masih terus menghantui fikiran saya sejak kembali di hotel. Malam minggu itu, seribu pertanyaan menemani saya yang baru bisa tertidur menjelang azan Subuh dini hari. Siapakah gadis yang menjadi sopir omprengan tadi malam, mengapa wajahnya sangat mirip dengan gadis di perahu mahligai?

“Bangun-Bangun, Ayo sarapan ”, teriak Azwar memekakkan telinga. Saya langsung melirik jam tangan dan tenyata sudah pukul 9 pagi waktu Brunei. Untung ini hari Minggu dimana kami semua tidak bertugas dan bisa sejenak bersantai di hotel.

Saya segera mandi kilat dan kemudian menyusul Azwar yang siap makan pagi di resto di lantai dasar hotel. Kami duduk di area terbuka ‘smoking area’ di dekat kolam renang mini . Tidak ada yang berenang dan selama tinggal di hotel ini kami memang tidak pernah melihat ada yang berenang.

“Sehabis makan pagi yuk kita pergi ke kantor pos. Saya sudah janji mau telpon pacar jam 10 waktu Bandung”, kata Azwar sambil mengembuskan asap dari rokok kretek Ji Sam Soe yang dibawa dari tanah air.

“Baik Saya juga mau menelpon ibu di kampung”, tambah saya langsung setuju. 

“Habis itu, kita jalan-jalan ke Yayasan, siapa tahu ada oleh-oleh yang bisa kita beli untuk dibawa pulang minggu depan, Istri dan anak-anak pasti menanyakan oleh-oleh nih”, sambung Bang Zai lagi.

Setelah selesai makan, empat sekawan dari Indonesia mulai beraksi kembali. Berjalan kaki meninggalkan hotel menyeberang jalan melewati Lapau yang ada tulisan ‘Adil Laila Bahagia’ dan terus menyusuri kaki lima Jalan Omar Ali Syaifuddin yang sepi. Ketika sampai di persimpangan Jalan Elizabeth II barulah kita belok kiri dan sampai di Kantor Pos Besar. Nama resminya dalam bahasa setempat adalah “Pejabat Besar Pos”.

Di dinding depan Kantor Pos ini banyak terdapat telpon umum yang menggunakan kartu sehingga kita bisa menelpon ke tanah air atau kemana saja. Di sini kita banyak menjumpai pekerja asing baik dari Indonesia, Filipina atau banyak negara lainnya. Mereka biasanya melepas rindu dengan keluarga di kampung masing-masing dengan menelpon. Dan di akhir pekan ini deretan telpon umum di kantor pos itu cukup ramai.

“Dari Indonesia Bang? tiba-tiba seorang gadis berusia duapuluh tahunan menegur saya sehabis saya meletakkan gagang telpon.

“Ya” jawab saya santai. Sudah cukup banyak pekerja wania yang menegur kami di Brunei dengan pertanyaan yang sama.  Walau kalau diperhatikan lebih lanjut  gadis ini bukan seperti pekerja wanita dari Indonesia.

“Sudah lama kerja di Brunei?’

“Baru satu minggu”, jawab saya sambil memperhatikan gadis ini lebih seksama.

Walau belum kenal, kita berdua langsung merasa akrab dan ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu Azwar yang sedang asyik telponan dengan pacarnya di Bandung.

“Kalau kangen bernyanyi dan mau ketemu banyak orang Indonesia malam ini Abang  dan teman-teman bisa datang ke Karaoke di food court lantai 5 di Gedung Parkir di depan Terminal”, demikian pesan Irma sebelum pamit  karena ditunggu temannya di Yayasan.

“Terima kasih atas infonya, Kami juga akan ke Yayasan sehabis ini”, jawab saya kemudian.

“Ayo cabut ke Yayasan”, ajak saya kepada Azwar, Eko, dan Bang Zai ketika mereka sudah selesai menelpon.

“Ayo” jawab mereka serempak dan kita kemudian menyusuri kembali Jalan Elizabeth Dua kemudian belok kira melewati Makam Raja Ayang. Dan terus lewat Jalan Omar Ali Syaifuddin, Gedung Pusat Royal Brunei, dan terus menyeberangi Jalan Cator hingga ke sebuah departemen Store kecil bernama Millimewah. Di sini kita belok kanan di Jalan McArthur hingga akhirnya sampai di Yayasan.

Bagian sayap timur Yayasan terdapat beberapa toko, restoran  Padang, Jolibee, money changer,  kita kemudian menuruni eskalator dan melewati Super Market Hua Ho yang ada di bawah tanah untuk sampai di Hua Ho Departmen Store yang menempati seluruh 3 lantai sayap barat mal terbesar di Brunei ini.

Di lantai satu banyak dijual pakaian dan kami sempat berbelanja beberapa lembar T Shirt Crocodile yang lagi Sale. Lumayan harga nya hanya 15 Ringgit.

Setelah itu kami naik eskalator ke lantai dua dan membeli berbagai macam souvenir khas Brunei seperti T Shirt, gantungan kunci dan juga tempelan kulkas. Walau harga relatif sedikit lebih mahal, namun harga pas nya membuat teman-teman lebih suka belanja disini. Walau kemudian, kami bisa tahu tempat-tempat lain yang menjual suvenir dengan harga lebih murah.

Setelah berbelanja, karyawan toko membungkus belanjaan dan memberikan bon kepada kami untuk dibayar di Juru Wang . Kami pun kemudian beratur alias antre di depan Juru Wang dimana saya kebetulan mendapat giliran terakhir.

Tidak ada yang istimwewa dengan gadis juruwang karena tampak biasa dengan seragam yang sama seperti karyawati yang lain. Ada yang orang Indonesia, ada pula yang orang Filipina.

‘Semuanya seratus tujuh puluh lima ringgit”, kata gadis itu sambil tersenyum manis.

Saya kemudian memberikan 4 lembar uang 50 ringgit dan menerima kembalian serta bonnya .

Setelah semua barang belanjaan ada di dalam plastik saya segera menyusul teman-teman yang sudah menanti di food court .

Ketika menyusuri tangga jalan di depan Super Market di bawah tanah, saya baru lagi teringat bahwa wajah juru wang tadi koq sangat mirip dengan gadis di Masjid Perahu,

Saya segera kembali ke kasir namun, kali ini kecewa karena ketika saya tanya, ternyata yang ada di kasir bukan lah gadis yang tadi.

Siapakah kasir tadi,?

Sambil makan di food court saya membuka dan melihat kembali barang belanjaan saya. Dan alangkah terkejutnya saya ketika di balik salah satu bon barang tertulis dengan tinta biru.

“Bang, temui saya malam nanti di tempat Karaoke di food court dekat Terminal Bus”

“Alamak”,. Siapakah sesungguhnya gadis di masjid perahu yang beberapa kali bertukar profesi baik sebagai supir omprengan semalam dan sekarang menjadi juru wang di Hua Ho?

Baiklah. Rahasia ini akan kita kuak malam nanti di karaoke!

Bersambung